Urus Protap di Perbatasan, AMAN Minta Bupati di Flores Tanggalkan Sentimen Wilayah

Ende, Ekorantt.com – Perbedaan penerapan Prosedur Tetap (Protap) perbatasan antar-kabupaten di Flores menimbulkan pergunjingan yang panas di tengah usaha mencegah penyebaran Covid-19. Timbulnya beberapa kisruh di beberapa perbatasan kabupaten di Flores pun tak terelakkan.

(Baca juga:Heboh Aksi Penutupan Jalan Negara Berujung Maut, Ini Penjelasan Kades Hikong)

Menyaksikan kondisi tersebut, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Philipus Kami meminta bupati di Flores untuk menanggalkan sentimen wilayah.

“Jangan ada sentimen antar wilayah. Semua wilayah harus merasa saling support dan tidak saling mempersalahkan. Jadi kita minta para bupati di wilayah Flores harus bangun komunikasi dalam penanganan di wilayah perbatasan sehingga masalah kemanusiaan dan suplai logistik antar wilayah tidak terkendala,” jelas Philipus Ekora NTT di Ruman AMAN Nusa Bunga Ende, Senin (25/5/2020).

Sejauh ini Philipus menilai perbedaan aturan di perbatasan masing-masing kabupaten disebabkan lemahnya sistem koordinasi antar-kepala daerah, dalam hal ini bupati.

Padahal koordinasi antar-pemerintah daerah menjadi penting untuk penerapan pembatasan sosial di wilayah perbatasan.

(Baca juga:Satgas Covid-19 Kawal Jalan Tikus di Perbatasan Flotim-Sikka)

Selain itu, kepala daerah diminta untuk menggerakan tim gugus tugas untuk meningkatkan edukasi baik kepada masyarakat umum maupun kepada perangkat pemerintah agar seluruh mekanisme penanganan dapat terintegrasi secara tepat, akurat dan terukur.

Menurut Philipus, pandemi Covid-19 merupakan bencana nasional sehingga penanganan mesti dilakukan secara bersama-sama. Proses penanganannya mesti dilakukan secara terintegrasi sehingga aktivitas ekonomi dan urusan kesehatan tidak terkendala.

“Mekanisme penanganan mesti dilakukan secara terintegrasi antar-kabupaten. Edukasi secara dilakukan berkala kepada masyarakat paling bawah. Tim gugus tugas di perbatasan beri pemahaman tentang corona, bagaimana penyebaran dan yang terakhir Protap penanganan,” jelas Philipus.

“Jadi yang masuk ke wilayah kita itu adalah tamu. Itu dulu cara pandangnya. Tamu mesti dihormati. Jadi harus dengan senyum dan edukasi yang baik. Saya yakin kalau urusan tidak penting dan bukan soal kemanusiaan orang tidak mungkin jalan,” tutupnya.

TERKINI
BACA JUGA