Maumere, Ekorantt.com – Awalnya, tak pernah terbersit dalam pemikiran Fransiska Irmayati Subu bisa bekerja dan mengabdikan diri sebagai aktivis di lembaga koperasi.
Namun belakangan wanita yang karib disapa Irma ini telah mantap dengan kariernya di lembaga koperasi dan menjabat sebagai Deputi Operasional Kopdit Pintu Air.
Kantor pusat koperasi ini berada di Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kisah menjadi karyawan koperasi Irma lahir dari perlawanan cara pandang kebanyakan orang. Tahun 2006, tepat di usia 22 tahun, Irma resmi bergabung menjadi karyawan Kopdit Pintu Air.
Ia menyebut, saat itu banyak teman sebayanya yang lulusan sarjana muda beranggapan bahwa bekerja di koperasi tak terlalu bergensi dan tidak menjanjikan.
“Dan kebetulan saat itu bersedia untuk direkrut menjadi tenaga kerja koperasi,” kata wanita lulusan sarjana muda jurusan akuntansi itu, dikutip dari YouTube UMK Auvi.
Irma mengisahkan, sebelum menjadi karyawan Kopdit Pintu Air ia terlebih dulu bekerja di lembaga swasta lain usai tamat kuliah. Namun tepat pada bulan Juni 2006, ia memilih hijrah dan menjadi aktivis koperasi.
“Saya masuk dengan nomor karyawan delapan, baru delapan orang karyawan saat itu,” ungkapnya.
Saat ia bergabung, anggota Kopdit Pintu Air tak lebih dari 1000 orang. Saat itu, beberapa pengurus masih bersusah paya merancang sejumlah strategi untuk mendapatkan anggota, meningkatkan aset, dan lain-lain.
“Saat itu mereka butuh tenaga-tenaga muda untuk bisa membantu,” imbuh Irma.
Awal-awal menjadi karyawan, mereka bersama pengurus Kopdit Pintu Air berjibaku turun ke lapangan untuk bersosialisasi demi mendapatkan anggota baru.
Mereka rutin ke lapangan bahkan hampir tak mengenal hari libur.
“Bahkan hari Minggu kami turun, tidak ada kata libur. Hari raya nasional pun kita hanya ambil libur satu hari yang benar-benar di tanggal merah,” jelas Irma.
Mereka bekerja dengan penuh kerelaan tanpa paksaan seiring dengan motivasi pimpinan lembaga bahwa suatu ketika Kopdit Pintu Air bakal menjadi besar.
Para karyawan pun dengan tekad dan semangat yang sama menjadi petarung demi membesarkan Kopdit Pintu Air.
“Kami tidak pesimistis, kami optimistis sekali bahwa suatu saat Pintu Air bisa dikenal di tingkat nasional,” ujar Irma.
“Kami berjuang bersama untuk mengelola dan menata koperasi yang benar-benar saat itu butuh kekuatan bersama dan kerja tim bersama supaya rencana mengembangkan dan meningkatkan anggota, aset, dan lain-lain bisa terwujud.”
Irma mengaku tantangan terbesar selama turun ke lapangan adalah ketika harus ke daerah pelosok menghadapi transportasi yang susah, serta jalan rusak dan berlubang.
Namun semangat Irma tak lantas pupus. Ia malah bersyukur selama kurang lebih 19 tahun bergabung di Kopdit Pintu Air telah banyak belajar menjadi karyawan yang jujur, disiplin, sabar dan harus tahu bersyukur.
“Apapun situasi dan keadaan yang kita alami di dunia kerja, menghadapi anggota dengan berbagai macam karakter kita harus bisa sabar. Karena dengan satu keyakinan bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita,” pungkas Irma.
Ia juga mengaku bersyukur Kopdit Pintu Air bisa membawanya sampai sejauh ini. Irma bilang, di Kopdit Pintu Air bisa mengenal banyak anggota atau orang, budaya, serta karakter dari berbagai kalangan dan latar belakang.
“Saat saya masuk memang gajinya sesuai UMR (Upah Minimum Regional). Puji Tuhan sekarang bisa menghidupi bukan hanya untuk diri saya sendiri tetapi menghidupkan begitu banyak tenaga kerja, pengelola, manajemen,” ungkap Irma.
Berkat Pintu Air pula Irma saat ini sudah menyelesaikan studi magisternya atau S2.
Di balik perjalanan panjangnya di Kopdit Pintu Air, Irma berpesan agar membangun kebersamaan tak boleh keluar dari filosofi Credit Union yakni ‘saling percaya’.
“Kalau tidak saling percaya maka rasa kekeluargaan, gotong royong serta kerja sama dengan sendirinya hilang,” pungkasnya.
