Tampak dua orang laki-laki sedang memeragakan Tarian Caci di hadapan peserta Festival Caci tahun 2019, di Kampung Toka, Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong, Manggarai Timur, NTT.

Borong, Ekorantt.com – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia melalui Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur juga Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Timur menggelar Festival Caci yang berlangsung di halaman ‘rumah gendang’ Kampung Toka, Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong, Manggarai Timur.

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, sejak Selasa (30/7/2019) hingga Rabu (31/7/2019), dan melibatkan 180 pemain caci dari sembilan kecamatan di Manggarai Timur. Masing-masing kecamatan mengutus 20 peserta.

Festival ini, selain sebagai bagian dari program pemerintah dalam mendukung pengembangan pariwisata di NTT, merupakan bentuk promosi Tarian Caci sebagai potensi wisata budaya di Manggarai Timur.

Wakil Bupati Manggarai Timur Jaghur Stefanus menjelaskan, pemilihan Kabupaten Manggarai Timur sebagai tempat penyelenggaraan Festival Caci tahun 2019 oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia merupakan awal yang baik dan membanggakan.

Hal ini sejalan dengan visi pembangunan kepariwisataan daerah Manggarai Timur, yang mana kabupaten itu ditargetkan menjadi destinasi pariwisata unggulan nan berdaya saing di tingkat nasional pada tahun 2025 nanti.

“Saya sungguh yakin bahwa kegiatan ini akan memberikan multiplier effect yang mendukung kemajuan bidang-bidang lain selain pariwisata di Kabupaten Manggarai Timur,” jelas Jaghur.

Dia menambahkan, sembilan kecamatan di daerah itu memiliki potensi pariwisata yang kaya pun beragam. Seperti benda cagar budaya, wisata bahari dan flora serta fauna. Tercatat ada 107 daya tarik wisata yang terbagi dalam empat cluster atau gugus pengembangannya.

Cluster Pertama melingkupi kawasan strategis pariwisata Borong juga Kota Komba dan sekitarnya. Dengan pembangunan berbasis iklim perkotaan, rekreasi bahari dan geo-wisata.

Obyek wisata yang ditawarkan, antara lain Pantai Cepi Watu, Pantai Nanga Lanang, Pantai Liang Bala, Pantai Batu Biru, Alam Bawah Laut Mausui, dan Padang Savana Mausui.

Ada juga Situs Sambilewa (terdiri atas batu menhir dan dohnen), Pantai Mbolata, Wisata Minat Khusus (special interest tourist) Horse Tracking ke Watu Susu Rongga, Hiking ke Puncak Poco Ndeki, dan mengamati Burung Langkah Lawe Lujang juga Watu Embu Kode Haki (Batu Kelamin Laki-laki) dan Watu Embu Kode Fai (Batu Kelamin Perempuan).

Tambah Jaghur, terdapat pula atraksi wisata budaya meliputi Kremo (ritual adat menangkap ikan) di Pantai Nanga Rawa juga atraksi Tarian Vera dan Tarian Padoa. 

Cluster Kedua melingkupi kawasan pembangunan pariwisata Rana Mese-Poco, Ranaka dan Poco Ranaka Timur, yang menitikberatkan pada eco-adventure dan eco-culture.

Di situ, wisatawan dapat menyaksikan pesona Air Terjun Cunca Rede, Danau Rana Mese dan kawasan hutan wisata di sekitarnya. Ada juga Kampung Adat Compang Teber serta agrowisata di Desa Colol dengan tanaman kopi  sebagai ikon unggulan.

Cluster Ketiga tampak dalam kawasan pembangunan pariwisata Sambi Rampas Lamba Leda dan wilayah di sekitamya. Konsepnya berbasiskan wisata bahari, petualangan juga wildlife Rugu Pota.

Obyek yang menjadi daya tarik di sini adalah Jembatan Alam Tetes Tanah, Gua Liang Toge di Lempang Paji, Danau Rana Kulan, Gua Alam Cincoleng di Benteng Jawa, atraksi wisata budaya Tarian Danding, Mbata, Raga Sae, Ritual Adat Penti, dan Caci.

Terdapat juga situs Kampung Tenggelam Ninge (the lost village), Pantai Laing Lewe serta ujung timur Kawasan Pantai Utara Manggarai Timur.

Para pengungjung juga akan menemukan eksotisme wisata yang lain, yaitu Komodo Flores atau yang nama lokalnya dikenal dengan “Rungu”, serta Danau Rana Tojong dengan keindahan bunga teratai raksasa yang mekar pada bulan Februari dan April, beserta pesona Pantai Watu Pajung.

Untuk Cluster Keempat, yang menjadi pusat pengembangan kawasan pariwisata adalah budaya yang terdapat di Kecamatan Elar Selatan, yakni Rana Kulan, Nanga Lok dan Liang Toge.

Dalam paparan selanjutnya, Wabup Jaghur mengatakan, meskipun pengelolaan dan penataan belumlah optimal, adanya potensi-potensi tersebut sepatutnya menjadi peletup semangat bagi masyarakat dalam menggalang kerja sama. Makanya, kegiatan Festival Caci tersebut juga jadi momen agar pariwisata tak dipandang sebelah mata.

“Tetapi dengan hati terbuka, kita melihat pariwisata sebagai sektor yang mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan masyarakat dan kesejateraan hidup kita sekalian. Asalkan kita serius dan tekun menjaga keharmonisan dengan alam dan sesama makhluk hidup,” pinta Jaghur.

Untuk itu, dia tekankan perlu adanya pelestarian dan perlindungan terhadap budaya dan alam sebagai jati diri kepariwisataan Kabupaten Manggarai Timur. Dengan semboyan yang mereka usung; Pariwisata Berbasis Budaya.

Mulia Donan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here