Misa Leja Tana Watu, Pater Charles Beraf: Petani Dipanggil untuk Kembangkan Pertanian Berbasis Alam

Hampir di semua rumah, kata Mama Grasiana, umat Detukeli menanam beragam tanaman pekarangan berbasis tanaman lokal untuk menunjang kebutuhan pangan mereka. 

Ende, Ekorantt.com – Peringatan Hari Bumi sebagai bentuk upaya menyadarkan manusia untuk menghargai bumi sebagai ruang hidup dirayakan tiap tahunnya pada tanggal 22 April.

Di Paroki Detukeli, Keuskupan Agung Ende, perayaan hari bumi dirayakan pada Minggu, 21 April 2024 lewat perayaan Misa Leja Tana Watu atau misa hari bumi sekaligus merayakan Hari Minggu Panggilan Sedunia.

Mengusung tema “Merawat Ibu Bumi, Bertani Ramah Lingkungan”, perayaan Ekaristi ini diikuti oleh umat paroki dan para tamu undangan.

Pater Sergius H. Ratu, SVD, Pastor Paroki Wolowaru sekaligus Rektor Distrik SVD Ende Lio, selaku selebran misa (Imam pemimpin dalam Perayaan Ekaristi) dalam pengantarnya mengatakan, Misa Perayaan Hari Bumi merupakan ajakan bagi umat untuk sadar akan bumi sebagai ruang hidup.

iklan

“Hari bumi mengingatkan kita akan pentingnya menjaga alam ciptaan,” kata Pater Sergius.

Pater Sergius dalam kotbahnya mengatakan, panggilan bersama umat beriman adalah merawat lingkungan sebagai ruang hidup bersama.

Panggilan itu, lanjutnya, telah ada jauh sebelum ditetapkannya peringatan hari bumi sebagaimana biasa diperingati setiap tahunnya pada tanggal 22 April. Panggilan itu bermula sejak manusia ada dan hidup di bumi.

Usaha untuk merawat bumi merupakan tugas semua manusia dan harus dimulai dari hal-hal kecil, dengan tidak membuang sampah sembarangan, dengan menjaga air, dan tidak melakukan hal-hal yang merusak tanah dan lingkungan.

Panggilan Merawat Bumi

Selaras dengan Pater Sergius, Pastor Paroki Detukeli Pater Charles Beraf, SVD mengatakan, perayaan hari Bumi bertepatan dengan Hari Minggu Panggilan Sedunia adalah untuk mengajak umat beriman berefleksi bersama.

“Kita memilih tanggal 21 untuk merayakan hari bumi sekaligus minggu panggilan untuk memaknai semua perjuangan kita di kebun sebagai panggilan, panggilan untuk mengikuti Yesus,” kata Pater Charles kepada wartawan setelah perayaan Ekaristi.

Panggilan umat beriman, kata Pater Charles, adalah untuk merawat bumi dan untuk mengembangkan pertanian berbasis alam dalam konteks umat/masyarakat Detukeli yang mayoritas petani.

“Dalam konteks masyarakat Detukeli dengan 99 persen umat atau masyarakatnya adalah petani, arti panggilan yang sesungguhnya adalah merawat alam dan mengembangkan pertanian berbasis alam,” kata Pater Charles.

“Hari ini kita dipanggil untuk menjaga kosmos, jangan bikin chaos (kacau – red.).”

Misa Leja Tana Watu atau Misa Hari Bumi merupakan bentuk usaha membangkitkan kesadaran umat akan panggilan itu. Usaha tersebut, kata Pater Charles, mesti terus dilakukan.

Pendekatan yang dilakukan pun harus berbasis konteks masyarakat.

“Kita mulai dengan apa yang mereka punya, apa yang mereka paham, apa yang ada pada dunia mereka.”

“Karena tantangan paling utama adalah untuk membangun kesadaran (umat),” kata Pater Charles.

Misa Leja Tana Wawo, Pater Charles Beraf_ Petani Dipanggil untuk Kembangkan Pertanian Berbasis Alam1
Peresmian Kebun Agroliterasi dan Ekoliterasi Paroki Detukeli (Foto: Risto Jomang/Ekora NTT)

Meresmikan Kebun Agroliterasi dan Ekoliterasi

Dalam perayaan Ekaristi merayakan Hari Bumi dan Hari Minggu Panggilan, Paroki Detukeli juga mengadakan pemberkatan benih lokal dan peresmian Kebun Agroliterasi dan Ekoliterasi.

Pemberkatan benih bertujuan untuk meminta berkat Tuhan atas benih-benih lokal milik masyarakat agar ketika ditanam dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik dan menghasilkan pangan yang baik bagi penghidupan masyarakat.

Sedangkan kebun agroliterasi dan ekoliterasi menjadi usaha paroki untuk membangun kesadaran umat akan pertanian yang berbasis lingkungan.

Pater Charles mengatakan, lahirnya agroliterasi dan ekoliterasi berangkat dari keprihatinan bahwa semangat atau roh pertanian dalam tubuh gereja mulai luntur dan perlahan hilang.

“Kita ingin bangkitkan itu,” kata Pater Charles.

Pembentukan agroliterasi dan ekoliterasi pun berbasis pada lokalitas masyarakat.

“Tujuannya agar umat melek terhadap apa yang ada pada dia. Yesus membagikan lima roti dan dua ekor ikan. Kita bisa, dengan kekuatan pangan lokal kita bisa mengatasi masalah kelaparan dan kesehatan.”

Soroti Pangan Lokal

Pater Charles menyoroti kecenderungan tergerusnya pangan lokal akibat anak-anak dan orang muda cenderung memilih makanan instan yang tidak diketahui kadar gizinya.

Agroliterasi Paroki Detukeli, kata Pater Charles, juga bertujuan mendorong anak-anak dan orang muda untuk mengenal dan memahami pangan lokal sekaligus mengonsumsi pangan lokal.

Selama ini, kata Pater Charles, telah dilakukan literasi dari tingkat Paud hingga Perguruan Tinggi.

Dalam konteks masyarakat petani Detukeli, lanjutnya, terdapat banyak pangan lokal yang memiliki peran sangat penting, seperti jali-jali untuk memperbanyak dan meningkatkan kualitas air susu ibu, serta ada sejenis kacang merah yang sangat bagus untuk menjaga kesehatan jantung.

“Sebenarnya yang lokal itu yang sehat, tapi kita pinggirkan,” kata Pater Charles.

Salah satu umat dari Stasi Gesa, Mama Grasiana Deno mengatakan usaha yang dilakukan Paroki Detukeli memang dirasakan semua umat.

Ketika mengunjungi stasi, Pater Charles selalu menekankan pentingnya pertanian berbasis lingkungan dan pentingnya mengonsumsi dan mempertahankan pangan lokal.

Hampir di semua rumah, kata Mama Grasiana, umat Detukeli menanam beragam tanaman pekarangan berbasis tanaman lokal untuk menunjang kebutuhan pangan mereka.

“Kami sangat senang dengan (usaha) Pater. Pater orangnya disiplin. Kami juga sangat senang hari ini,” kata Mama Grasiana.


Penulis: Risto Jomang

TERKINI
BACA JUGA