Maumere, Ekorantt.com – Bangunan darurat Sekolah Dasar Inpres (SDI) Borablupur, Desa Bura Bekor, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka ambruk dihantam angin kencang dan hujan deras pada Jumat, 23 Januari 2026 lalu.
Peristiwa ini menyebabkan empat ruang kelas tidak bisa digunakan karena hancur rata tanah. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) terpaksa dipindahkan ke rumah warga. Hingga kini belum ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sikka.
Tampak puluhan siswa harus berdesakan belajar di ruang tamu rumah warga setempat. Kondisi ruangan yang sempit membuat suasana belajar tidak nyaman.
“Belajar di ruang tamu yang berukuran 2×3 meter membuat kegiatan belajar mengajar sangat tidak efektif, dan menghambat konsentrasi belajar anak. Ukuran kelas ideal untuk SD itu sekitar 6×7 (meter),” ujar Kepala SDI Klotong, Valerianus S kepada Ekora NTT, Selasa, 3 Februari 2026.
Kata dia, ada berbagai tantangan yang dihadapi siswa menuju rumah warga untuk mengikuti KBM. Salah satunya, ada siswa yang rumahnya jauh satu kilometer dan harus melewati pohon besar.
“Kita takut ada pohon yang tumbang saat hujan deras dan angin kencang,” ujar Valerianus.
Pasca-kejadian, ia mengaku langsung datang ke Dinas PKO Sikka dan bertemu Plt Kepala Dinas yang lama, Rudolfus Ali sekaligus membuat laporan bencana.
Valerianus berharap, bangunan darurat dibangun secepatnya agar proses KBM berjalan efektif.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko mengatakan, kali ini ada tiga sekolah yang rusak akibat bencana. Ketiganya, yakni SDI Kecil Borablupur di Kecamatan Bola, SMP Gaikiu di Kecamatan Tanawawo, dan SDI Hagarahu di Kecamatan Nita.
Menurut Patrisius, insiden di SDI Hagarahu baru disampaikan pada hari ini, Rabu, 4 Februari 2026. Sedangkan SMP Gaikiu dan SDI Borablupur sudah disampaikan Selasa kemarin dan pihaknya sudah menindaklanjuti.
“Ada laporan, siswa SDI Borablupur belajar di rumah penduduk. Maka kami juga kaget. Karena ada satu unit bangun permanen yang bisa digunakan untuk KBM,” kata Patrisius saat ditemui Ekora NTT di ruang kerjanya, Rabu.
Kata dia, Dinas PKO telah mengutus tim ke SDI Borablupur untuk memastikan kondisi sekolah dan proses KBM. Karena sesuai laporan pengawas sekolah, siswa belajar di posyandu. Sementara laporan dari media siswa belajar di rumah warga.
“Saya masih ragu, sehingga hari ini saya utus tim untuk turun ke Borablupur untuk memastikan langsung. Jika terjadi siswa belajar di rumah warga, maka saya meminta KBM dipindahkan ke bangunan permanen yang sudah disiapkan,” ujarrnya.
Menurut Patrisius, jumlah siswa SDI Borablupur hanya 32 orang yang ia nilai rombongan belajar (rombel) kecil. Satu rombel kurang lebih delapan orang.
Kalau empat rombel bisa menggunakan bangunan permanen, katanya.
“Saya minta guru dan orangtua siswa untuk membuat sekat ruangan menjadi empat ruang kelas untuk anak-anak belajar dengan nyaman,” ujar Patrisius.
Patrisius menambahkan, KBM di SMP Gaikiu untuk sementara menggunakan fasilitas sekolah tetangga. Sekolah pagi SD, dan siang SMP.
Kebutuhan jangka panjangnya, kata Patrisius, SDI Borablupur belum masuk dalam program anggaran tahun 2026. Langkah yang diambil akan menggeser ke anggaran perubahan.
Sementara SMP Gaikiu sudah masuk dalam program anggaran 2026 untuk pembangunan satu unit gedung dengan tiga ruang kelas.











