lustrasi: Acara Karnaval Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Maumere beberapa tahun silam. Foto: Litbang EKORA NTT.

Yogyakarta, Ekorantt.comKonstruksi “Indonesia” merupakan apropriasi sesuatu yang anonim/aneh. Dan oleh karena itu, sifatnya dinamis dan diskursif. Demikian tulis antropolog James T. Siegel (1986) suatu ketika.

Dia menyatakan demikian mengingat nama “Indonesia” sendiri merupakan campur baur dari berbagai varian penyebutan juga ragam pendapat yang kemudian digunakan sampai sekarang.

Adalah George Samuel Windsor Earl dalam Journal of The Indian Archipelago and Eastern Asia (1850) memberi penegasan bahwa sudah saatnya masyarakat kepulauan Hindia atau Melayu memiliki nama sendiri demi menghindari kerancuan antara “Hindia” dan “India”. Earl merumuskan dua nama, yakni Indunesia dan Malayunesia, yang mana kata “nesia” sendiri berasal dari kata bahasa Yunani “nesos”, artinya pulau.

Dalam perjalanannya, kata “Indonesia”-lah yang semakin konsisten dipakai, terutama dalam publikasi-publikasi ilmiah ataupun surat kabar. Tentu, nama etnolog James T Logan tidak dapat terlepaspisahkan dari ini. Dia berangkat dari gagasan Earl dan begitu gencar mempopulerkan penyebutan “Indonesia” lewat tulisan-tulisannya.

Selain itu, ada pula sosok Adolf Bastian (1826-1905) yang rutin menulis buku-buku penelitiannya di Indonesia dan tak pelak menyebut kata “Indonesia” yang lantas populer di kalangan akademisi Eropa.

Pada zaman pergerakan, kata “Indonesia” mulai laku keras digunakan oleh anak-anak muda sebagai pemberi wujud identitas politik melawan kolonialisme. Ia dapat ditafsirkan sebagai pemersatu, pengerat ataupun pengikat guna merumuskan cita-cita bersama kala itu. Dalam istilah Ben Anderson, “Indonesia” sebagai bangsa merupakan suatu komunitas terbayang oleh masyarakat yang merasa senasib, sepenanggungan. Sehingga meskipun secara de jure baru resmi menyandang nama Negara Republik Indonesia pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, “Indonesia” sebagai bangsa termaksud, sebagai identitas politik, telah jauh-jauh hari digemakan. Kita pun mengenalnya dengan nasionalisme.

Rangkaian-rangkaian paragraf di atas ihwal genealogi “Indonesia” sebetulnya hanyalah pantikan belaka untuk melihat keIndonesiaan kita hari-hari ini. Meskipun frasa “keIndonesian kita hari-hari ini” kadang terdengar terlalu mewah dan ilusif dan barangkali luncurkan pertanyaan “Apa itu keIndonesiaan?”, “Apa itu hari-hari ini?”.

Namun, bahwasanya “Indonesia”, entah sebagai kata, bangsa ataupun negara, bukanlah sesuatu yang punya sudut pandang ajek atau tunggal. Seolah-olah “Indonesia” hanya milik kaum tertentu, pulau tertentu, agama tertentu, suku tertentu, atau orang tertentu. Dalam refleks yang lain, orang merasa menjadi “Indonesia” hanya lewat teriak “NKRI Harga Mati” atau “Saya Pancasila, Saya Indonesia”, lalu nasionalismenya selesai.

Tentu saja dalam hidup berbangsa dan bernegara, persoalan identitas memang jadi urusan pelik. Tapi tatapan atas ini tidaklah serta merta diukur dari konotasi negatif. Meskipun ia tidak juga harus terlampaui, bahkan dipaksakan, dengan kacamata positif yang ujung-ujungnya hanya timbulkan kepalsuan dan dikubur dalam-dalam sebagai sentimen yang bisa pecah kapan saja.

Maksudnya, keberterimaan terhadap identitas-identitas dalam suatu negara/bangsa mestinya cair dan dinamis dengan memakai banyak tolok ukur. Anda mungkin beragama X dan saya beragama Y, tapi kita identik karena sama-sama menyukai klub sepakbola ZZZ. Atau, kamu dari suku U dan dia dari suku V, tapi kalian serupa karena gemar memancing di laut W.

Gerak-gerak sederhana itulah yang menjadikan orang melihat satu sama lain sebagai manusia yang punya keutuhan dari banyak himpunan. Toh seringkali kita hanya membicarakan nasionalisme yang terkesan abstrak, tapi lupa pada kondisi-kondisi sosial sederhana yang merangkul satu sama lain.

Dalam contoh yang lain, elite perusahaan jasa transportasi online mungkin lagi berperang dagang untuk mencari minat pelanggan, namun lihatlah di warung-warung kecil, para pengemudinya duduk bersama, minum kopi dan bercerita lepas tentang keluarga atau menu kesukaan mereka. Agama boleh dijual untuk kepentingan politik, namun saksikanlah bagaimana anak-anak muda tanpa bertanya “agamamu apa?” duduk berdiskusi soal masalah perusahaan sawit di Kalimantan, misalnya.

Identitas lahiriah seyogianya tidak perlu dipertanyakan atau diperdebatkan lagi, kecuali itu berlaku bagi diri sendiri. Keutamannya ialah bagaimana orang berpikir bahwa di dalam dirinya terdapat banyak sekali identitas yang bekerja dan menghubungkannya dengan orang lain. Bahkan mulai dari urusan yang paling sepele sekalipun, seperti sama-sama antre di toilet umum atau sama-sama takut ketika pesawat terbang hendak lepas landas.

Orang yang melihat sesamanya masih dari amatan yang terlampau luas lantas membikin blok atas itu, kemungkinan besar belum selesai dengan dirinya sendiri. Atau, bisa saja dia memang sedang mencari identitasnya sendiri seperti kelompok nenek moyang kita dari zaman batu yang hidup berkerumun untuk bertahan hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here