Guru, Kinerjanya, dan Pembangunan Daerah

Oleh: Rully Raki

Ada sebuah kisah klasik dari negeri Jepang yang mungkin sudah banyak didengar orang, tetapi baik juga untuk diulangi di kesempatan ini. Kisah itu menceritakan tentang pertanyaan Kaisar Hirohito, kaisar ke-142 Jepang. Pertanyaan yang singkat namun sarat akan makna.

Di tengah hiruk pikuknya situasi negara, setelah kengerian terjadi Hirosima dan Nagasaki pasca bom atom dijatuhkan pada tahun 1945, beliau bertanya berapa jumlah guru yang hidup? Pertanyaan singkat yang penuh arti sekaligus membuat bingung para jendral yang sedang dikumpulkan sang kaisar.

Jauh dari banyangan banyak yang berkumpul di situ, pertanyaan ini sebenarnya merupakan pertanyaan tentang fundamen utama pembangunan sebuah negara. Pembangunan negara hanya bisa berjalan baik jika pembangunan bangsanya atau manusianya juga berjalan baik (Ozturk, 2018). Jika demikian, maka premis ini tentu akan menempatkan para guru sebagai ujung tombak dalam kerja pembangunan manusia.

Sudah sejak zaman terdahulu, guru telah memainkan peran yang penting sebagai pendidik dan mentor para anak didik. Peran itu dimainkan dalam membentuk dan mendidik manusia.

iklan

Tokoh-tokoh besar seperti Aritoteles atau Martin Heidderger, mempunyai guru-guru hebat seperti Plato dan Edmud Husserl. Pesepekbola kenamaan dunia seperti Lionel Messi atau Cristioano Ronaldo pun bisa jadi hebat karena ada di bawah asuhan pelatih atau mentor seperti Pep Guardiola atau Zinedine Zidane.

Kehadiran dan peran atau pun juga kinerja seorang guru sangat memberikan pengaruh, baik secara fisik maupun psikis, mereka yang didampingi. Pengaruh ini pun akan terus tertanam dan menjadi bagian hidup dan kepribadian dari mereka yang didampingi (Kazi & Aziz, 2018).

Jika pengaruh itu baik dan terus dirawat, maka besar kemungkinan mereka yang didampingi akan tumbuh dan berkembang menjadi baik. Namun jika sebaliknya, maka bisa dipastikan hal yang tidak baik akan terjadi pada mereka yang didampingi. Itulah mengapa banyak orang mengatakan guru kencing berdiri dan murid kencing berlari. Pengaruh yang ditinggalkan para guru akan menjadi model dan bagian integral dari kehidupan anak didik di masa depan.

Urgennya peran dan kehadiran guru juga mempunyai efek lanjutan. Bahwa kehadiran guru mestinya bisa membawa perubahan dan pembangunan manusia ke arah yang lebih baik. Namun pada peringatan Hari Guru Nasional ke-27 pada 25 November 2021 ini, di banyak wilayah di tanah air, masih menunjukkan problem-problem yang berkaitan dengan eksistensi guru dan kinerjanya.

Di Nusa Tenggara Timur misalanya, permasalahan tentang pengingkatan sumber daya manusia sangat berkaitan dengan guru. Masalah ini bisa diuraikan mulai dari mutu guru sampai dengan sarana dan pra sarana penunjang kinerja guru.

Ada masalah ketidakseimbangan antara pendidikan yang dijalankan, dengan kenyataan yang ditemukan di lapangan. Teori-teori yang diajarkan belum bisa dipraktikkan secara baik di lapangan. Akibatnya guru yang dihasilkan hanya punya ijazah namun tidak diimbangi skill yang memadai.

Ketersediaan fasilitas maupun infrastruktur yang layak bagi proses pendidikan pun kerap menjadi problem yang mesti dihadapi guru-guru di pelosok. Ada guru yang mesti menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai di sekolah. Ada juga proses belajar yang tidak bisa berjalan karena fasilitas sekolah yang terbatas.

Di samping itu, masih banyak juga guru yang masih harus berjuang dengan gaji yang pas-pasan dan bahkan harus mencari pekerjaan sampingan. Hal ini tentunya akan mempengaruhi kesiapan mereka dalam mendidik serta membentuk generasi muda. Meskipun di pihak lain tidak sedikit juga para guru ataupun dosen yang mendapatkan dana sertifikasi dari pemerintah. Hal itu juga belum banyak bepengaruh pada kinerja guru.

Jika ditilik, pertanyaan sederhana bisa diajukan di sini; Apakah di NTT, guru atau dosen yang menerima sertifikasi membuat banyak prestasi? Ataukah yang terjadi selama ini ialah pola pikir dan tindak yang kurang tepat tentang pemanfaatan tunjangan itu, yang bukan pertama dan terutama untuk meningkatkan skill dan kompetensi pengajar?

Beberapa hal kiranya bisa menjadi bahan pertimbangan dan sebagai masukan pada momen peringatan Hari Guru Nasional ini.

Pertama, permasalahan pendidikan bukan terutama hanya terletak pada para siswa atau pun sekolah. Banyak orang berpikir bahwa sekolah yang baik dan bermutu ialah sekolah yang bisa menghasilkan murid yang baik atau sekolah dengan fasilitas yang lengkap. Namun kebanyakan orang lupa bahwa semua itu hanya bisa terjadi jika ada peran guru-guru yang hebat dan luar biasa.

Karena itu, siapa pun yang bertanggungjawab soal ini, entah itu pemerintah, swasta, maupun masyaraka luas, tidak boleh hanya menaruh fokus untuk memperbaiki para murid atau pun infrastruktur, tetapi perbaiki dan sediakanlah guru dan dosen yang baik, berkualitas dan kreatif, baik secara rohani maupun jasmani.

Kedua, berkaitan dengan pendapat di atas, maka konsekuensinya, baik itu pemerintah, maupun swasta, di nasional mapun lokal, mesti bisa menyediakan tempat pendidikan dan pembinaan yang baik dan berkualitas bagi para calon guru. Hal ini kemudian menjadi tanggung jawab dari setiap sekolah, terutama dari pihak kampus yang diawasi oleh pemerintah.

Dibutuhkan perhatian khusus terhadap fakultas-fakultas yang berperan menghasilkan para guru. Perhatian itu lebih khusus, baik menyangkut kurikulum, praktik kuliahnya, dan kompetensi lulusan yang dihasilkan.

Ini penting sehingga pendidikan tinggi tidak hanya menghasilkan guru yang punya ijazah. Guru yang dihasilkan mestinya bisa berbuat banyak hal di masyarakat, kerana punya skill, kemampuan analisis, kritis, kreatif. Dengan itu bisa menjadi model dan panutan bagi para peserta didik.

Ketiga, perhatikan apresiasi dan prestasi para guru. Kemungkinan besar, banyak guru yang tidak mengukir prestasi karena tidak adanya penghargaan yang pantas. Untuk itu, pemerintah atau lembaga mana pun tempat para guru bernaung, perlu berpikir serius tentang hal ini. Pengadaan beasiswa bagi para mahasiswa calon guru atau pun para guru yang hendak bersekolah lagi.

Selain program sertifikasi yang sudah ada, perlu dibuat ajang atau lomba bagi para guru, sehingga mengasah kemampuan mereka. Berbagai program seminar ataupun workshop tidak cukup kalau itu tidak diasah melalui ajang atau lomba sebagai praktik dari ilmu yang didapatkan.

Berkaitan dengan hal ini, besaran atau nominal penghargaan bukanlah menjadi masalah utama. Sebab, hal yang penting ialah adanya apresiasi dan terima kasih untuk prestasi dan kinerja para guru.

Akhirnya, pengandaian yang cukup sederhana yang bisa diangkat bahwa pohon akan bertumbuh dengan baik dan subur, jika pohon itu ditunjang oleh keberadaan akar yang kuat. Maka murid atau pun dunia pendidikan akan menjadi baik, jika ditopang oleh guru-guru yang baik dan berkualitas.

Bapak bangsa Vietnam, Ho Chi Minh pernah berkata,“No teacher, no education, no education no economic and social development“.

Untuk itu, perlu langkah memperkuat fundamen yakni kualitas dan kinerja para guru. Setelah itu pekerjaan untuk memperkuat dan membangun manusia ekonomi dan sosial, tidak akan menjadi hal mustahil.

Sebagai orang NTT, kita bisa optimis akan membangun pendidikan yang baik dan berkualitas sebagai modal untuk membangun daerah dan negara. Selamat Hari Guru Nasional.

*Penulis adalah Akademisi STPM St Ursula-Ende

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA