Natalia Inggritha Deppa (Dok. Pribadi)

Waingapu, Ekorantt.com – Setiap orang memiliki caranya tersendiri untuk mengekspresikan perasaan terhadap sesuatu yang ia cintainya. Bisa saja sama dengan orang lain. Tapi ada juga yang punya cara unik dan khas.

Natalia Inggritha Deppa, atau yang akrab disapa Natalia, misalnya mengekspresikan cintanya kepada tenun Sumba dengan mengenakan sarung khas Sumba dalam kesempatan apa saja.

Natalia gencar menyebarkan #SetiapHariPakaiTenun melalui akun media sosialnya. Tagar (tanda pagar) ini selalu ia kampanyekan kepada semua pengikutnya di sosial media.

#SetiapHariPakaiTenun adalah gerakan memakai tenun setiap hari dalam segala momen.

“Semua orang pakai media sosial. Media sosial cukup efektif untuk promosi dan mengajak orang-orang memakai tenun,” ungkapnya kepada Ekora NTT.

Kepada pengikutnya di media sosial, Natalia sangat antusias menjelaskan sarung tenun yang ia pakai beserta makna motifnya. Sejumlah orang merespon positif dan langsung ikut dalam gerakan #SetiapHariPakaiTenun.

Komentar miring juga tak bisa dielakkan. Beberapa orang merasa bosan, berlebihan, bahkan kampungan. “Tapi saya merespon dengan bodoh amat. Saya tetap semangat pakai tenun”.

Saat mengikuti ajang Puteri Pariwisata, Natalia sempat dihadapkan dengan pertanyaan; “Apa yang akan kamu lakukan untuk pariwisata NTT?”

Ia tidak berjanji untuk hal yang muluk. Satu jawabannya bahwa ingin memengaruhi lebih banyak orang, terutama orang NTT untuk memakai dan mencintai tenun.

Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu memakai tenun setiap hari. Hal ini serius ia lakukan. Ia menggunakan tenun, entah itu baju, rok, celana, dan aksesoris lainnya.

Dengan bangga, ia memadukan tenun dalam fashionnya, baik saat ke kampus, sekadar jalan-jalan, atau saat mengikuti acara formal dan non formal lainnya.

“Saat ini saya cukup fokus memakai teknik draping, yaitu menata kain tanpa menggunting pola atau jahitan yang diinspirasinya dari seorang desainer, Wahyu Perdana,” ungkap Natalia kepada Ekora NTT.

Tertarik pada Tenun

Natalia tumbuh dan besar dalam keluarga yang majemuk. Ayahnya dari Ende. Sementara ibunya berasal dari Sabu. Ia lahir di Waingapu, Sumba Timur.

Alumni SMAK Andaluri ini menekuni tari tradisional sejak kecil. Ia belajar dari sang ibu. Ia sangat menguasai tari tradisional Sumba seperti Tarian Kandingan, Kabokangan dan Panampang Baru.

Prestasi menari gadis kelahiran 1997 yakni menjadi salah satu penari dalam seremoni pembukaan dan penutupan Asian Games 2018 di Jakarta.

Saat masih duduk di bangku SMA, Natalia pernah mengikuti ajang Rambu Sumba Timur tahun 2014. Luar biasanya, ia terpilih menjadi Rambu Sumba Timur. Pada tahun yang sama, ia meraih juara 2 Duta Wisata NTT 2014.

Berkat kerja keras dan semangat yang tinggi, ia meraih juara 3 Puteri Pariwisata Indonesia tahun 2016. Ya, modal bakat menari, kecerdasan, kepribadiannya yang baik, Natalia mampu mengharumkan tanah Sumba dan NTT.

Sejak kecil, Natalia memang kesulitan menguasai bahasa Sumba. “Dulu kalau belajar bahasa susah. Dari kecil mama memang biasakan saya dengan kain tenun dan dari situ saya belajar banyak soal tenun. Sejak saat itu saya belajar tenun, menggali makna dan pesan dari setiap motif tenun”.

Kini Natalia berada pada semester 8 di Fakultas Hukum Kampus Krisnadwipayana Jakarta. Ia sibuk melakukan penelitian skripsi.

Menariknya, ia berfokus pada penelitian tentang perlindungan hukum atas sarung tenun Sumba Timur. Selain sibuk kuliah, ia sering menerima desain pakaian tenun dari pelanggan.

Natalia memang sangat tertarik dengan sarung tenun NTT. Baginya tenun menunjukkan siapa diri kita di hadapan orang lain. “Tenun itu identitas, setiap daerah punya kekhasannya berbeda dan itu sangat menarik,” ucapnya.

Literasi Tenun

Bagi Natalia, tenun merupakan warisan berharga. Generasi sekarang bertugas melestarikannya. Nah, karena itu dibutuhkan literasi tenun untuk anak-anak muda.

“Kalau mereka hanya tahu pakai, bagaimana mereka mau lestarikan tenun? Pada masanya anak muda atau keturunan kita mungkin tidak akan melihat tenun dalam keadaan nyata,” kata Natalia.

Natalia mengakui, literasi tenun di NTT sangat minim. Dulu ia sempat belajar tenun di sekolah, tapi hanya sebatas teori. Sedangkan prakteknya, ia belajar di luar kelas.

Menurut Natalia, kurikulum sekolah di NTT harus menyediakan ruang khusus bagi peserta didik untuk belajar tenun. Pendidikan menjadi salah satu jalan untuk mewarisi kekayaan tenun di NTT.

“Pemerintah provinsi dan daerah harus peka, tidak bisa lepas tangan dengan masa depan tenun kita,” harapnya.

Aty Kartikawati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here