Masyarakat Wuring membersihkan sampah di kampung itu. RIONUWA/EKORANTT

Oleh Rio Nuwa

Anggota Komunitas KAHE

Tepat pukul 06.30 Wita, Tika membangunkan saya. Studio KAHE yang letaknya di Lokaria, jalur jalan Maumere-Larantuka tampak sepi seperti biasanya.  Aktivitas di studio KAHE seperti kelas teater, klub baca, nonton film hingga diskusi tentang geliat kota dan anak-anak muda biasanya baru berlangsung pukul 10.30 Wita. Kebiasaan “bangun telat” menurut jadwal dan pendapat konvensional (seperti jadwal birokrasi, institusi pendidikan atau lembaga swasta) dimaklumi. Sebab, aktivitas di studio biasanya baru berakhir pukul 02.00 – 03.00 dini hari. Akibatnya, waktu bertemu untuk setiap hari berganti mesti molor hingga tengah hari. Itulah sebabnya, Tika mesti datang lebih awal dari waktu biasanya sehingga jadwal kami ke Kampung Wuring tidak berubah.

Bersama Remaja Masjid dan warga Wuring RW 08, kami, komunitas KAHE telah membuat janji. Hari itu, Jumat 12 Maret, kami akan terlibat dalam kegiatan pembersihan kampung.

Kampung Wuring tampak ramai saat kami tiba pagi itu. Mobil-mobil pengangkut ikan tampak keluar dari kampung. Di dalam mobil pengangkut itu tampak box-box ikan berwarna coklat kehitam-hitaman disusun berlapis. Aroma ikan tercium. Namun, keriangan anak-anak yang dibalut atribut seragam yang digunakan menuju sekolah memberi gairah visual tersendiri.

Kami memarkir motor tepat di sisi Barat, seberang jalan Masjid Ar-Rahmat Wuring. Tika dan saya menanti arahan Bapak Ali Akbar, seorang bapak yang dipercaya warga sebagai ketua Remaja Masjid. Kami telah bertemu Bapak Ali sebelumnya, saat ide tentang keterlibatan kami dalam kegiatan ini diputuskan. Saat itu, Bapak Ali sedang memberi pengumuman, meminta partisipasi seluruh warga RW 08 untuk terlibat dalam kegiatan pembersihan kampung hari itu. Sementara itu, beberapa sahabat KAHE yang bergerak dari rumahnya masing-masing belum juga menunculkan batang hidungnya.

Selesai memberi pengumuman melalui alat pembesar suara di masjid itu, ia menuju tiga orang bapak yang sedang duduk beristirahat setelah semalam kembali dari laut. Saya sambangi beliau, menyulut sebatang rokok, dan terlibat perbincangan hangat.

“Kemarin, di RW sebelumnya, mobil pengangkut sampah mesti pulang tanpa isi. Tidak ada warga yang bekerja membersihkan kampung di sana.” Ia memulai. Saya menyimak.

Kabupaten Sikka memang telah ditetapkan sebagai daerah dengan status kejadian luar biasa (KLB) akibat demam berdarah. Media online Tirto menulis sampai Selasa (10/3/2020) sebanyak 1.216 kasus DBD dengan jumlah kematian mencapai 14 orang. Itu sebabnya pemerintah membuat peraturan agar segenap institusi dan masyarakat terlibat dalam pembersihan di masing-masing wilayah desa, kelurahan, dan kecamatan.

Hari-hari itu, sejak pengumuman itu disampaikan, Kota Maumere, ibu kota kabupaten Sikka ramai dengan aktivitas pembersihan. Anak-anak sekolah turun ke jalan. Warga di setiap kelurahan dan kecamatan pun terlibat. DBD menyatukan warga. Tetapi, agaknya berlebihan jika sebagian mahasiswa memilih jalur demonstrasi untuk mengungkapkan kegelisahannya.

Setelah untuk kedua kalinya Ali Akbar mengumumkan bahwa akan ada pembersihan di wilayah itu, tampak serombongan ibu keluar dari masing-masing rumahnya. Lima sampai enam ibu berkumpul, menggotong sapu dan karung bekas sebagai kotak sampah. Mereka adalah para ibu rumah tangga yang juga aktif menjadi kader Posyandu.

Pembersihan itu mulai dengan menyisir lokasi sekitar masjid, seterusnya menyusur ke utara, di antara rumah warga. Dimulainya kegiatan pembersihan itu menjadi ajakan positif bagi warga sekitar. Beberapa ibu tampak menyambut inisiatif itu dengan mulai bekerja; mengambil sapu dan membersihkan rumah, meski beberapa pria hanya tersenyum pasrah saat kami lewat di antara penantian mereka; menunggu pelanggan ojek.

Bapak Ali memimpin rombongan. Remaja masjid satu per satu bergabung. Mereka adalah remaja perempuan yang berinisiatif aktif layaknya kader Posyandu yang sudah bergabung sejak awal pembersihan itu dilaksanakan.

“Kalau setiap hari kita buat pembersihan begini, satu jam atau tiga puluh menit sebelum kerja, pasti kampung bersih.” Demikian ungkap ibu Sahodah, salah seorang kader Posyandu yang cukup aktif dalam kegiatan bersih-bersih pagi itu.

Selain ibu Sahodah, ada hampir enam ibu-ibu kader Posyandu yang bergabung pagi itu. Mereka tidak hanya aktif bekerja, ide dan pendapat mereka pun terdengar segar.

Sampah plastik bertaburan sepanjang jalan. Banyak yang menumpuk di bawah rumah warga yang berdiri membentuk rumah panggung. Kami hampir tidak menemukan sampah organik selama pembersihan itu. Barangkali pola konsumtif warga akan produksi kapitalisme telah terbentuk di kampung itu. Ini tidak bedanya dengan kehidupan warga di luar wilayah pesisir. Di daerah darat misalnya, sampah-sampah di jalur got membusuk menyebarkan aroma tak sedap.

“Sampah-sampah di bawah ini tidak berasal dari rumah di sini. Ini berasal dari laut. Gelombang laut bawa sampah ke sini.”

Ibu Loma, salah seorang warga yang tinggal di wilayah kampung Wuring sebelah Barat menyampaikan kepada saya apa yang terjadi di situ. Saya menyimak.

Menurutnya, jika musim Barat datang, sampah-sampah yang terapung di atas laut terseret arus ke bawah rumah apung yang mereka tempati. Akibatnya, lokasi tersebut terlihat kumuh akibat tumpukan beragam jenis sampah. Padahal, perjalanan sampah-sampah itu punya sejarahnya.

Saya mendengar ibu Loma bercerita sambil mengamati lokasi yang menjadi rujukan ceritanya.

Memang logis, jika ditelusuri, sampah-sampah itu tidak serta merta berasal dari lingkungan keluarga beberapa warga sekitar. Ia punya sejarah perjalanan sendiri. Itu sebabnya ganjil jika  salah seorang anggota DPRD kabupaten Sikka yang sebelumnya, saat wacana tentang penutupan Pasar Wuring dilontarkan, menyebut lokasi pasar itu ada di daerah kumuh. Padahal, sebagai salah seorang anggota dewan perwakilan rakyat daerah yang posisinya strategis sebagai penyambung lidah rakyat, pernyataan-pernyataan yang bernuansa stereotipe itu mestinya  tidak terjadi; atau pernyataan itu tidak serta merta hasil pemikiran kursi legislatif yang hangat dan lembut itu, tetapi hasil persentuhan dengan masyarakat dan sejarah hidupnya.

Kami terus menyusur sepanjang wilayah Barat pesisir pemukiman itu. Sepintas terlihat bahwa tidak banyak yang terlibat. Tetapi, tidak terlibat pembersihan sama sekali juga bukan pilihan yang tepat. Perempuan-perempuan itu tampak bersemangat. Berdiri di barisan depan. Sementara mungkin sebagian pria masih dalam pelayaran mencari ikan untuk dipasok ke ibu kota kabupaten ini.

Kami masih di sana, bersama warga RW 041 dan beberapa teman KAHE yang telah bergabung saat pembersihan itu lewat sepuluh menit. Hari hampir siang saat hujan turun perlahan. Itu sisa hujan yang dibawa angin. Perempuan-perempuan itu masih di barisan depan membersihkan sampah di wilayah itu; seperti instruksi yang disampaikan bupati. Kami harus kembali ke studio saat itu; mempersiapkan diri untuk rencana kami selanjutnya bersama teman-teman di Wuring. Di jalan pulang, kepala saya mengingat mereka; perempuan-perempuan itu, yang bergerak dan memulai pembersihan; juga kepada para mahasiswa yang berdemonstrasi menanggapi wabah demam berdarah di kabupaten ini. Lonte!*

*Dikutip dari poster demo mahasiswa menanggapi wabah DBD (Pemprov NTT Lonte -loding telat – menyikapi DBD).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here