Amran dan tamunya, bernama Phaza, dari Rusia.

Larantuka, Ekorantt.com – Amran Maran, demikian sapaan pria asal Lewolaga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur ini.

Malang melintang di Swiss Contact sebagai aktivis Non-Goverment Organization (NGO) yang fokus pada pengembangan pariwisata memantapkan niat hatinya untuk kembali ke kampung halamannya di Lewolaga. 

“Saya perhatikan desa kami punya potensi pariwisata yang bagus. Hanya belum digarap. Pengalaman kerja bersama Swiss Contact memacu semangat saya untuk memberdayakan warga di kampung dengan konsep pariwisata yang berkelanjutan. Tahun 2015 saya memulai usaha ini,” ujar Amran.

Letak kampungnya yang yang berada di ketinggian, namun tak jauh dari garis pantai memang jadi pesona tersendiri bagi para wisatawan ketika berkunjung ke sini.

Pada puncak ketinggian di kampungnya itulah Amran membangun pondok bambu yang asri.   

Banyak yang tak menduga bahwa di sekitar pondok bambu yang dibangunnya dahulu jadi tempat pembuangan sampah.

Kini lokasi pembuangan sampah itu berubah jadi spot wisata yang menarik banyak pasang mata menikmati saat matahari terbit dan juga terbenam.

Sejauh mata memandang di depannya terhampar laut biru kemilau.

Ada lagi teluk Konga dan gunung api kembar yang berdiri kokoh bernama Gunung Lewotobi. 

Ketika awal memulai membangun usahanya Amran diolok oleh warga di kampung. 

“Mereka bilang saya orang gila. Sudah sekolah tinggi dan punya pekerjaan bagus pulang kampung bangun pondok bambu. Jangan sampai dia mau jaga monyet,” tutur Amran menirukan omongan warga di desanya.

Lokasi tempatnya membangun pondok memang jadi tempat berkumpulnya monyet.

Amran tak putus asa.

Bersama salah seorang sahabatnya dari Swiss Contact dimulailah kegiatan penyadaran kepada warga untuk menanam dan merawat bakau, tidak lagi membuang sampah sembarangan, sampai penyadaran untuk tidak menangkap ikan dengan potasium sehingga tidak merusak terumbu karang dan berbagai jenis ikan.

Perlahan namun pasti, warga di kampungnya pun sadar dan bersama mendukung apa yang dikerjakan oleh Amran.

Kebersamaan menjaga pantai dan laut itu membuat jumlah ikan bertambah dan alam bawah laut menjadi lebih indah karena terawatnya terumbu karang. 

“Silahkan kalau ada wisatawan yang mau snorkeling bisa melihat keindahan alam bawah laut di desa kami ini. Yang mau mancing pun bisa. Kami menyediakan perahu beserta nelayan dari kampung kami sendiri yang siap membantu. Jadi, prinsipnya saling menghidupi. Nelayan ikut hidup secara ekonomi karena perahunya dipakai untuk mancing. Si nelayan sendiri yang akan jadi juri kemudi. Kalau untuk snorkeling saya juga menyiapkan perlengkapan,” demikian cerita Amran.

Kini, di pondok bambu yang diberi nama Lavictory Hill, selain menyiapkan informasi berkaitan dengan pariwisata dan kebudayaan Flores Timur ada juga aneka produk kuliner lokal yang disiapkan.

Ada kopi Leworok, mocca sorgum, pisang keju, pisang coklat, dan keripik singkong.

Aneka kuliner ini adalah hasil dari kebun warga.

Mereka saling membantu untuk menghidupkan ekonomi rumah tangga. 

Sampai dengan saat ini sudah banyak sekali wisatawan lokal dan juga mancanegara dari Swiss, Rusia, Belanda, Jerman, Spanyol, Cheko, dan Amerika yang berkunjung.

Mereka suka sekali tempat ini karena sangat asri dan jadi spot yang mengagumkan untuk foto-foto.

“Sekarang kami bangga karena rintisan dari saudara kami Amran menjadikan desa kami jadi lebih ramai dan secara tidak langsung membantu ekonomi warga desa. Yang lebih istimewa lagi karena Amran sukses mengembangkan sektor pariwisata dan konservasi lingkungan sehingga desa kami menjadi lebih hidup,” ujar Fransiskus Nikolaus Beoang, Kepala Desa Lewolaga. 

Bagi yang berminat, mampirlah ke Lewolaga. Jaraknya bisa ditempuh dalam 1,5 jam dari kota Larantuka. Atau, kalau dari Kota Maumere paling butuh waktu sekitar 2 jam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here