Romo Louis Jawa

Oleh Louis Jawa*

Ziarah Gereja terutama ziarah dalam dunia pendidikan adalah cara berjalan yang paling tepat untuk menjadi garam dan terang di tengah dunia. Dalam konteks Indonesia, kita menemukan peluang dan tantangan, berkat dan tanggungjawab untuk semakin menanamkan nilai-nilai kristiani dalam pikiran serta tindakan segenap komponen pelaku dunia pendidikan, mulai dari keuskupan / tarekat, yayasan, sekolah dan masyarakat. Kita tidak saja meletakkan dasar yang kokoh dalam idealisme pikiran, melainkan juga membangunnya dalam sebuah gerakan bersama, serentak pencerdasan intelektual dan penguatan karakter kepribadian positif.

Pendidikan Katolik seturut Gaudium Evangelii (GE 1) bertujuan untuk mencapai pembinaan pribadi manusia seutuhnya (bdk KHK 795) melalui sebuah wadah yang unggul dan berkualitas. Gereja menunaikan tugasnya dalam dunia pendidikan dengan mengusahakan semua sarana yang tepat, terutama sarana yang khas baginya, pertama-tama katekese, yang menerangi dan meneguhkan iman yang mengasuh kehidupan menurut semangat Kristus (GE 4).  Dalam lingkup yang lebih konkret, sekolah Katolik terus menerus mewujudkan keunggulan dengan menciptakan lingkungan sekolah yang dijiwai semangat kebebasan dan cinta kasih injili, membantu tunas muda bertumbuh menjadi ciptaan baru berdasarkan rahmat permandian, dan akhirnya mengarahkan seluruh kebudayaan manusiawi kepada keselamatan (bdk GE 8 dan KHK 789).

Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) pun bersifat inklusif, terbuka terhadap semua golongan yang menginginkan pendidikan Katolik untuk anak-anak mereka (GE 1): “ semua manusia dari bangsa, lapisan dan usia mana pun memiliki martabat pribadi, dan oleh sebab itu mempunyai hak yang tidak tergugat atas pendidikan yang sesuai dengan tujuan dan bakat masing-masing.” Gerakan besar bangsa untuk mencerdaskan anak bangsa,apapun suku dan agamanya, menjadi bagian dari tanggung jawab Gereja. Pada cita-cita yang luhur dan mulia itu, kita pun terpanggil untuk membangun pendidikan sebagai media kabar baik, unggul dan lebih berpihak pada orang miskin (Nota Pastoral KWI tentang Pendidikan 2008). Pendidikan memang harus menjadi kabar baik di tengah budaya kekerasan dan budaya kematian yang kita rasakan akhir-akhir ini. LPK harus bisa menularkan budaya kehidupan, belaskasih dan kerahiman di tengah euforia remaja kini yang sangat mengagungkan materialisme, konsumerisme dan seks bebas (Bdk Pastores Dabo Vobis 36)

Ada dua pertanyaan penting bagi LPK pada saat ini.

Pertama, sudahkah kita memaknai pendidikan Katolik yang setia pada pencerdasan kehidupan bangsa, setia pada ciri khas katolik, unggul dan berpihak kepada yang miskin? Apakah kita telah membantu LPK dan insan pendidikan Katolik untuk setia pada ajaran Gereja dan berjuang untuk membentuk manusia seutuhnya?

Ketiga, di tengah kemerosotan mutu pendidikan kita, sudahkah LPK membangun semangat penghormatan pada budaya kehidupan ataukah kita terjebak dalam euforia demokrasi yang salah, membiasakan kekerasan dalam politik kepentingan?

Bahaya Budaya Kematian

Pada hari-hari ini, kita sungguh dikejutkan oleh euforia demonstrasi yang telah merasuk begitu mengerikan dalam dunia pendidikan menengah (dikmen), ketika sejumlah demonstasi besar di Jawa dan di Papua, telah melibatkan anak-anak sekolah kita. Bahaya politisasi massa pelajar dan jurang anarkisme kini telah lebih dekat sampai kepada kita, ketika kita dihadapkan pada sebuah dinamika pembentukan karakter yang semu, sekolah terjerat pada rumusan kurikulum yang kaku dan padat, dan menyertakan pendidikan karakter sebagai sampingan atau juga sebagai bayangan. Mudah tersulutnya pelajar-pelajar kita menjadi awasan serius bagi setiap lembaga pendidikan untuk lebih matang dalam mempersiapkan standard kurikulum Katolik yang jauh dari gerakan ekstrimisme, fundamentalisme dan apalagi terorisme. Dalam konteks LPK, setiap sekolah pada setiap jenjangnya, sudah harus berpikir matang tentang nilai-nilai kristiani dengan semangat Yesus Kristus yang mencintai dan membebaskan dunia dari belenggu lingkaran iblis ketidakadilan, kemiskinan dan kekerasan.

Budaya kehidupan mesti sanggup menginspirasi dunia pendidikan, dan kita sekalian terpanggil untuk menyerukan budaya kehidupan serta menentang budaya kematian (banalisme kekerasan) yang kini menjadi trend pola demontrasi yang melibatkan pelajar. Generasi muda kita yang mengenyam pendidikan di LPK semestinya memperjuangkan belaskasih dan kerahiman, sebagaimana diperjuangkan Paus Fransiskus serta menghindarkan diri dari mekanisme kekerasan yang masiv penuh amarah. Mudahnya kita tersulut emosi akibat pemberitaan yang manipulatif (hoax) pun hendaknya menjadi pembelajaran penting bagi kita untuk lebih teduh dan rahim mencerna, menginformasikan dan mengambil kebijaksanaan yang selaras semangat injili.  Budaya kehidupan dalam semangat kerahiman dan belaskasih, mesti bisa memangkas rantai kekerasan yang selalu tanpa sadar kita produksikan dan kita citrakan sebagai sebagai sebuah metode kehidupan yang baik.

LPK tetap memperjuangkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan, sebagai bagian dari perjuangan Gereja di tengah dunia. nilai-nilai keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan terus ditanamkan dalam diri generasi muda peserta didik kita, agar kelak mereka dapat menjadi pilar penting untuk mengawal budaya kehidupan tanpa kekerasan di tengah dunia. Kita menolak siklus rantai kekerasan sejak dini, dan sekolah harus menjadi tempat pembelajaran yang penuh dengan persaudaraan dan persahabatan, dan kekuatan atau ketegasan mesti dinyatakan dalam cara yang etis dan menyelamatkan. Mudah terbawa berita manipulatif, mungkin menjadi sebuah hasutan politis yang menakutkan dan mematikan, dan pada posisi ini, LPK mesti mengambil peran lebih untuk membaharui dunia dengan nilai-nilai injili kristiani.

Berpusat Pada Pribadi Yesus Kristus

Non Scholae sed vitae discimus, sebuah adagium Latin yang mengandung pesan persuasif serentak imperatif pada situasi dunia saat ini. Makna pendidikan sejati yang termaktub dalam adagium itu membawa pesan persuasif, ketika pendidikan pada umumnya terbingkai pada pola administrasi-birokratif dan legal, atas target pencapaian pendidikan yang mesti disahkan dalam bentuk ijazah dan penghargaan formal tertentu. Pesan persuasif ini masih menyasar pada kesadaran publik lembaga pendidikan manapun untuk tidak boleh lupa pada nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam muatan kurikulum pendidikan formal dan pendidikan non formal, serta berupaya untuk menyadarkan publik untuk tidak terjebak dalam malapraktik formalisme pendidikan yang dangkal.  

Adagium mengantar pesan imperatif, ia mendesak dan menggugat sebuah proses formal pendidikan yang melegalkan segala cara untuk bisa meraih titel atau gelar tertentu. Pada titik penting ini, Gereja Katolik terpanggil untuk serius menempatkan roh pendidikan yang sesungguhnya dalam setiap praksis pendidikannya, membawa kabar sukacita injili Yesus Kristus dalam dinamika setiap LPK. Kita tidak saja terpanggil untuk mendirikan sekolah dan terbuai pada masa lalu dengan nama besar yang mentereng, atau membangun sebuah sekolah sekadar untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dan menyisihkan orang-orang miskin (bdk EG 5). Pendidikan, dalam artinya yang sejati, harus sanggup memanusiakan manusia dan membentuknya menjadi semakin cerdas, berkarakter dan beriman teguh dengan semangat Yesus Kristus (EG 47) serta memperjuangkan budaya kehidupan yang menyelamatkan dan membebaskan bangsa ini.  

*Pastor Desa, tinggal di Manggarai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here