Virus Corona dan Stigma

Erik Ebot*

Corona memang tidak hanya menebar ketakutan dan kepanikan massal. Ada satu penyakit turut lahir dari virus ini, yakni penolakan, stigma atau labeling terhadap sesama manusia.

Erving Goffman memberikan definisi dasar tentang stigma yaitu suatu atribut yang mendiskreditkan seseorang sebagai manusia yang “tidak sama seutuhnya” dengan manusia normal dan biasanya menuju ke dan sangat membawa dampak negatif bagi orang yang kena stigma.

Beberapa hari lalu, saya menonton video tentang sekelompok warga di Medan yang menolak proses pemakaman jenazah seorang pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 yang meninggal di rumah sakit Adam Malik.

Padahal, keluarga dari mendiang sudah mengikuti protokol keamanan soal pemakaman seseorang yang diduga Corona. “Kami tidak menerima mayat (pasien) Corona dikuburkan di tempat kami dan tidak mau ambulans masuk ke dalam wilayah kami,” ucap salah seorang warga setempat dalam rekaman video penolakan itu.

Selain itu, di beberapa daerah lain, ada 4 perawat rumah sakit Persahabatan di Jakarta Timur diusir dari kos mereka, karena ditakuti akan menyebar pun menjangkiti teman-teman kos lainnya. Karena penolakan seperti ini, mereka pun terpaksa bermalam di rumah sakit.

Tak bisa disangkal, saat ini pastinya di daerah kita, stigma dan penolakan terhadap sesama manusia seperti ini juga terjadi. Beberapa kisah penolakan seperti ini terdengar dan cukup membuat saya merasa miris dan kaget.

Ingat bahwa, penolakan dan stigma yang kita lakukan, bukan berarti kita dapat bebas dari teror virus ini.

Kita terbebas dari virus ini murni karena kita menjaga kebersihan diri kita, mengikuti tips-tips kesehatan untuk meningkatkan sistem imun tubuh dam ikut dengan baik aturan pemerintah, bukan dengan tahu dan mau menolak, bahkan sampai men-stigma sesama, yang sudah kena corona atau bahkan yang kita curigai terpapar Covid-19.

Selain itu, penolakan dan stigma kita terhadap orang yang sudah kena corona atau yang masih dalam pengawasan membuat/mengurangi kemungkinan untuk mereka sembuh. Dengan demikian kita juga menambah beban psikologis serentak mempercepat kematian mereka. Di sini kita menjadi pembunuh bagi sesama kita.

Ketika kita melakukan penolakan atau stigma terhadap sesama kita yang belum kena corona, mereka yang datang dari luar mau masuk kampung lalu kita tolak, hanya karena kita takut, secara psikologis akan membawa dampak buruk bagi orang yang kita tolak itu.

Dampaknya adalah ada kemungkinan orang yang kita tolak akan melakukan mengalami trauma sosial, menolak kehadiran yang lain dan yang paling parah, dia yang belum terpapar virus corona pun akan kena juga karena ada disorientasi perilaku yang disebabkan penolakan keji kita terhadap dirinya.

Memang langkah untuk menjaga jarak dari orang lain itu diperlukan sekarang, sebagai tindakan antisipatif agar penyebaran virus tidak semakin meluas, tapi langkah antisipasi yang kita lakukan, bukan berarti menolak mentah-mentah kehadiran yang lain di wilayah kita secara tidak manusiawi.

Pada titik ini, kita seharusnya bercermin diri dan bertanya, apakah, kita setega itu dengan sesama? Coba kita memikirkan kalau kita sendiri berada dalam posisi mereka yang ditolak? Pasti menderita, merasa terasing dan depresi. Penolakan apalagi oleh sesama adalah perasaan terburuk yang dialami manusia dan dampaknya sungguh akan memicu efek psikologis yang membuat orang yang ditolak menderita.

Karena itu, sebagai sama saudara-saudari yang berada dalam perahu kemanusiaan yang sama yang tengah diombang-ambing cukup keras oleh gelombang corona, kita seharusnya tidak menanggap diri dan ego kita yang paling penting. Kita butuh orang lain, entah yang masih sehat atau-pun yang sudah positif dan masih berada dalam pantauan tim medis, untuk berada dalam perahu kemanusiaan yang sama itu, sehingga perahu tetap dipenuhi banyak orang, tidak oleng dan tidak terjungkal ombak corona yang begitu besar menerpa perahu kita.

Karena itu, daripada menolak atau men-stigma sesama, lebih baik kita lakukan hal yang jauh lebih berguna dan menunjukkan solidaritas kita dengan mendoakan mereka yang sudah meninggal akibat corona atau yang masih dalam perawatan medis agar dapat memperoleh kesembuhan.

Kita menyumbang seperlunya untuk menambah kesediaan perlengkapan medis dan terhadap sesama kita yang datang dari luar daerah. Kita mengarahkan mereka atau lewat aparat desa meminta pemerintah daerah mengisolasi mereka dalam satu rumah khusus karantina daripada melakukan penolakan atau stigma yang sebenarnya tidak membawa kontribusi apa-apa untuk kemanusiaan kita.

Sejujurnya, stigma lebih berbahaya dari virus itu sendiri. Stigma adalah musuh yang paling berbahaya kemanusiaan. Stigma, labeling atau penolakan memperlihatkan kelemahan kita di hadapan musuh bernama virus corona.

Dengan stigma yang kita lakukan terhadap yang lain, kita membiarkan virus Corona melucuti hakikat kita sebagai manusia beragama, membutakan akal kita untuk berpikir mencari solusi terbaik dan menutup hati kita untuk melakukan, merasakan apa yang orang lain rasakan.

Cukuplah virus corona ini yang sudah menjarakkan dan mengasingkan kita dengan orang lain, kita manusia jangan. Cukup mantan yang kurang ajar saja yang kita jauhkan,tapi dengan orang-orang lain, jangan!

*Tamatan STFK Ledalero

TERKINI
BACA JUGA