Labuan Bajo, Ekorantt.com – Jemari Apolonia Uni begitu lincah. Sore itu ia duduk sembari menenun di lantai rumahnya di Melo, Desa Liang Dara. Ia sangat teliti. Di usianya yang 34 tahun, Apolinia tak pernah bosan untuk menenun. Baginya menenun adalah panggilan jiwa. Merawat ingatan. Juga menjadi sumber nafkah untuk keluarga.
Apolonia belajar menenun sejak 17 tahun. Ia diajari sang ibunda di kampung halamannya di Todo, Kabupaten Manggarai. Namun, sejak 2010, ia ikut suaminya, Syukur ke Melo, Desa Liang Dara, Maggarai Barat.
“Waktu itu saya belum bersuami. Ibu yang mengajarkan saya,” katanya saat ditemui Ekora NTT, di kediamannya, Sabtu (3/7/2021) sore.
Ia berujar, menenun adalah kewajiban. Bila ada yang pesan ia menenun. Bila tidak, ia juga tetap menenun lalu simpan di rumahnya. Siapa tahu ada yang datang untuk membelinya.
Apolonia mengatakan, harga setiap kain tenun tergantung motif. Misalnya, kain tenun Curak Todo. Ini biasanya lebih mudah. Butuh waktu dua minggu. Kain tenun motif Curak Todo dibanderol seharga Rp.500.000. “Bisa juga tawar kadang harganya Rp.400.000,” katanya
Selain Curak Todo, ia juga menenun Songke. Jenis ini lebih rumit. Butuh ketelitian. Sebab, motifnya beragam. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Apolonia. Bahkan, sehelai kain Songke membutuhkan waktu sebulan.
“Biasanya saya jual Rp.800.000. Kadang saya juga buat seledang. Itu saya jual Rp.150.000,” ujarnya.
Ia mengaku, untuk menghasilkan satu hasil tenunan, ia harus merogoh kocek senilai Rp.250.000 untuk membeli benang. Perlatan tenun juga masih tradisional.
Namun, kadang beberapa pelanggan menawarkan harga lebih murah. Bila kebutuhan mendesak, ia terpaksa menjualnya sesuai permintaan pemesan.
Di tengah pandemi Covid-19, ia sungguh merasakan dampak. Pesanan kian sepih. Pelanggan jarang datang. Di tengah situasi itu, tidak ada bantuan yang menghampirinya. Namun, ia tak putus asa. Ia yakin badai pasti berlalu.
“Walau selama Covid-19 tidak ada yang pesan. Saya yakin pasti suatu saat rezeki akan datang,” ucapnya.
Sandy Hayon












