Penyakit Pisang Berdarah Bikin Petani di Flores Timur Gelisah

Sebelum terserang penyakit, Gabriel memanen lebih dari 10 tandan. Selain untuk konsumsi di rumah, harga buah pisang Rp50 ribu sampai Rp70 ribu per tandan laku terjual di pasar dan pengepul.

Larantuka, Ekorantt.com– Penyakit darah menyerang tanaman pisang di Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini membuat petani gelisah dan bingung harus berbuat apa.

Gabriel Goliat Werang (82), menunjukkan tiga tandan pisang gagal panen. Dia lalu membelah satu sisir pisang. Isinya terlihat berair berwarna kuning. Ada pula yang buah besar namun isi di dalamnya kerdil.

Ia mengaku tanaman pisang yang tumbuh di pinggir padi ladang tak sehat. Pucuk daunnya layu. Lantaran takut menyebar luas, ayah enam anak itu berencana menebang semua tanaman yang sudah berbuah.

“Saya tidak tahu ini penyakit apa. Saya alami penyakit buah sejak akhir tahun 2025 sampai awal 2026 ini. Kami gelisah, bingung mau buat apa untuk mengatasinya,” ujar Gabriel, Rabu, 4 Februari 2026.

Sebelum terserang penyakit, Gabriel memanen lebih dari 10 tandan. Selain untuk konsumsi di rumah, harga buah pisang Rp50 ribu sampai Rp70 ribu per tandan laku terjual di pasar dan pengepul.

“Sekarang satu tandan untuk makan juga tidak bisa lagi. Mau makan juga takut, barangkali ini tidak baik untuk kesehatan,” ujarnya.

Fransiskus Gergorius (65), pensiunan penyuluh pertanian, memperkirakan pisang tengah diserang Layu Fosarium. Penyakit jenis ini bukan datang melalui hama.

“Itu berisiko tinggi, dalam waktu yang singkat ratusan hektar akan habis karena penularannya sangat cepat,” ungkapnya.

Buah pisang milik warga di Kabupaten Flores Timur yang diserang penyakit, Rabu, 4 Februari 2026 (Foto: Paul Kabelen/Ekora NTT)

Gergorius menyebut tanda-tanda penyakit Fosarium seperti daun yang layu, kemudian buah pisang mengeluarkan cairan cokelat.

Ia berharap dinas pertanian  cepat mengambil langkah pencegahan. Para petani diminta melakukan sanitasi, seperti melakukan pembersihan kebun dan pengasapan.

Penyakit pisang juga diakui menyerang tanaman warga di Desa Hokeng Jaya, Desa Klatanlo, dan sekitarnya. Mereka mencurigai penyakit cepat menular akibat aktivitas jual dan beli pisang oleh pengepul, baik di dalam maupun dari luar daerah.

“Di daerah lain pisang lagi kena penyakit, jangan sampai karena mereka punya parang yang potong di kita punya tanaman, malah ikut kena penyakit. Penyebarannya kemungkinan bisa lewat situ,” ujar Hare karang (45), warga Dusun Padang Pasir, Desa Hokeng Jaya.

Menurut Hare, pisang menjadi salah satu komoditas andalan warga untuk mendapatkan penghasilan, selain dengan kelapa, kemiri, dan kakao.

Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Ketahanan Pangan Flores Timur, Sebas Sina Kleden, belum memberikan tanggapan ketika dikonfirmasi. Ia mengaku sedang mengikuti rapat di Ruangan Asisten II Setda Flores Timur.

“Selesai rapat baru saya kontak,” jawabnya melalui pesan WhatsApp.

Penulis: Paul Kabelen

TERKINI
BACA JUGA