Roots Cafe Tampil Beda di Bukit Habibuang

Maumere, Ekorantt.com – Kafe di Maumere identik dengan wilayah pantai. Kafe-kafe itu bertebaran di sepanjang pantai kota nyiur melambai ini.

Tanpa berpikir keras tentang konsep yang mau diusung, banyak orang lantas tertarik merintis usaha kafe di kawasan tersebut. Hal itu bisa jadi berangkat dari kencenderungan 80 % wisatawan atau masyarakat yang lebih memilih bersenang-senang di pantai.

Tentu saja angin pantai yang sejuk dengan suasana laut yang tenang punya daya tarik tersendiri. Kemudian, orang kafe akan menyediakan menu makan-minum yang menggugah selera demi membuat pengunjung betah dengan sendirinya. 

Namun, tidak demikian dengan Roots Cafe. Kafe yang berada di sebuah bukit di Dusun Habibuang, Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka ini, memilih untuk keluar dari pakem umum sebagaimana tersebutkan di atas.

Letaknya jauh dari suasana pantai. Jarak tempuhnya dari Kota Maumere sekitar 15 menit.

iklan

Kendati demikian, Roots Cafe punya daya magis tersendiri yang mampu menarik minat pengunjung yang datang. Pertama kali masuk di kawasan kafe, para pengunjung akan disambut aura khas kampung. Suasananya sangat natural. Keheningan membubung saat malam merayap. Sungguh mengasyikkan.

Sebuah lorong kecil dengan tiga lampion berbentuk silinder menjemput kita dengan ramah. Lampu remang-remang mengelus malam menjadi lebih eksotik. Setelahnya ada turunan yang mengarahkan kita pada empat pondok mungil.

Pada bagian atas masing-masing pondok tertulis nama yang diambil dari empat dusun di Desa Langir. Bagi pemilik Roots Cafe, Gabriel Firmanti (45), nama ini menandakan bahwa Roots Cafe adalah bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan setempat.

Di sisi lain, Firman juga berusaha mengajak masyarakat Desa Langir untuk membangun pariwisata yang ada di kampung, baik kearifan lokal maupun potensi-potensinya.

Adapun konstruksi pondok didominasi bambu yang didesain unik dengan atap ijuk dan ilalang. Meja berbentuk persegi panjang dengan empat bangku terpatri di masing-masing pondok.

Antara dua pondok dengan dua pondok lainnya dipisahkan oleh menara kayu. Menara setinggi 3 meter ini sering digunakan pengunjung untuk berfoto ria. Dari menara kayu tersebut, pengunjung bisa melihat lanskap Kota Maumere dan teduhnya laut Teluk Maumere.

Anda tahu, momen terbaik menyambangi kafe ini adalah pada sore dan malam hari. Saat sore hari, pengunjung dimanjakan langit jingga kemerah-merahan pertanda matahari akan terbenam, dan ditemani segelas kopi, pengunjung juga bisa menikmati momen malam hari sambil menatap Kota Maumere yang menyala oleh lampu-lampu.

Segaris lurus dengan menara kayu, sebuah panggung seadanya disiapkan untuk live music. Sejumlah lagu bisa dijadikan latar suasana yang bikin ngobrol jadi lebih rileks.

Bagi pengunjung yang datang bersama pasangannya, beberapa meja couple tersedia di ruang terbuka yang langsung menghadap ke utara. Suasana romantis kian bergeliat manakala lampu-lampu remang menemani malam yang hening.

Kembali ke Akar

Setahun lalu, Firman melakukan riset kecil-kecilan sebelum membangun kafe. Ia menemukan lahan di sebuah bukit di Desa Langir. Lahan ini ditumbuhi gamal dan beberapa pohon aren.

Lahan itu lantas dinilai sangat layak untuk dikelola jadi tempat pariwisata. Selain karena letaknya di kampung dengan view yang indah, ia juga akan melibatkan masyarakat setempat dalam mengembangkan pariwisata.

“Supaya masyarakat tahu, pariwisata itu apa? Sehingga pariwisata tidak sekadar retorika. Berbuatlah sesuatu dan libatkan masyarakat. Saya libatkan masyarakat misalnya petani moke. Masyarakat terlibat di pariwisata dan merasakan untungnya,” kata Firman.

Suasana kampung yang natural sangat menyentuh hati Firman. Apalagi ia suka berpenampilan apa adanya. Tidak mau berlebihan. Bicaranya juga apa adanya. Mengalir begitu saja. Citra diri ini juga yang ia kembangkan dalam usaha kafenya ini. Roots cafe tak lebih dari pantulan dirinya yang mengalir apa adanya.

 “Saya suka hal-hal yang natural. Saya belajar dari musik reggae. Reggae itu, baik musik, lirik dan tampilannya apa adanya. Saya tertarik sekali dengan yang asli. Semua akan mengalir kalau kita biarkan yang asli muncul,” kata pria yang tiga tahun terakhir menggeluti dunia pariwisata ini.

 Mengapa Firman memilih nama Roots Cafe untuk usahanya itu? Baginya, antara akar (Roots) dan kampung punya kesamaan yakni keheningan. Kampung itu digambarkan dengan sesuatu yang kolot tetapi sekaligus sunyi dan hening.

Demikian juga akar. Tanpa memunculkan diri di atas permukaan tanah, akar giat bekerja untuk menopang pohon dan ranting-rantingnya. Akar bekerja dalam keheningan.

“Saya suka akar. Dia bekerja diam dalam tanah tanpa orang tahu. Tapi dia bekerja keras untuk membuat batang itu menjadi bagus. Ranting, bunga, daun bahkan semua yang nampak tumbuh dengan baik,” tutur Firman.

Nama Roots Cafe ini juga sebenarnya semangat Firman untuk kembali ke akar. Derasnya arus perkembangan zaman tidak boleh membuat kita melupakan akar budaya, darimana kita berasal.

“Kita kemas kampung kita dengan baik. Walaupun sederhana, kita tata sedemiikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang berbeda dari dunia luar. Dan saya bersyukur tamu pertama saya itu orang luar negeri, orang Bulgaria,” kata Firman dengan bangga.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA