Oleh Petrus Kanisius Siga Tage*
Milan benar-benar senyap. Tetapi, di dalam rumah sakit di seluruh penjuru kota itu, ada lebih banyak orang daripada yang diperkirakan, termasuk ratusan perawat yang sedang merawat pasien kritis dengan COVID-19. Valentina, seorang profesor dan praktisi klinik yang ada di salah satu rumah sakit di Milan, setiap hari sejak wabah melanda, membantu mengatur tempat tidur di pagi hari, dan pada sore hari, dia mengajar mahasiswa perawat secara daring.
“Kami membutuhkan perawat untuk melanjutkan pendidikan dan lulus, karena saat ini, kami membutuhkan perawat untuk bekerja menangani COVID-19.” Beberapa hari setelah kelulusan, murid-muridnya mengenakan alat pelindung diri untuk melayani pasien. “Kita harus melanjutkan pekerjaan kita. Kami kuat dalam situasi ini,” kata Valentina.
Di New Delhi, tempat kasus COVID-19 meningkat tajam, perawat Ajo Jose sibuk menyiapkan video pendidikan untuk mengajar perawat agar aman memakai masker dan kaca mata pelindung sepanjang hari, tanpa melukai wajah mereka sendiri. “Kami termotivasi,” kata Ajo. “Jika kita tidak melakukan ini sekarang, mungkin tidak ada kesempatan lagi.”
Di Uganda, negeri yang penuh sesak dengan kekerasan, perawat Harriet Nayiga tetap berhubungan dengan kliennya—kelompok wanita muda rentan yang biasanya dia dampingi masalah kesehatan dan reproduksi mereka. Sekarang, mereka semua harus tinggal di rumah. Nayiga tetap mengirim pesan singkat dan menelepon kliennya yang memiliki telepon, agar mereka tetap mendapat informasi dan aman. Dia khawatir, jika mereka tidak bisa dia jangkau masalah yang mereka hadapi akan semakin memburuk
Di Madrid, perawat Silvia Esteban Sepulveda memberi tahu kita bahwa karena pasien COVID-19 yang kritis diisolasi, sentuhan manusia terakhir yang mungkin mereka rasakan adalah tangan perawat. “Kami harus melakukan panggilan video ke anggota keluarga larut malam, sehingga mereka bisa mengucapkan selamat tinggal kepada kerabat mereka yang sekarat.”
Di Tiongkok,Liu Fan, wakil kepala perawat yang bekerja di Wuhan, harus menerima pukulan telak saat COVID-19 merenggut nyawa orang tua dan saudara lelakinya, karena virus yang tak sengaja ia bawa ke rumah di masa karantina.
Seorang perawat yang berbasis di New York, Grace Oghiehor-Enoma, memberi tahu kita hal penting, “Kondisi ini seperti saat Anda pergi ke medan perang. Anda melihat api, dan Anda berlari ke dalam api, tetapi tidak memikirkan diri sendiri. Itu adalah sikap tidak mementingkan diri yang dapat Anda lihat dalam dunia keperawatan hari ini.”
Mengapa perawat begitu berkomitmen? Grace memberi tahu kita bahwa “apa yang membuat saya tetap termotivasi adalah melihat pasien pulih. Melihat mereka dipulangkan dan kembali ke orang yang mereka cintai. Itu sangat menyenangkan.”
Di Semarang, seorang perawat RSUP Kariadi Semarang yang meninggal karena bertarung merawat pasien COVID-19, jenasahnya ditolak warga dan terpaksa harus dikubur terpisah dari sanak familinya.
Di sepanjang lintasan pulau Flores, di posko tanggap COVID-19 yang terletak di masing-masing pintu masuk kabupaten, perawat mengambil risiko besar untuk mencegah perluasan kasus dengan melakukan pemeriksaan kelompok berbagai populasi tanpa APD yang memadai dan standar kompetensi pengelolaan kasus infeksi yang sangat minim.
Agnes, perawat muda tamatan sekolah diploma yang bekerja di salah satu posko harus bekerja lebih dari 12 jam untuk memantau dan merapikan data kelompok ODP. Nomor kontak telpon genggamnya yang tertera pada selebaran posko terus berbunyi hingga ia pulang ke rumah. Di Kupang, beberapa perawat dengan balita dan lansia di rumah mengambil risiko untuk merawat pasien meski cemas karena menjadi pengalaman pertama, mereka menceritakan segala hal yang mereka kerjakan dengan rasa bangga.
Garis Depan
Dalam keadaan darurat kesehatan masyarakat yang luas dan dalam, sekali lagi, seperti biasa, kita melihat perawat berdiri di garis terdepan merentang sejak perang Crimean, wabah Spanish flu, Ebola, hingga COVID-19. Respon kerja perawat menyebar dari urusan mengelola klinik, bangsal, dan unit rumah sakit hingga tindakan preventif dan promotif di komunitas masyarakat. Meski bergulat dengan kekurangan peralatan yang sangat dibutuhkan termasuk peralatan pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan gaun, namun, secara aktif mereka tetap tekun memikul tekanan yang ditimbulkan oleh COVID-19.
Perawat berada di garis depan dalam mengelola populasi masyarakat yang sulit dijangkau dan bergulat dengan rendahnya literasi kesehatan masyarakat, kecepatan perubahan, dan informasi kesehatan serta kurangnya sumber daya. Perawat bertugas untuk memastikan agar semua tahu dan memahami apa yang diperlukan untuk menjaga kesehatan mereka. Tiga kali seminggu di beberapa Puskesmas di Flores, perawat berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk melakukan penyuluhan tentang COVID-19 dari pagi hingga petang.
Ketika perawat terlibat aktif dalam perjuangan melawan COVID-19 dan kita melihat mereka tampak tenang dan profesional, tetapi, tetap saja banyak perawat mengalami ketakutan akan hal-hal yang tidak dapat diprediksi oleh progresivitas pandemik. Selain menjadi perawat, mereka juga orang tua, saudara kandung, teman, dan mitra yang dapat menjadi beban tersendiri karena besarnya peluang bagi perawat sebagai agen penularan penyakit bagi orang terdekat mereka.
Di seluruh dunia, karena serangan COVID-19, ada kekhawatiran bahwa kapasitas fasilitas kesehatan untuk menyediakan tenaga keperawatan akan semakin besar karena meningkatnya beban kerja. Di Australia, pihak berwenang sedang mempertimbangkan berbagai mekanisme seperti penerimaan ulang perawat berkualitas yang mungkin baru saja pensiun dan memungkinkan pendaftaran terbatas untuk perawat berkualifikasi internasional. Di Inggris, ada juga panggilan untuk perawat yang baru saja pensiun untuk kembali bekerja.
Tantangan
Keterlibatan luas perawat dalam pandemi ini, bukan tanpa risiko. Dalam banyak kasus, mereka belum mendapat pelatihan khusus, kurangnya penyegaran, dan rendahnya pembaruan pengetahuan. Meskipun ada beberapa aspek keperawatan yang mungkin tidak berubah terlalu banyak selama bertahun-tahun, kesehatan umumnya merupakan bidang yang berkembang pesat dan khususnya dalam urusan pandemi ini. Bagaimanapun, sangat penting untuk memberi mereka pengetahuan dan sumber daya yang memadai, dukungan moril, alat pelindung diri, dan suplemen gizi penting untuk menjaga stamina.
Perawat umumnya bekerja karena keinginan untuk membantu orang agar kembali mendapat satatus kesehatan yang optimal, dan saat ini, mereka dihadapkan pada situasi di mana mungkin ada sangat sedikit pilihan untuk membantu mereka yang sakit parah karena COVID-19. Ketidakmampuan untuk menyelamatkan nyawa akan berdampak secara fisik maupun emosional.
Sebagai perawat, mereka bertemu dengan banyak kematian. Melihat orang-orang meregang nyawa, menyaksikan kesakitan, penderitaan orang yang sekarat dan kesedihan dari mereka yang ditinggalakan adalah keseharian yang sering dialami perawat. Untuk perawat, terutama di lingkungan di mana fokusnya adalah pada penyelamatan hidup, seperti di ruangan gawat darurat dan unit perawatan intensif, kematian dapat dilihat sebagai pertanda kegagalan, dan karenanya merupakan sumber stres dan tekanan bagi tim keperawatan dalam kondisi ini.
Ini adalah masa yang sangat sulit, dan skala tantangan belum pernah terjadi sebelumnya. Setiap orang dari kita memiliki peran dalam mendukung dan mengadvokasi status kesehatan komunitas dan mendukung perawat di mana pun. Perawat adalah tulang punggung sistem kesehatan di seluruh dunia, dan itu tampak semakin jelas ketika pandemi ini melanda.
Palajaran Penting
Kondisi ini mestinya dapat menjadi pelajaran penting bagi kita semua untuk kembali melihat profesi keperawatan sebagai profesi penting yang perlu didukung. Pandemi adalah titik balik agar kita kembali mengarahkan perhatian kita kepada perawat yang sebelum wabah ini terus berkutat dengan beragam persoalan.
Persoalan hilir semacam upah murah, “profesi kelas dua” yang jarang diapresiasi, tenaga sukerela yang terabaikan dan honorer dengan status kepegawaian yang kabur adalah persoalan umum yang jauh sebelum wabah ini melanda sering dialami perawat, mestinya dapat diselsaikan di masa mendatang dengan cepat.
Selain itu, upaya-upaya hulu semacam perbaikan tata kelola pendidikan perlu diperkuat. Kurikulum yang tanggap perubahan harus dipraktikkan secara luas. Ujian kompetensi berbasis asas kebutuhan harus diperjelas. Para mafia pendidikan keperawatan yang mengejar profit dengan mengabaikan kualitas lulusan perlu ditindak tegas tanpa kompromi. Buruknya tenaga perawat yang dihasilkan oleh pendidikan yang digerakkan oleh para mafia pendidikan yang tamak akan berdampak buruk bagi kualitas lulusan di dunia kerja.
Penuntasan pada dua aspek hulu dan hilir adalah sebaik-baiknya cara kita mendukung perawat yang telah berjuang di garis terdepan bagi keselamatan kita semua hari ini. Sejatinya, perawat tidak membutuhkan segala macam glorafikasi hambar dengan mengatakan perawat sebagai pahlawan COVID-19. Itu sungguh tidak penting.
Semoga para pemangku kebijakan dapat bersikap bijak dalam melihat persoalan ini alih-alih hanya menggunakannya sebagai komoditas politik di musim Pemilu seperti yang sudah-sudah. Sekali lagi, pandemi ini adalah kritik juga ruang belajar bagi kita semua untuk bisa menghargai peran perawat.
*Dosen Prodi Ners Universitas Citra Bangsa Kupang, Ketua Divisi Politik dan Hukum DPW PPNI NTT












