Kupang, Ekorantt.com – Pada tahun 2013 silam, Maria Margaretha Dua Mite mulai menemukan jalan hidup yang bukan cita-citanya sejak awal.
Ia memilih bergabung di gerakan koperasi, hal yang bertolak belakang dengan mimpinya. Padahal, awalnya Maria bercita-cita menjadi aparatur sipil negara (ASN).
“Sebenarnya bergabung di gerakan koperasi bukan cita-cita saya. Karena basic saya sarjana perikanan,” ujar Maria dikutip dari YouTube UMK Auvi.
“Saya ingin menjadi seorang PNS di Dinas Perikanan atau di Kementerian Kelautan dan Perikanan.”
Maria kini menjabat sebagai Manajer Area Timor Barat KSP Kopdit Pintu Air, setelah menapaki perjalanan panjang dari karyawan training hingga memimpin sembilan cabang dan kantor cabang pembantu di Pulau Timor.
Kesembilannya yakni, Cabang Kupang, Cabang Oesao, Cabang Soe, Cabang Kolbano, KCP Alak, KCP Semau, Cabang Rote, KCP Pantai Baru, dan Cabang Sabu.
Kisah Maria bergabung di Kopdit Pintu Air tak ujuk-ujuk berjalan mulus. Usai tamat kuliah cukup susah baginya untuk mendapatkan lapangan pekerjaan.
“Saya pernah tes di BPS, Kantor Gubernur, Kantor Wali Kota, Dinas Pertanian. Namun rezeki saya mungkin bukan menjadi seorang ASN,” katanya.
Sebelum menjadi karyawan Kopdit Pintu Air, ia pernah menapaki pekerjaan sebagai Penitia Pengawas Pemilu Kecamatan (Panwascam).
Maria memilih bergabung di Kopdit Pintu Air setelah berdiskusi dengan almarhum ayahnya yang lebih dulu menjadi anggota. Ibunya juga ikut menjadi anggota Kopdit Pintu Air.
Kala itu, ayahnya menginformasikan bahwa Kopdit Pintu Air akan membuka cabang di Pulau Timor termasuk Kota Kupang.
“Kalau mau harus daftar menjadi anggota Pintu Air,” kata Maria meniru ucapan ayahnya.
Menurut Maria, ayahnya juga mengenal baik Ketua Pengurus Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano. Mereka masih ada hubungan keluarga.
“Akhirnya diminta untuk membuat lamaran resmi. Dan waktu itu saya, suami dan anak, serta mertua didaftar menjadi anggota Kopdit Pintu Air,” imbuh dia.
Usai lamaran diterima, ayah Maria kemudian menyuruhnya untuk datang ke kantor pusat Kopdit Pintu Air yang berlokasi di Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk melaksanakan training.
“Saya diskusi dulu dengan suami. Suami katakan di BPS dan Panwascam memang gajinya besar tapi bersifat sementara. Tapi di Pintu Air walau gaji kecil tapi akan berkelanjutan. Jadi silakan memilih,” kisah Maria.
Maria kemudian memutuskan untuk datang ke Maumere bersama anak keduanya untuk ikut training selama dua minggu di kantor pusat Kopdit Pintu Air.
Usai training, mereka kemudian dikirim ke Kupang, Atambua, dan Kefamenanu. Di sana, mereka bertemu anggota dan ikut melaksanakan kegiatan sosialisasi tentang Kopdit Pintu Air.
“Saat itu Kupang belum ada kantor. Kantor masih di rumah pribadi bapak Alo yang sekarang ketua cabang,” terang Maria.
Saat tour di Pulau Timor pada masa training-nya, ia mengaku bertemu banyak anggota dan calon anggota.
Maria pun belajar berbicara di depan umum, meski memang waktu kuliah pernah bergelut di organisasi kemahasiswaan yang melatih kemampuan public speaking.
Ia berkata, menjadi karyawan training ke karyawan tetap sekitar 1,5 tahun lamanya. Prosesnya bukan perkara mudah dan memakan waktu yang cukup panjang.
“Meski ada hubungan keluarga dengan ketua namun (perlakuan) harus sama. Tidak ada nepotisme dan memang di koperasi ada sistem kekeluargaan,” ujar Maria.
Usai roadshow training di Pulau Timor, Maria menilai masyarakat NTT, khususnya di Timor sangat merindukan koperasi. Karena koperasi ada sistem kekeluargaan dan keuntungannya kembali ke anggota.
“Dari, oleh dan untuk anggota dengan solidaritas yang cukup tinggi,” imbuh dia.
Menurut dia, antusiasme masyarakat mau menjadi anggota Kopdit Pintu Air adalah karena ada dana dukanya.
“Orang mati yang mau bantu orang hidup hanya di Kopdit Pintu Air dengan dana solidaritas dukacita,” ujar Maria.
Ia menjelaskan, semua manusia pasti akan meninggal. Sebab itu, selama masih hidup manusia tentu saja harus menyiapkan diri agar setelah meninggal tak membebankan keluarga yang ditinggalkan dengan menyetor dana solidaritas dukacita Rp10 ribu setiap bulan.
Selain dana solidaritas dukacita, pinjaman di Kopdit Pintu Air juga mudah. Prosesnya tidak dipersulit.
“Beda dengan lembaga keuangan lain yang kalau kita pinjam persyaratan banyak sekali,” tandas Maria.
“Prinsip saya target kerja di Kopdit Pintu Air jangan jadi beban tapi dengan mencintai dan penuh rasa memiliki pasti ringan.”
