Kupang, Ekorantt.com – Perempuan GMIT Jemaat Kota Baru, Kota Kupang meluncurkan program ‘Jumat Belajar’ di Pastori Ketua Sinode GMIT pada Kamis, 15 Januari 2026.
Program ini menjadi langkah awal dalam membangun ketahanan ekonomi jemaat melalui pengembangan produk pangan sehat dan organik.
Pelatihan dirancang berbasis praktik langsung, sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan yang siap dikembangkan secara ekonomi.
Kegiatan Jumat Belajar dipelopori oleh Pdt. Grace Pandie–Sjioen dan dilaksanakan bekerja sama dengan Sinode GMIT.
Program ini turut mendapat dukungan Wakil Ketua Komisi V DPRD Provinsi NTT, Winston Rondo, serta menghadirkan Ir. Zeth Malelak sebagai tutor dan mentor.
Pada pelaksanaan perdana, peserta dilatih mengolah buah mangga asal Semau menjadi jus mangga dan es krim mangga.
Pengolahan ini menjadi solusi atas persoalan klasik melimpahnya mangga pada musim panen yang selama ini belum dioptimalkan menjadi produk bernilai tambah.
Ketua Sinode GMIT, Pdt. Samuel Benyamin Pandie, menjelaskan, Jumat Belajar dirancang sebagai ruang pembelajaran produktif yang mendorong jemaat menghasilkan produk higienis, sehat, dan berdaya saing, sekaligus membuka peluang pembentukan UMKM berbasis gereja.
“Antusiasme peserta sangat tinggi karena proses belajar langsung diikuti dengan praktik produksi. Ini membuat peserta lebih percaya diri untuk mengembangkan produk secara mandiri,” ujarnya.
Samuel menilai program tersebut relevan dengan tantangan ekonomi ke depan. Pasalnya, Sejumlah indikator ekonomi global menunjukkan adanya potensi tekanan ekonomi pada tahun 2026, yang ditandai dengan melemahnya daya beli, pergeseran pola konsumsi ke kebutuhan primer, serta meningkatnya kebutuhan pangan sehat, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Tekanan inflasi dan fluktuasi nilai tukar rupiah juga dinilai memperberat kondisi ekonomi masyarakat.
Dalam konteks tersebut, menurutnya, Jumat Belajar menjadi salah satu bentuk mitigasi yang realistis dan aplikatif.
“Kelimpahan hasil kebun dan pertanian jemaat harus diolah menjadi produk inovatif yang sehat dan bernilai ekonomi, agar mampu menopang ketahanan keluarga,” katanya.
Lebih lanjut, Samuel menjelaskan, program ini dirancang untuk dapat direplikasi di berbagai jemaat dan klasis, dengan visi “Satu Gereja, Satu Produk Inovasi Unggulan.”
Program Jumat Belajar juga akan dilaksanakan secara rutin setiap pekan dan diharapkan menjadi salah satu program strategis GMIT.
Selain sebagai sarana peningkatan kapasitas, Jumat Belajar diarahkan menjadi inkubator inovasi produk jemaat yang terhubung dengan GG Mart sebagai ruang promosi, distribusi, dan pemasaran produk pangan UMKM GMIT.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Winston Rondo dan Ir. Zeth Malelak yang dinilai telah berkontribusi nyata dalam membangun semangat kewirausahaan Perempuan GMIT.
“Perubahan besar selalu diawali dari langkah kecil. Dengan konsistensi dan kolaborasi, Jumat Belajar diyakini dapat tumbuh menjadi gerakan ekonomi jemaat yang mandiri, sehat, dan berdaya saing,” pungkasnya.











