“Matinya Toekang Kritik” dan Pemegang Kuasa yang Mati Rasa

Maumere, Ekorantt.com – Buku Matinya Toekang Kritik (Penerbit Lamalera, Yogyakarta, 2006) merupakan kumpulan monolog tulisan Agus Noor yang pernah dibawakan Butet Kartaredjasa pada berbagai kesempatan manggung di Nusantara, terutama di Jawa. Entah terjadi dalam ruang publik yang skalanya luas, ataupun panggung-panggung bersekop terbatas.

Esensi buku tersebut membicarakan ragam kritik, atau lebih tepatnya satir bahkan sarkas, terhadap berbagai ketimpangan sosial yang melanda Indonesia. Ketimpangan sosial ini terutama berkaitan dengan pola-pola relasi kuasa yang dijalankan institusi-institusi “mapan”, seperti negara, agama juga lembaga-lembaga masyarakat lainnya.

Memang jika diikuti sejak awal, dalam amatan yang terbilang dini, buku ini seyogianya menyasar atau mengolok-olok hegemoni rezim Orde Baru yang mana, kita tahu, Soeharto sebagai pemegang kendali kuda tunggang pemerintahan selama 32 tahun.

Misalnya, dalam teks “Koruptor Kita Tercinta”, sebelum sang pembawa monolog (baca:koruptor) muncul, terdengar tata suara teriakan-teriakan kaum demonstran, “Hidup Koruptor Bapak Pembangunan”, “Koruptor Aset Bangsa”.

Pun dalam teks “Pelajaran Bahasa untuk Pemimpin Bangsa”, tukang monolog yang memainkan peran sebagai guru sempat mengeluarkan kalimat, “Maaf kalau saya terlalu santun dan sopan. Maklumlah, saya ini guru SD Inpres. Jadi terbiasa menunduk-nunduk, seperti kalau mau menerima gajian.”

iklan

Tentu tak hanya itu memang. Ada segumpal persoalan relevan yang diangkat dalam buku tersebut dalam terang situasi kekinian. Baik bersifat nasional, maupun lokal. Meskipun poin ini dapat diselidiki lebih jauh ihwal apa itu masalah nasional, apa itu masalah lokal, sementara kasus korupsi sama-sama berjalan pun permainan politik identitas dengan takaran dan strategi berbeda-beda sama-sama diperagakan.

Dalam naskah “Pensiunan Pamit Pensiun”, pembawa monolog bilang begini, “Suatu saat, para presiden kita berkumpul, ngomongin ayam bakar. Nggak usah kaget! Memang begitu kalau para presiden bertemu: yang diomongin ya makanan. Hal-hal yang bisa dimakan. Apa kalian kira kalau para presiden bertemu yang dibicarakan itu bagaimana caranya meningkatkan kesejahteraan rakyat?! Mbelgedes (bohong)!!”

Wedaran-wedaran dari atas, sebagaimana juga membingkai isi buku ini, memperlihatkan bahwa kekuasaan atau katakanlah kepentingan kuasa menjadi hal yang seksi untuk direnggut secara empiris, serentak diperbincangkan dalam tataran ide/kreativitas berbentuk kritik atau hal lainnya. Semacam jadi penangkal atau antidot dari publik yang resah terhadap praktik-praktik distorsif kaum pemangku kepentingan.

Ada dua kemungkinan yang dapat ditakik jika buku ini dibaca oleh elite-elite termaksud. Pertama, mereka geli-geli sendiri oleh vibrator monolog-monolog garing dan memukul telak. Kedua, merasa biasa-biasa saja dengan anggapan bahwa menindas (korupsi, janji palsu, curi uang umat, dll) adalah hal biasa yang sepatutnya berterima.

Lebih jauh, item kedua inilah yang bakalan merongsokkan mereka masuk ke dalam kategori pejabat atau pemegang kuasa yang antikritik. Sebagai misal, publik mendesak untuk dibongkarnya kasus dugaan korupsi, ada pejabat yang mengelak dan melihat itu sebagai bentuk pencemaran nama baik. Atau juga, pemimpin agama yang dianggap membikin miskin umat malah melihat itu sebagai fitnah atau penistaan.

Pada galibnya, buku ini setidak-tidaknya telah memberikan petunjuk atau cerminan atas fakta sosial yang terjadi saat ini. Walakin berjudul Matinya Toekang Kritik, isi-isi monolog yang didialogkan ini sesungguhnya tidaklah mati.

Namun, itu bukan berarti bahwa kritik yang tidak mati-mati itu diharapkan untuk “hidup” terus. Nah, pertanyaannya; sampai kapan ini akan berlangsung?

TERKINI
BACA JUGA