Unik dan Kreatif, Pace Flo Sulap Honda Rongsokan Jadi Kedai Kopi Keliling

Larantuka, Ekorantt.com – Barang rusak layak untuk dibuang. Begitu pikiran kebanyakan orang. Tapi bagi orang-orang tertentu, ada ‘kehidupan kedua’ untuk setiap barang yang sudah menjadi rongsokan. Itulah yang dilakukan Florianus Pace seorang pedagang Kopi Keliling (Kopling), pria asal  Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur.

Berawal dari omelan sang istri terhadap kebiasaan nongkrong hingga larut malam bersama teman-teman komunitas pencinta motor jadul, ia terpacu untuk mengembangkan usaha kedai kopi.

“Saya punya kebiasaan begadang dan mengopi bersama-sama dengan teman komunitas sampai larut malam. Tiap kali pulang saya pasti dapat omelan dari istri. Jadi saya pikir, saya harus buat sesuatu dari kebiasaan saya ini untuk mendapatkan uang agar ketika pulang ke rumah istri saya tidak marah,” kisahnya.

Lalu, bagaimana caranya? Pace, begitu nama tenarnya, pun mendesain sepeda motor Honda C-70 buatan Jepang miliknya. Sepeda motor keluaran 1975 itu dibelinya dari tempat penimbang besi tua seharga 500 ribu rupiah.

Ia merancangnya menjadi sepeda motor roda tiga. Di kedua sisi motor, disediakan box sebagai tempat menyimpan alat-alat dan perlengkapan kopi. Permukaan box dijadikan meja, tempat memasak air dan menyeduh kopi bagi pelanggan.

“Jadi saya desain motor saya. Sekarang puji Tuhan, saya sedikit merubah motor saya menjadi kedai kopi keliling, bang,” ucapnya.

Pace menuturkan, ia hanya menyediakan modal usaha awal sebesar 300 ribu rupiah.

“Modalnya sebanyak 300 ribu rupiah, saja yang saya sisihkan dari uang gaji saya sebagai staf honor di kantor camat. Saya beli alat-alat standar dari youtube,” sebut Pace.

Sebelumnya, cerita Pace, dirinya bersama teman-temannya membuka usaha warung kopi di sekitar Waiwerang pada tahun 2018. Namun, usaha Warkop tak bernasib baik. Usianya hanya berjalan tiga bulan. Ditutup karena sepi pengunjung.

“Mungkin masalah lokasi yang kurang pas. Maka dari itu saya berusaha membuat konsep yang sifatnya lebih unik dan saya bisa jualan dimana saja”.

Pace mengaku sudah berjualan kopi keliling di Waiwerang sejak bulan Oktober 2019. Baginya, setiap usaha mesti didesain dengan unik. Tanpa konsep unik dan berbeda dari usaha lain, bisa dipastikan usaha itu gagal.

“Kuncinya harus unik, bang. Untuk zaman sekarang ini bang, kalau kita tidak unik maka kita tidak dapat perhatian dari sekitar kita bang. Saya juga berpikir bagaimana untuk menciptakan suasana ngopi yang baru dan harus unik,” kata Pace.

Fokus Kopi Lokal

Dalam menjalankan bisnisnya sebagai penyedia jasa kopi keliling, pria lulusan sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Universitas Panca Sakti Makassar ini memanfaatkan kopi lokal sebagai ciri khas usahanya.

“Saya fokus di Kopi Adonara, bang. Untuk sementara saya jual kopi Lite, kopi Lelen Bala, dan kopi Koli Petung. Tapi, ada juga kopi-kopi dari pertokoan yang lain seperti kopi sachet yang sudah siap diseduh seperti Kapal Api, Top Kopi, dan lain-lain. Tapi yang paling diminati adalah kopi-kopi lokal Adonara,” ungkap Pace.

Kian hari, tutur Pace, pelanggan bertambah. Bermula dari teman-teman sekomunitas, kini pelanggannya juga berasal dari kalangan pegawai kantor dan pegawai bank, hingga anak-anak muda yang nongkrong ketika jam-jam malam.

“Sekarang, saya masih melayani jasa jualan kopi di sekitar Waiwerang kota. Di mana saya lihat ada tempat yang pas, yah saya parkir disitu. Saya biasanya mulai dari jam 4 sore  sampai jam 10 malam. Terkadang untuk memenuhi permintaan pelanggan, saya melayani pesanan melalui via online, dari SMS, pesan inbox di facebook, maupun pesan via WhatsApp. Ya kita ikuti saja kenyamanan pelanggan,” tutur Pace.

Harga kopi dijual bervariasi. Dari 5 ribu rupiah sampai 7 ribu rupiah per gelas. “Kopi lokal 7 ribu rupiah per gelas. Kalau kopi sachet dari toko 5 ribu rupiah per gelas” jelas Pace.

Delapan bulan menjalani usaha kopi keliling, hasilnya sungguh di luar dugaan. Rata-rata permalam ia bisa mendapatkan 150 ribu rupiah.  Bahkan kalau ramai, ia bisa mendapatkan per malamnya 250 ribu rupiah hingga 300 ribu rupiah.

“Hitung-hitung dapat menambah pundi-pundi penghasilan keluarga. Minimal istri tidak marah ketika pulang rumah,” ceritanya sambil tersenyum.

Dijelaskan Pace, kebiasaan nongkrong sambil minum kopi sudah terlanjut menjadi gaya hidup orang muda. Oleh karenanya, bisnis Kopling adalah salah satu usaha yang menjanjikan.

“Saya hanya ingin mengajak orang muda untuk tidak malu cari uang. Tapi malu ketika mencuri uang. Kuncinya menangkap peluang-peluang usaha di sekitar tempat tinggal dan mendesainnya secara unik,” tegas Ketua Orang Muda Katolik (OMK) Dekenat Adonara ini.

TERKINI
BACA JUGA