Ruteng, Ekorantt.com – Frederikus Beni terlihat sibuk memasak bakso pada Sabtu, 21 Maret 2026 pagi. Dari dalam panci stainless, pentol bakso mengeluarkan aroma yang khas.
Frederikus kemudian mengantar pesanan bakso ke meja pelanggan. Pagi itu, ada sejumlah pelanggan yang mengisi tempat duduk di warung bakso Bumbu Desa.
Warung bakso milik Frederikus ini beralamat di Jalan Kemuning, Kelurahan Tenda-Ruteng, Kabupaten Manggarai. “Setiap hari begini terus, kaka,” kata Beni, sapaan karibnya, membuka pembicaraan.
Ia merintis usaha bakso sejak dua tahun lalu, yang merupakan pengembangan dari usaha gorengan yang dimulai sejak 2015.
“Sekarang kami bagi tugas. Bakso saya yang kelola, sedangkan istri saya mengurus gorengan,” kata Beni.
Lokasi usaha gorengan yang dikelola oleh istrinya, Suryati hanya berjarak 100 meter dari warung baksonya.
Kata Beni, sang istrilah yang punya ide untuk membuka usaha gorengan. Sementara ia sendiri tak paham. Awalnya, ia hanya ikut mendukung ide itu.
Lokasi usaha Beni dan Suryati terpaut 300 meter dari kampus Unika Santu Paulus Ruteng. Para mahasiswa menjadi pelanggan utama yang berburu tempe goreng, tahu goreng, bakwan, dan pisang goreng.
“Jadi banyak sekali kos-kosan mahasiswa di sini. Mereka tentunya butuh makanan yang cepat,” tutur Suryati.
Modal Usaha
Beni dan Suryati memulai usaha gorengan dengan modal awal Rp2,5 juta. Beberapa waktu kemudian, mereka bersepakat memperluas skala usaha dan membuka usaha baru. Tapi mereka terkendala modal.
Dengan bantuan seorang kerabat, keduanya diarahkan untuk bergabung menjadi anggota Kopdit Mawar Moe, sebuah koperasi yang berpusat di Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. “Setelah itu saya langsung pergi daftar jadi anggota,” tutur Beni.
Tiga bulan kemudian, ia mengajukan pinjaman dan pihak manajemen koperasi itu menyetujuinya. “Kalau dihitung, sampai sekarang saya sudah lima kali pinjam,” sebutnya.
Pinjaman itu digunakan membuka usaha bakso, mulai dari kontrak tempat usaha, pengadaan alat hingga bahan-bahan makanan. “Saya berpikir, tidak bisa hanya di usaha gorengan saja kalau sudah modal besar-besar begini,” ceritanya.
Kini, kata Beni, ia dan istrinya memperoleh pendapatan Rp500 ribu hingga Rp600 ribu dari penjualan gorengan dalam sehari. Sementara penghasilan dari usaha bakso, minimal Rp400 ribu per hari.
“Itu kotor. Dari hasil itu juga sedikitnya kami beli bahan seperti minyak goreng, minyak tanah dan sebagainya.”
Usaha Beni dan Suryati itu sempat terganggu saat pandemi Covid-19. Kala itu, ada kekhawatiran usaha mereka akan gulung tikar.
“Orang waktu itu kan hampir tidak ada yang keluar rumah,” kata pria kelahiran 1980 itu.
Mereka tetap berjualan walaupun dalam jumlah yang sedikit. Dan syukurnya masih ada pelanggan yang datang membeli.
Beni bersama istrinya melewati situasi pandemi dengan terseok-seok, tapi masih bertahan sampai sekarang. Ke depan, mereka berencana melebarkan usaha dengan membuka warung bakso dan cilok. “Rencananya begitu. Semoga tercapai nanti.”

Dampingan Kopdit Mawar Moe
Usaha Beni tidak lepas dari dampingan Kopdit Mawar Moe. Selain akses modal, ia juga mendapatkan pendampingan berupa pelatihan wirausaha.
“Mereka juga memberikan kesadaran kepada kami bahwa uang yang dipinjam itu bukan uang sendiri, tetapi uang banyak orang,” ujar Beni.
Melalui pelatihan itu, kata Beni, ia mendapatkan dukungan dan motivasi berwirausaha. “Hal lain yang didapatkan juga tentang manajemen keuangan,” tuturnya.
Manajer Kopdit Mawar Moe, Maria Debi Minarni mengaku bahwa pelatihan kewirausahaan sangat penting bagi anggota yang punya niat untuk mengembangkan usaha produktif.
Beni termasuk salah satu anggota yang memiliki rekam jejak yang baik dalam aktivitas simpan pinjam sejak bergabung pada Mei 2016. “Dia sudah empat kali pinjam. Sangat aktif sekali,” kata Maria Debi.
Debi mengaku senang apabila ada anggota yang meminjam dana di koperasi untuk usaha produktif. Terlebih lagi bila usahanya sudah bergerak sebelum mengajukan kredit.
“Om Beni itu anggota yang sangat aktif. Kami sangat mendukung usahanya,” tutur Debi. “Karena memang koperasi kredit ini cita-citanya lebih ke usaha produktif.”
Debi bilang, selama ini, Kopdit Mawar selalu memantau perkembangan usaha anggotanya, bahkan terus memotivasi anggota yang berwirausaha.
“Kami di Mawar Moe itu ada yang namanya kelas peminjam. Setiap orang yang memberikan pinjaman diberikan materi, termasuk manajemen keuangan rumah tangga,” terangnya.
Debi berkata, Kopdit Mawar Moe selalu berkomitmen memberikan pendidikan bagi anggota. Hal ini berupa pendidikan literasi keuangan supaya anggota memahami cara mengatur uang dengan baik. “Kemudian kami juga memberikan pemahaman tentang menabung.”
Kisah Beni dalam mengembangkan usaha produktif bisa menjadi contoh bagi anggota lain. Pria asal Dampek, Manggarai Timur ini punya tips sederhana dalam usaha: konsisten.
“Kami buka jam 6 pagi untuk usaha gorengan. Sedangkan bakso buka jam 10 pagi. Begitu terus setiap hari, jangan hilang muncul. Kita jaga pelanggan,” tandas Beni.












