Larantuka, Ekorantt.com – Enam desa di Kabupaten Flores Timur, terisolasi akibat diterjang banjir lahar dingin Gunung Lewotobi Laki-laki dampak hujan lebat pada Selasa, 3 Maret 2026.
Hingga Kamis, 5 Maret 2026 pagi, akses jalan dari dan ke enam desa tersebut terhambat. Material banjir masih tertimbun di Kali Waimuring atau persisnya di perbatasan Desa Waiula dan Desa Nawokote, Kecamatan Wulanggitang.
Jalur ini juga disebut masuk dalam zona merah bencana erupsi dan banjir. Jalan penghubung ke pusat ibu kota kecamatan ini dilalui empat desa yakni Desa Hewa, Desa Waiula, Desa Ojan Detun, dan Desa Pantai Oa di Wulanggitang serta Desa Riang Baring dan Desa Lewo Awang di Kecamatan Ile Bura. Ribuan warga di sana tak diungsikan karena diklaim berada dalam radius aman.
Warga Desa Hewa, Paskalis Ipir, mengatakan badan jalan di Waimuring dipenuhi batu, kayu, dan pasir. Ketebalan material sekitar tiga meter dengan panjang mencapai kurang lebih 60 meter. Intensitas hujan deras belum landai. Banjir susulan bisa terjadi di sejumlah titik, termasuk di Kali Waimuring.
“Kendaraan roda dua dan roda empat tidak bisa melintas, sepeda motor bisa lewat tetapi sangat sulit dan berisiko,” ujarnya kepada Ekora NTT.
Ia bilang, warga tak bisa mengakses pelayanan kesehatan ke Puskesmas Boru yang jaraknya sekitar 13 kilometer. Begitu pula akses ke sekolah dan pasar untuk belanja kebutuhan pokok.
Anggota DPRD Flores Timur, Abdon Julius, menuturkan harga bahan pokok berpotensi naik drastis apabila jalan itu masih putus. Akses transportasi alternatif lewat Desa Nurabelen dengan rute yang lebih jauh juga dilanda banjir Gunung Lewotobi.
Abdon berkata, kenaikan harga beras hingga Rp20 ribu per kilogram pernah terjadi pada Januari 2025 saat akses jalan di Kali Waimuring putus total.
“Akses pasar untuk beli bahan pokok yang sulit dijangkau sarana transportasi akan berdampak terhadap harga jual. Ini pernah terjadi tahun lalu, beras sampai Rp20 ribu per kilogramnya,” tutur Abdon.
Abdon berulang kali menyuarakan kondisi lapangan dan keresahan warga kepada pemerintah saat rapat di DPRD. Jalur itu pernah dibersihkan dengan alat berat. Namun, intensitas hujan yang tinggi kembali mendatangkan banjir di jalur yang sama.
Meski berada di zona merah, Abdon menyarankan pemerintah agar tetap melakukan perawatan jalan secara rutin karena di sana masih ada aktivitas ribuan warga.
Kepala Pelaksana BPBD Flores Timur, Fredy Moat Aeng, mengatakan alat berat sedang dikerahkan ke lokasi untuk membersihkan material. Pekerjaan di zona merah memang berisiko sehingga membutuhkan kewaspadaan.
“Hari ini alat berat ke lokasi. Mudah-mudahan berjalan lancar. Kondisi jalan ke lokasi memang semakin sulit,” katanya.
Sehari sebelumnya, tutur Fredy, ia bersama Wakil Bupati Ignas Boli Uran, Kadis PUPR, Saul Paulus Hekin, dan staf teknis turun ke lapangan untuk melihat kondisi.
Selain jalan di Waimuring, pembersihan juga difokuskan ke Desa Nurabelen, Kecamatan Ile Bura. Pekerjaan dengan alat berat sudah berjalan sejak Rabu, 4 Maret 2026, namun dihentikan pada pukul 16.00 Wita karena hujan lebat.
Paul Kabelen












