Suster Ika, Perdagangan Orang, dan Struktur yang Pincang

Di tengah kabut gelap seperti ini, sosok seorang biarawati dalam gereja Katolik bernama Suster Fransiska Imakulata dari Tim Relawan Untuk Kemanusiaan (TRUK) memilih berdiri di garis depan.

Oleh: Rafael Lumintang*

Di sebuah daerah kecil di Timur Indonesia, tepatnya di Maumere, Nusa Tenggara Timur, modernitas memperlihatkan sisi paradoksalnya. Ia datang secara lembut membawa janji kemajuan, tetapi meninggalkan luka yang sunyi.

Perempuan-perempuan muda dirayu oleh mimpi pekerjaan dan tentunya masa depan, lalu terperangkap dalam jaringan gelap perdagangan manusia. Tubuh mereka dihitung seperti barang, dinilai seperti komoditas, dan dipindahkan seperti objek tanpa sejarah.

Di tengah kabut gelap seperti ini, sosok seorang biarawati dalam gereja Katolik bernama Suster Fransiska Imakulata dari Tim Relawan Untuk Kemanusiaan (TRUK) memilih berdiri di garis depan. Dengan rasa keberanian yang lahir dari iman dan kemanusiaan, ia memberanikan diri untuk menyelamatkan para korban TPPO yang terkurung di Sikka.

Dikutip dari Media CNBC Indonesia, Gubernur Provinsi Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi menelepon seorang biarawati/suster Katolik asal NTT yang membongkar kasus perdagangan manusia atas 13 perempuan asal Jawa Barat.

Dalam unggahan di Instagram pribadinya, pria yang akrab disapa kang Dedy Mulyadi (KDM) itu menghubungi Suster Fransiska Imakulata (Ika) lewat video telepon. KDM meminta Suster Ika menjelaskan kronologi dari aksi heroiknya itu.
Suster Ika bercerita, mulanya ia menerima pesan Whatsapp dari satu dari 13 korban TPPO yang diperkerjakan sebagai lady companion (LC) di sebuah klub malam di Sikka.

Perempuan malang itu, disebut Suster Ika, depresi karena dikurung di kamar dan tidak boleh keluar. Suster Ika lantas menghubungi Polres Sikka untuk menyelamatkan para korban TPPO. Kemudian Suster Ika dan rekannya masuk ke dalam klub itu sementara tim kepolisian siaga di luar.

“Jadi ketika korban lihat kami, langsung dia keluar, lari dan dalam ketakutan. Badannya gemetar semua, lalu menangis dan saya berusaha untuk menenangkan dia,” cerita Suster Ika, dikutip video percakapan keduanya yang diunggah Dedy Mulyadi di akun Instagram resminya, dikutip Sabtu, 21 Februari 2026.

Kehadiran Suster Ika bukan dengan kuasa, tetapi dengan sikap empati yang sangat dalam. Ia tidak membawa senjata, melainkan harapan akan makna keutuhan dan martabat manusia yang harus dijunjung tinggi.

Dalam langkah-langkah sunyinya, ia menolak dunia yang membiarkan perempuan dijual. Keberaniannya sederhana, tetapi justru karena itu ia menjadi radikal, ia membuktikan bahwa kasih masih mungkin di tengah sistem yang ‘dingin’.

Sekali lagi ironi tetap menggema dalam hal ini, mengapa keselamatan sering lahir dari keberanian individu, sementara struktur besar berjalan lambat atau saya sebut ‘pincang’? Mengapa suara kemanusiaan harus berjuang sendirian?

Pertanyaan eksistensial dan barangkali juga struktural ini bukan sekadar kritik, melainkan gugatan terhadap sikap permisif kita manusia. Sebab krisis terbesar bukan hanya perdagangan manusia, melainkan hilangnya keberanian untuk peduli.

Pasar yang Melahap Martabat

Kapitalisme global, sejauh saya paham, mengajari manusia memandang dunia sebagai etalase monster yang mengerikan, segala sesuatu dipajang, diberi harga, lalu ditawarkan pada hasrat yang tidak pernah merasa kenyang. Value atau nilai tak lagi berakar secara keras pada martabat manusia, melainkan direduksi pada angka, keberhasilan bukan lagi soal makna, tetapi soal akumulasi.

Ketika tubuh manusia ikut terpenjara dalam aritmatika pasar, tragedi berhenti menjadi peristiwa, jejak, keutuhan, melainkan ia menjelma menunjukkan topeng yang duduk nyaman dalam sistem.

Perdagangan manusia bukan sekadar kejahatan gelap, tetapi bayangan logis dari dunia yang terlalu lama menyembah atau mendewa-dewakan laba.
Perempuan dan tubuhnya direduksi secara brutal menjadi statistik picik, menjadi baris kecil dalam laporan keuangan yang tak pernah memuat apa artinya air mata. Relasi dialektis antar sesama manusia mengeras atau membeku menjadi transaksi, sentuhan berubah menjadi kontrak disparitas.

Dunia mungkin terasa lebih bergerak secepat kilat, peradaban sedang berdiri di tepi jurang yang sunyi-senyap. Sebab kehancuran terbesar bukanlah ambruknya gedung-gedung tinggi, melainkan ambruknya kesadaran bahwa setiap tubuh adalah kehidupan yang tak ternilai, meski dibandingkan dengan jabatan, popularitas, dan kekayaan.

Diam yang Menjadi Struktur

Hemat saya, hal yang lebih berbahaya dari pelaku adalah budaya diam yang melingkupi mereka, ibarat malam tanpa bintang. Ia tidak gaduh, tidak memaksa, tetapi menjalar secara halus dan perlahan, meninabobokan keberanian satu demi satu.

Ada begitu banyak orang mengenali jejak perekrutan yang mencurigakan, namun memilih menutup pertanyaan di dalam dada. Banyak yang melihat penderitaan, tetapi memalingkan wajah agar kenyamanan tidak terganggu. Budaya diam dalam kejahatan, dipoles dan didekorasi menjadi instrumen wisdom (kebijaksanaan), ketidakpedulian diberi label kehati-hatian.

Dalam koridor kesunyian yang rapi itulah kejahatan berkembang-biak secara subur, sebab ia selalu membutuhkan ruang yang tidak digugat, dan dikritisi oleh suara yang bernama nurani.
Saya teringat akan ungkapan klasik dari Marcus Julius Cicero; experience is the best teaceher yang berarti (pengalaman adalah guru yang terbaik). Dalam hal ini, pengalaman mengajarkan bahwa tragedi besar lahir dari kompromi-kompromi kecil yang terus dibiarkan.

Ketika ketidakadilan ditoleransi dengan manja hari demi hari, ia berubah dari luka menjadi sistem. Diam sekali lagi bukanlah ketiadaan sikap, ia adalah persetujuan yang paling lembut dan sekaligus paling mematikan.

Suara hati menguap seperti kabut pagi, dan nurani menjadi barang langka yang tak lagi diperjuangkan untuk didapat dan dihidupi. Maka, peradaban tidak runtuh karena kurangnya orang baik, tetapi karena terlalu banyak orang baik yang memilih tetap diam.

Melawan Kerumunan, Tanggung Jawab Individu

Seorang pemikir eksistensialisme Denmark Soren Kierkegaard memiliki corak pemikiran filosofis yang tajam untuk membantu kita membicarakan problem ini, dan kemudian memilah mana yang baik untuk dipertahankan dan mana yang dibuang.

Menurut Kierkegaard, bahaya terbesar bukan hanya pelaku kejahatan, melainkan manusia yang bersembunyi di balik kerumunan. Kerumunan, bagi filsuf ini adalah kebohongan, sebab di dalamnya tanggung jawab dan nurani krisis suara.

Individu merasa aman karena kesalahan menjadi milik bersama, bukan lagi milik personal. Dalam situasi seperti ini, kejahatan tidak perlu banyak pelaku, ia cukup memiliki banyak orang yang memilihi diam.

Kita bergerak lebih maju lagi, dalam konteks perdagangan manusia, kerumunan hadir dalam bentuk budaya permisif. Banyak orang mengetahui habitus praktik perekrutan mencurigakan, tetapi memilih tidak bertanya.

Banyak yang melihat hal-hal yang menghancurkan martabat manusia, tetapi mengikuti arus karena takut dicap atau dikucilkan dalam dimensi sosial.
Hemat saya, di sinilah duduk persoalannya, eksistensi diuji secara radikal. Kierkegaard memberi seruan imperatif bahwa manusia sejati bukan yang hidup dalam opini mayoritas, melainkan yang berani mengambil keputusan personal dan memikul risikonya.

Apabila kita ingin episode peradaban terus berjalan dengan baik, maka individu harus sungguh-sungguh menemukan keberanian untuk berkata tidak pada kejahatan yang mencederai martabat manusia.

Saya secara pribadi sangat terinspirasi dengan perjuangan Suster Ika. Ia menjadi gambaran konkret dari keberanian eksistensial itu. Ia tidak menunggu sistem sempurna, tidak menunggu persetujuan publik, tetapi bertindak menyelamatkan mereka yang hampir kehilangan martabatnya.

Suster Ika sekali lagi keluar dari kerumunan dan berdiri sebagai individu yang bertanggung jawab di hadapan nurani dan Tuhan. Aktualitas seperti ini menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu hadir dari struktur besar, tetapi dari keputusan personal yang tulus dan jujur.

Penyelesaian jangka panjang menuntut lahirnya komunitas yang berani, solidaritas autentik, jaringan perlindungan korban, dan tentu saja keberpihakan sosial yang tidak berhenti pada retorika.

Pada akhirnya, harapan bagi kemanusiaan tidak selalu datang dari kekuatan megah dan perkasa, tetapi datang dari hati yang berani menanggung kesepian demi kebenaran. Ketika tubuh menjadi pasar, keberanian individu mengembalikan manusia menjadi manusia.

Ketika nurani menjadi barang langka, satu tindakan kasih dapat mengguncang peradaban. Dari keberanian seperti itulah sejarah sering berubah, bukan oleh kerumunan yang bising, tetapi oleh manusia yang diam-diam setia pada suara hatinya.

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur

TERKINI
BACA JUGA