Maumere, Ekorantt.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sikka menunjukkan lonjakan signifikan sejak Januari hingga awal Maret 2026.
Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Sikka, Petrus Herlemus mengonfirmasi, berdasarkan data terakhir per 3 Maret 2026 ada 176 kasus DBD. Dari total tersebut, satu orang meninggal dunia.
“Dari 176 kasus, terdapat ada 20 orang yang saat sedang dirawat, terdiri dari 15 pasien lama, dan lima pasien baru. 155 orang dinyatakan sembuh, dan satu orang dinyatakan meninggal dunia di Januari 2026,” ujar Petrus ditemui Ekora NTT di ruang kerjanya, Selasa.
Menurut dia, lonjakan kasus DBD sering kali memuncak pada musim tertentu, terutama pada bulan Maret. Namun dalam dua ahad terakhir agak baik dengan adanya program gerakan kebersihan.
Program tersebut diharapkan dapat berjalan dengan baik. Diharapkan pula penyelidikan epidemiologi oleh Dinkes bersama puskesmas berjalan baik untuk menurunkan kasus DBD.
“Semua tim puskesmas harus bergerak cepat melakukan pemberantasan sarang dan gerakan kebersihan lingkungan untuk mengendalikan lonjakan kasus DBD pada bulan Maret, dan membaik di bulan April,” ujar Petrus.
Ia menyebut, dari sisi wilayah, tiga kecamatan: Alok, Alok Timur dan Alok Barat menjadi penyumbang kasus DBD tertinggi.
“Namun gerakan Jumat Bersih bisa menekan kasus DBD dalam kota,” jelas Petrus.
“Ada penambahan kasus DBD, yakni di wilayah Kecamatan Waipare, Nita dan Kecamatan Magepanda,” sambung dia.
Menurut Petrus, tiga wilayah kecamatan dengan tingginya kasus DBD bukan karena kurangnya fogging melainkan sanitasi lingkungan yang buruk, dan rendahnya kesadaran masyarakat.
“Fogging itu alternatif terakhir jika terjadi kasus berulang di wilayah tersebut. Kita sarankan semua puskesmas segera melakukan fogging, jika ada kasus DBD di lokasi yang sama,” ujarnya.
Petrus menerangkan, kasus DBD pada umumnya terjadi pada anak usia sekolah, yakni lima hingga 10 tahun, serta orang dewasa yang kondisi daya tahan tubuhnya lemah. Sedangkan, bayi dan balita sangat minim.
Ia mengimbau kepada masyarakat untuk menekan kasus DBD dengan cara menjaga kebersihan lingkungan dimulai dari rumah sendiri dan gerakan Jumat Bersih melalui 3M Plus: menguras, menutup, dan mendaur ulang.
“Program Jumat Bersih tetap berjalan, tetapi kesadaran masyarakat rendah, kasus DBD tetap ada,” pungkas Petrus.













