Uskup Maksimus Regus Raih Gelar Guru Besar Sosiologi Agama

Kemudian secara sosial-pastoral, guru besar tentu saja menambah dimensi baru dalam horizon pastoral saya sebagai pelayanan umat dan Gereja.

Ruteng, Ekorantt.com – Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Monsinyur Maksimus Regus meraih gelar guru besar atau profesor pada bidang dalam bidang sosiologi agama atau multikulturalisme.

Gelar tersebut berlaku sejak 1 Januari 2026 sesuai Keputusan  Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 1767/M/KPT.KP/2006 tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen.

Bagi Uskup Maksimus, anugerah guru besar ini mempunyai makna penting. Secara akademik, kata dia, jabatan akademik guru besar adalah sebuah pengakuan atas komitmen dan dedikasi, juga sebagai panggilan untuk menunjukkan kontribusi saintifik yang berdampak bagi kehidupan.

Kemudian secara sosial-pastoral, guru besar tentu saja menambah dimensi baru dalam horizon pastoral saya sebagai pelayanan umat dan Gereja.

“Semoga guru besar ini memperkuat wawasan pelayanan kegembalaan bagi umat dan kehidupan,” katanya ketika dihubungi Ekora NTT pada Rabu, 4 Februari 2026.

Maksimus mengisahkan perjalanan akademiknya yang paling menantang hingga meraih gelar guru besar saat ia menjalani proses penyelesaian proyek doktoralnya di Belanda.

Topiknya kala itu terbilang sensitif, karena membahas kekerasan sosial politik yang dialami salah satu komunitas keagamaan minoritas di Indonesia.

“Saya harus mengunjungi sejumlah tempat yang diasosiasikan dengan pengalaman diskriminasi komunitas minoritas tersebut. Tidak mudah dalam proses mengumpulkan data karena harus melakukan wawancara dan observasi langsung,” tuturnya.

Kendati cerita tersebut paling menantang secara akademiknya, namun pengalaman-pengalaman perjumpaan dengan para informan dapat membentuk Uskup Maksimus secara sosial-kemanusiaan.

Uskup Maks, sapaan akrabnya, mengaku tidaklah adil bila memilih yang paling berpengaruh ketika Ekora NTT menyentil sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan karier akademiknya.

“Karena semua pendidik pada masing-masing level pendidikan memberikan pengaruh signifikan.”

Namun pengalamannya dengan mentor doktoralnya seorang ahli Indonesia, Professor Herman L. Beck di University of Tilburg, tidak saja memperkayanya secara akademik, tetapi memperdalam pemahamannya tentang kehidupan, kebaikan hati, dan semangat kesetaraan.

“Fokus pelayanan akademik saya adalah ilmu sosial dan secara khusus dalam kajian-kajian sosiologi agama dan multikulturalisme sesuai dengan bidang penugasan guru besar ini,” ungkapnya.

Menurutnya, posisi keilmuan ini tentu beririsan dengan berbagai macam dimensi kehidupan yang bersentuhan langsung dengan posisi dan peran agama, yang dalam konteks ini dapat ditempatkan sebagai salah satu institusi sosial penting, terutama dalam konteks Indonesia.

Salah satunya adalah berusaha memberi makna yang semakin kuat dalam peran agama atas berbagai persoalan sosial, khususnya krisis ekologis yang sedang kita hadapi saat ini.

“Lebih lagi, di Indonesia, agama sebagai sumber energi spiritual, juga mesti menjembatani proses-proses transformasi kehidupan yang mengarah pada kebaikan semua tanpa dominasi atau berikhtiar mengikis relasi dominatif antarkelompok sosial dan keagamaan,” tuturnya.

Maks menambahkan peran guru besar tentunya tidak terlepas dari Tri-Dharma Perguruan Tinggi. Dengan demikian guru besar dapat menyediakan pemikiran-pemikiran yang lebih luas, lebih terbuka, lebih inklusif, konstruktif melalui inovasi-inovasi keilmuan.

“Jadi, guru besar itu harus bergerak di atas posisi akademis, dengan memperlihatkan nilai-nilai yang diprasyaratkan bagi kemajuan bangsa.”

Maks juga menyampaikan pesan untuk dosen muda atau mahasiswa yang ingin meniti karier akademiknya. Kerja keras, ketekunan, komitmen adalah sedikit dari sekian banyak nilai yang harus dimiliki dosen muda dan mahasiswa yang ingin meniti karier sebagai akademisi di Indonesia.

“Di tengah keterbatasan yang dihadapi komunitas akademik Indonesia dari berbagai aspek, pengembangan karier akademik selalu mengandaikan dedikasi individu sebagai prasyarat utama, baru kemudian kehadiran aspek atau aktor lain seperti kampus dan lembaga-lembaga lain,” harapnya.

Uskup Maks merupakan dosen aktif di Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, kampus swasta yang berbasis di ibu kota Kabupaten Manggarai, NTT.

Ia terpilih menjadi Uskup Labuan Bajo pada pada 21 Juni 2024. Sebelum jadi uskup, ia adalah Rektor Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng

Rektor Unika Santu Paulus Ruteng, Pastor Agustinus Manfred Habur mengatakan, penetapan guru besar ini lahir dari ketekunan akademik, integritas ilmiah, serta komitmen jangka panjang para dosen dalam mengembangkan tridarma perguruan tinggi.

Menurutnya, capaian ini tentunya menjadi tonggak penting bagi penguatan mutu akademik dan reputasi institusi.

“Kehadiran para profesor dan memperkuat struktur akademik sekaligus menjadi motor penggerak budaya riset, kolaborasi lintas disiplin, dan transformasi intelektual di kampus,” ungkapnya.

Selain Uskup Maks, dosen lainnya yang menyandang gelar guru besar adalah Sabina Ndiung. Dia guru besar pada bidang pembelajaran matematika pendidikan dasar atau asesmen pembelajaran matematika.

Keduanya menambah daftar jumlah profesor di kampus itu dengan total hingga sebanyak lima orang.

TERKINI
BACA JUGA