24 pemuda yang mengikuti Program E.thical telah menjalankan proses edukasi kewirausahaan selama dua bulan di Ende

Ende, Ekorantt.com – 24 anak muda terpilih di Kabupaten Ende hadir mempresentasikan program kewirausahaan berkelanjutan yang telah mereka inisiasi.  Presentase program ini sekaligus memamerkan produk-produk kewirausahaan yang telah dihasilkan.

Produk-produk tersebut antara lain kopi organik, produk buah organik, coklat organik, sabun hasil limbah dari coklat organik, sorgum dan tenun.

Kegiatan yang berlangsung pada 28 Oktober 2019 sekaligus menjadi kesempatan menyemarakkan hari Sumpah Pemuda. 24 anak muda ini berkomitmen mendeklarasikan sumpah baru untuk menjadi wirausaha yang berjalan selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan berkelanjutan.

Irma Sitompul, pendiri dan koordinator kurikulum Lembaga E.thical yang fokus bekerja pada program pendidikan kewirausahaan berkelanjutan kepada Ekora NTT mengemukakan, selama proses pendampingan pihaknya melihat adakemajuan pola pikir yang pesat.

“Hal ini membuktikan bahwa akses informasi dan kesempatan sangat penting bagi teman-teman di daerah untuk bisa meningkatkan kapasitas diri mereka menjadi agen perubahan,” kata Irma.

Irma optimis dengan adanya 20 usaha baru dari 24 anak muda di Ende ini dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru dan memberikan inspirasi bagi orang muda untuk memajukan daerahnya.

Irma lebih jauh menjelaskan, program kewirausahaan berkelanjutan bertujuan untuk menggali potensi-potensi orang muda di Kabupaten Ende agar berperan aktif mengatasi masalah ekonomi, sosial dan lingkungan di daerahnya secara terpadu dengan memanfaatkan potensi daerahnya.

Sementara itu, Ferdinandus Watu, sosok muda entrepreneur dari Kabupaten Ende yang telah menjalankan program kewirausahaan berbasis ekowisata mengemukakan peran orang muda dalam ekonomi berkelanjutan sangat penting.

Menurut owner Lepalio café ini, ada kebahagiaan tak terkira ketika terlibat langsung dalam kewirausahaan berkelanjutan.

“Dengan ekowisata yang kami kembangkan, salah satu contohnya adalah mengajak tamu atau wisatawan yang datang berkunjung menikmati hidup harian warga di kampong,” ujarnya.

Ia menceritakan, tamu diajak panen kacang lalu membuat produk selai kacang, panen cengkeh dan mengeksplorasi teh mint dengan daun mint dan cengkeh.

Ada lagi mengunjungi petak sawah, membersihkan pematang sampai meninjau bagaimana lombok organik bertumbuh. Jadi tamu atau wisatawan benar-benar bahagia dengan konsep yang ditawarkannya.

“Ada kedekatan yang istimewa. Ketika mereka datang, mereka itu tamu tapi ketika mereka pulang mereka sudah menjadi keluarga.Ya, bisa dibilang datang sebagai tamu pulang sebagai keluarga,” demikian cerita Ferdinandus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here