Narasi Anak Tani Jadi Ahli Farmasi

Maumere, Ekorantt.com – Isak tangis pecah pada raut wajah Arenius Agung di Gedung Sikka Convention Center (SCC), Maumere, Rabu, 20 Maret 2019.

Sambil membawa kepalan tangkai bunga, dia datang bersujud syukur dan memeluk orang tuanya.

Ayahnya, Hendrikus Alabehu, membalas pelukan putranya.

Seketika, mereka berdua pun larut dalam haru, meskipun hari itu adalah sebuah momen penuh kebahagiaan.

Arenius bersama ke-49 rekannya diwisudakan sebagai ahli madya farmasi dari Kampus Akademi Farmasi St. Fransiskus Xaverius Maumere.

iklan

Tangisan Arenius barangkali punya alasannya.

Toh dia adalah anak petani sederhana yang datang jauh-jauh dari Kedang (Kabupaten Lembata) ke bumi Nian Tana Sikka.

Selama 3 tahun 5 bulan, dia menuntut ilmu dan melewati pelbagai lika-liku kehidupan hingga akhirnya menggapai mimpi dia.

Ketika disambangi Ekora NTT, tangisan Arenius sudah reda, tapi matanya yang sembab boleh jadi tak bisa tipu bahwa ada peristiwa yang mesti diceritakan.

Ada makna yang patut disingkapkan.

Bahwa di balik kebahagiaan hari itu, terdapat derap perjuangan juga cucuran keringat dari orang-orang yang mengasihi dia, terutama keluarganya.

Ayahnya bekerja sebagai petani serabutan di Kedang, memungut mente dan asam kemudian dijual ke pasar atau pembeli jalanan.

Sementara ibunya, Monika Bunga, harus merantau jauh-jauh ke Malaysia.

Mengadu nasib, mengais rezeki sebagai pekerja rumah tangga di negeri yang seringkali tak ramah bagi para pekerja migran dari Indonesia itu.

“Saya rasa sedih sekali karena ingat orang tua punya perjuangan,” ujar Arenius singkat.

Sebelum wisuda saja, dia sempat kesulitan karena tak punya biaya.

Registrasi semester akhirnya pun tertatih-tatih dan dia sungguh cemas.

Tapi, semuanya berjalan lancar.

Keluarganya berusaha sedemikian rupa sehingga bungsu dari lima bersaudara ini bisa selesai studi.

Ekora NTT lantas mendekati Hendrikus Alabehu, ayah Arenius.

“Senang, pokoknya senang,” sosok beruban itu berkata dengan bahasa Indonesia yang mulai terbata-bata.

Sebagai seorang petani kampung yang penghasilannya tak seberapa, Hendrikus terbilang sukses menyekolahkan anaknya.

Bayangkan saja, dalam sebulan, dia harus mengirimkan uang Rp250 ribu untuk biaya indekos Arenius di bilangan Kota Uneng, Maumere.

Itu belum termasuk biaya perkuliahan yang jauh lebih bengkak.

Padahal, besaran penghasilan Hendrikus hanyalah Rp500 ribu.

Sebuah perhitungan yang masih pukul rata, sebab harga komoditi seringkali naik turun tak pasti dan memberatkan dia yang benar-benar menaruh harap pada hasil bumi tersebut.

“Tapi, anak saya harus sekolah,” beber Hendrikus.

Hendrikus memang tak berjalan sendirian.

Empat orang anaknya yang lain, meskipun berprofesi sebagai petani juga, turut membantu biaya perkuliahan Arenius.

Mama Monika Bunga di negeri Jiran pun sama.

Setiap bulan dia setia mengirimkan uang ke keluarganya di kampung.

Mereka semua bahu-membahu sembari memacakkan niat; anggota keluarga itu harus ada yang bisa sampai ke jenjang perguruan tinggi.

“Anak saya yang lain itu sudah petani. Dia (Arenius, red) mesti lebih dari itu,” Hendrikus menambahkan.

Dan ujaran “niat baik akan punya jalan baik” tampaknya menemukan titik cipratnya dalam keluarga tersebut.

Rabu, 20 Maret 2019, dalam Sidang Terbuka Senat Akademik Akademi Farmasi St. Fransiskus Xaverius, Arenius resmi menyandang status sebagai ahli madya farmasi.

Anak petani dari Kedang itu membuktikan bahwa dia sungguh-sungguh tak main gila dengan perjuangan keluarganya.

Barangkali juga menyodorkan sarkasme bagi kiblat dunia pendidikan secara umum, “semahal-mahalnya biaya pendidikan, anak tani miskin bisa jangkau juga”.

“Apakah setelah ini nanti bikin pesta?” Ekora NTT bertanya, menutup perbincangan.

“Tidak ada pesta. Kami orang susah, jadi duduk-duduk biasa saja,” Hendrikus Alabehu menjawab lugas.

 

 

 

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA