Ruteng, Ekorantt.com – Puluhan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Rabok yang berlokasi di Desa Loce, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur masih mengikuti kegiatan belajar mengajar di gedung reyot.
Bangunan tersebut terbuat dari pelupuh bambu, berlantai tanah serta atapnya menggunakan seng seadanya. Hari-harinya, para siswa yang tengah menapaki pendidikan hanya berlindung di bawahnya
Meski demikian, para siswa serius belajar seperti biasa. Di antara mereka ada yang mengenakan sepatu, sebagiannya lagi hanya beralaskan sandal saja.
Bangunan SDN Rabok berjarak sekitar 100 kilometer dari Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai.
Kepala SDN Rabok, Xaverius Son mengatakan, bangunan tersebut merupakan bangunan darurat yang dibangun secara swadaya oleh para orangtua siswa pada pertengahan 2023 lalu.
Mulanya, gedung itu hanya dirancang untuk dua ruangan kelas. Tetapi, pihak sekolah membuat lagi sekatan baru, sehingga menjadi empat ruangan.
“Di dalamnya pakai sekat,” kata Xaverius kepada Ekora NTT pada Selasa, 17 Februari 2026.
Dari empat ruangan ini, dua ruangan kelasnya untuk kegiatan belajar mengajar. Sedangkan duanya lagi difungsikan untuk ruangan guru dan ruangan kepala sekolah.
Ia bilang, alasan dibangunnya gedung darurat karena minimnya fasilitas ruangan kelas di sekolah. “Karena memang tidak ada gedung.”
Sebelum itu, aktivitas belajar mengajar siswa dan guru berlangsung di teras gedung lama sebelum gedung darurat dibangun. “Dulu, di situ sementaranya. Mau di mana lagi?”
Proses belajar mengajar memang berjalan sebagaimana mestinya, tutur Xaverius. Namun, bila musim hujan tiba, atap gedungnya “sering kali bocor”. Air hujan bisa sampai ke ruang kelas melalui sela-sela dinding.
“Kami pernah alami itu saat cuaca hujan,” ujarnya.
Para siswa pun terpaksa berkumpul sementara di gedung permanen dan aktivitas belajar mengajar diberhentikan sementara, sembari menanti hujan reda.
Salah satu bangunan permanen di sekolah itu yang dibangun 2024 dengan sumber anggaran Dana Alokasi Umum (DAU). “Yang permanen ada dua gedung. Satunya dibuat sejak 2016,” katanya.
Pada 2016, sekolah yang memiliki 31 orang siswa ini beralih status dari Tambahan Ruang Kelas (TRK). Meski sudah terbilang lama, kondisi ruang kelasnya masih terbatas.
Xaverius menurutkan, pernah menyampaikan keluhannya kepada dinas terkait, tapi tidak terealisasi. Dalam laporan asetnya, ia hanya melaporkan dua gedung permanen itu.
“Baru setiap tahun kami lapor sarpras, to. Kekurangannya. Tapi tidak ada realisasinya,” jelasnya.
Dia menerangkan, orangtua murid sering kali menyampaikan keluhan untuk mendirikan bangunan baru. “Mereka keluhan yang sama,” katanya, sembari berharap ada perhatian dari pemerintah.
Cari Jalan Keluar
SDN Rabok memang hanya memiliki 31 siswa. Tetapi, jumlah siswa yang sedikit bukan berarti tidak mendapatkan ruang kelas yang layak.
“Kita tidak menginginkan bahwa berapa pun jumlah siswa itu mereka sekolah di gedung yang kondisinya seperti itu,” kata anggota DPRD Kabupaten Manggarai, Aven Mbejak ketika dimintai komentarnya pada Rabu, 18 Februari.
Sebagai wakil rakyat, ia berjanji akan berkomunikasi dengan pemerintah daerah untuk mencari jalan keluar.
“2027 kita upayakan. Harapan kita, moga-moga kembali kondisi keuangan daerah ini sudah sangat baik sehingga itu nanti bisa dianggarkan,” kata Aven.
Ia berkata, pada 2025, rencana pembangunannya memang ada, namun tidak terealisasi imbas efisiensi anggaran.
Penyebaran proyek 2026, kata dia, hampir tidak ada pembangunan ruang kelas yang sumbernya dari DAU.
“Tentu ini kembali ke kondisi keuangan daerah, terutama daerah kita yang efisiensi cukup besar,” ujar Aven, yang juga politisi PDI Perjuangan itu.
Penelusuran Ekora NTT, pemangkasan dana transfer pusat untuk Kabupaten Manggarai tahun 2025 sebesar Rp69 miliar.
Pemotongan ini diberlakukannya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Anggaran.
Rupanya pangkasan anggaran ini demi mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan wakilnya Gibran Rakabuming.
Program Revitalisasi
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Wensislaus Sedan mengatakan, pihaknya akan mendampingi sekolah tersebut agar mendapatkan akses dalam program revitalisasi.
Program revitalisasi yang disebut Wensislaus merupakan inisiatif pemerintah untuk memperbaiki, membangun, dan memodernisasi sarana prasarana satuan pendidikan secara masif guna menciptakan lingkungan belajar yang aman, layak, dan berkualitas.
“Namun untuk tahun 2026 sekolah ini (SDN Rabok) masih belum termasuk sekolah sasaran revitalisasi,” tutur Wens ketika berbicara dengan Ekora NTT.
Pada tahun 2006, dinasnya akan bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk melakukan penilaian secara teknis terkait kebutuhan ruangan di sekolah.
“Kita semua punya perspektif yang sama untuk kemudian semua sekolah mulai dari ruangan kelas sampai pada ruangan yang lainnya terpenuhi standar kelayakannya,” tuturnya.
Dengan begitu, aktivitas belajar para siswa dan guru dapat berjalan aman.
Ia menambahkan, dinasnya telah mendampingi semua operator soal keberadaan ruangan ataupun peserta didik yang ada di sekolah. Pihaknya mempunyai kewajiban untuk memverifikasi dan memvalidasi kebenaran data yang di-upload oleh sekolah.
Dengan demikian, kebenaran validitas daftar ruang kelas maupun kebutuhan ruang kelas di sekolah kementerian tetap merujuknya ke data pokok pendidikan (Dapodik).
“Kalau kita tahu bahwa program revitalisasi sebetulnya, sekolah itu terakses atau masuk dalam rencana revitalisasi atau tidak itu tergantung ada validitas data tokoh pendidikan yang ada di sekolah,” tandas Wensislaus.












