Guru SD Nagekeo Bahas Perkembangan Literasi dan Numerasi Siswa Bersama Menteri

Mbay, Ekorantt.com – Stacia Alessandra Nau, guru kelas 2 SDI Rata, Kabupaten Nagekeo, NTT, membahas perkembangan literasi dan numerasi siswa di daerah bersama Meteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim di Jakarta, Selasa, 26 September 2023.

Pembahasan yang dikemas dalam gelar wicara merupakan salah satu mata acara peluncuran buku Bangkit Lebih Kuat: Studi Kesenjangan Pembelajaran oleh Menteri Nadiem dan Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Stephen Scott.

Gelar wicara yang dipimpin pihak INOVASI, Rasita Purba, menghadirkan nara sumber diantaranya, Menteri Nadiem, Stacia, dan Bupati Bulungan, Kalimantan Utara, Syarwani. Acara itu disiar secara langsung melalui chanel Youtube.

Stacia menjelaskan tentang tantangan penerapan pembelajaran sebelum dan sesudah pandemi Covid-19 di daerah.

“Selama pandemi, kami tidak bisa melakukan pembelajaran secara daring. Akses internet terbatas, siswa tidak punya gadget. Sehingga kami gelar belajar door to door,” ujar dia.

iklan

Sistem pembelajaran tidak berjalan secara efektif, kata Stacia. Jam pembelajaran menjadi berkurang. Para guru dan siswa tidak lagi mengatur pembelajaran bersama seperti sedia kala.

Akibatnya, pasca pandemi, timbul permasalahan pada diri anak. Literasi membaca anak merosot tajam.

“Ada siswa yang semula bisa membaca lancar jadi berubah tidak bisa membaca lagi,” ujar Stacia.

Praktik baik program INOVASI yang merupakan kemitraan Indonesia dan Australia mengantar kemajuan literasi anak secara signifikan selama enam bulan penerapan.

Stacia mengatakan transformasi pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran diferensiasi mampu mengatasi permasalahan literasi di kelas awal.

“Kami mulai mengelompokkan sesuai dengan kemampuan anak. Hasil evaluasi guru ternyata ada kemajuan membaca secara signifikan,” katanya.

Implementasi Kurikulum Merdeka

Sejalan dengan program literasi dan numerasi, Stacia menambahkan para guru di SDI Rata dan Nagekeo pada umumnya sudah menerapkan kurikulum merdeka yang dicetuskan Menteri Nadiem.

Fasilitator Daerah (Fasda) Numerasi itu menyatakan kurikulum merdeka di SDI Rata sudah diimplementasikan di kelas 1, 2, 4, dan 5.

“Kami sudah mengakses platform merdeka mengajar (PMM) dan melakukan aksi nyata (penginputan) tinggal divalidasi dalam PMM,” tutur dia.

Stacia menambahkan para guru di SDI rata sudah membentuk kelompok kerja guru (KKG) mini di sekolah untuk meningkatkan literasi dan numerasi. Kelompok itu dibentuk untuk memperkuat kemampuan guru di tengah kondisi sekolah dengan topografi yang sulit diakses oleh siswa.

“Sekolah kami berada di pinggir sungai. Ada siswa yang harus menyeberangi sungai saat pergi dan pulang sekolah,” ujar Stacia.

Guru Lebih Mengetahui Kondisi Anak

Menteri Nadiem menyatakan setidaknya guru lebih mengetahui kondisi kemampuan anak dan iklim pembelajaran di sekolah. Pemerintah, lanjutnya, hanya mengeluarkan kebijakan berdasarkan laporan secara akuntabilitas.

Ia menerangkan bahwa kurikulum merdeka diterapkan untuk mengatasi krisis belajar. Permasalahan krisis belajar bukan terjadi saat Covid-19, tetapi jauh sebelumnya.

“Hasil UN dipaksakan. Kurikulum dipaksa gede dan lebih fokus pada kejar tayang. Anak bertumpuk membawa buku ke kelas. Ya, jelas anak ketinggalan dengan sistem itu,” ujar dia.

Nadiem mengatakan filsafat guru sangat berbeda, bukan salah guru tapi salah pengambil kebijakan sebagai administrator. Akuntabilitas terlihat ke atas (guru-kepsek-pengawas-menteri).

Permasalahan itu membuat pemerintah meluncurkan kurikulum merdeka yang mengacu pada kemampuan anak agar guru mampu beradaptasi dengan pembelajaran dalam kelas.

“Kurikulum merdeka memberi kesempatan kepada guru untuk mengajar satu topik dalam satu minggu. Anak kelas enam bisa belajar ulang pelajaran di kelas empat,” jelas Nadiem.

Ia kembali menyatakan bahwa guru adalah garis terdepan untuk mengentas permasalahan sumber daya generasi sejak dini. Guru disebut lebih mengetahui kemampuan literasi dan numerasi anak di kelas awal.

Sehingga ia berpesan kepada guru agar bukan menjadikan siswa sebagai objek melaikan partisipan.

“Di ruang kelas harus percaya kemampuan anak. Setiap anak kemampuan (literasi dan numerasi) harus ada kemajuan,” kata dia menandaskan.

TERKINI
BACA JUGA