Dinkes Manggarai Catat 42 Kasus Diduga Keracunan Makan Bergizi Gratis

Ia berkata, kasus yang ditemukan ini melibatkan berbagai kelompok masyarakat, meliputi ibu hamil, anak balita, anak sekolah, guru, serta orang tua.

Ruteng, Ekorantt.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai mencatat sebanyak 42 kasus yang diduga keracunan makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama dua hari terakhir.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Jefrin Haryanto menjelakan, dari jumlah tersebut 39 kasus dari Puskesmas Ponggeok dan tiga kasus dari Puskesmas Iteng.

Dua puskesmas ini berada di Kecamatan Satarmese, wilayah bagian selatan Kabupaten Manggarai.

“Dari jumlah tersebut, sebanyak 16 pasien menjalani perawatan rawat inap, sementara lainnya mendapatkan penanganan rawat jalan,” ungkap Jefrin kepada Ekora NTT pada Kamis, 12 Februari 2026.

Saat ini masih dalam proses penanganan dan investigasi epidemiologi, kata Jefryn.

Ia berkata, kasus yang ditemukan ini melibatkan berbagai kelompok masyarakat, meliputi ibu hamil, anak balita, anak sekolah, guru, serta orang tua.

Seluruh kasus yang dilaporkan, tuturnya, memiliki riwayat konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan di sekolah dan posyandu dengan menu yang sama.

MBG merupakan program nasional pemerintah Indonesia yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto sejak 2025.

Pada 10 Februari, menu MBG yang dikonsumsi terdiri dari nasi, telur, tempe, kacang panjang, serta buah salak sebagai penutup.

Sedangkan sehari berselang, 11 Februari, nasi tetap menu utama, ditemani ayam, labu, dan jagung.

“Gejala yang paling banyak dilaporkan antara lain diare, nyeri perut, demam, dan sakit kepala,” jelas Jefryn.

Saat ini, penyebab pasti kejadian tersebut masih dalam proses penyelidikan.

Ia menerangkan, saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai bersama tim terkait melakukan investigasi epidemiologi serta pemeriksaan sampel makanan dan spesimen pasien untuk memastikan sumber penyebab kejadian.

“Dinas Kesehatan juga mengantisipasi kemungkinan adanya tambahan kasus yang datang berobat, sehingga seluruh fasilitas pelayanan kesehatan terkait telah disiagakan untuk memberikan pelayanan dan penanganan optimal kepada masyarakat,” jelas Jefryn.

Selain itu, kata dia, puskesmas di wilayah terdampak telah diinstruksikan untuk melakukan penelusuran kasus secara aktif.

Upaya tersebut guna menemukan masyarakat yang mengalami gejala serupa, tapi belum mendapatkan pelayanan kesehatan.

Jefryn mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala diare, nyeri perut, demam, atau keluhan lain setelah mengonsumsi makanan.

“Tetap menerapkan prinsip keamanan pangan dan kebersihan makanan,” imbuhnya.

Jefrin juga meminta agar tidak panik sembari menunggu informasi resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai.

“Perkembangan situasi akan terus disampaikan kepada masyarakat secara berkala,” ungkapnya.

Baru-baru ini di wilayah tersebut, ratusan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Ulu Belang, Kecamatan Satarmese absen ke sekolah akibat diduga keracunan MBG.

Kepala SDN Ulu Belang, Lena Lensiana Ije ketika berbicara dengan Ekora NTT membenarkan bahwa aktivitas kegiatan belajar mengajar di sekolahnya diberhentikan sementara.

“Untuk sementara KBM diberhentikan sementara karena memang masih ada anak yang sakit,” ungkapnya pada Kamis, 12 Februari 2026.

Ia mengaku pelajaran di sekolah hari ini hanya sampai pukul 10.00 karena siswanya masih mengalami sakit dan tengah dirawat di Puskesmas Ponggeok.

Puskesmas ini jaraknya sekitar 10 kilometer dari sekolah tersebut.

“Kami juga tidak tahu penyebabnya karena apa,” ungkap Lena.

TERKINI
BACA JUGA