Ruteng, Ekorantt.com – Setiap pagi Wilfrida Inut harus bangun lebih awal untuk menunggu penumpang di pangkalan ojek dekat rumahnya.
Hari-harinya, perempuan asal Waso Ruteng, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai ini bekerja sebagai tukang ojek, pengantar penumpang dengan sepeda motor.
Ketika ada yang memesan, Ida- sapaan karib Wilfrida, selalu sigap untuk mengantar penumpangnya sampai ke tempat tujuan. “Mulai ojek sejak dua tahun lalu,” kata Ida, sapaan Wilfrida, ketika berbicara dengan Ekora NTT pada Kamis, 12 Maret 2026.
Sebelumnya, ia bekerja sebagai buruh harian lepas yang pendapatannya sesuai hari kerja. Bisa dibilang tidak pasti. Tetapi sekarang, wanita berusia 39 tahun itu memilih bekerja sebagai tukang ojek. “Ojek tidak perlu menunggu lama, langsung antar.” Kata Ida.
Memilih bekerja sebagai ojek memang sedikit menantang, apalagi perempuan yang kerap dianggap lemah dalam masyarakat, kata Ida. “Saya syukur dan nikmati saja.”
Namun, pekerjaan menjadi ojek kini menjadi penopang ekonomi keluarganya. Dengan ojek, ia bisa membiayai pendidikan anaknya yang mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Saya harus bisa mengurus itu,” tutur Ida.
Ida mengantar penumpang tidak hanya di Kota Ruteng, terkadang ke Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur dan Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat.
Meskipun sampai sejauh itu, dirinya mengaku selalu berhati-hati agar tidak terjadi kecelakaan lalu lintas. “Intinya saya selalu menekuninya.”
Dalam sehari, kata dia, pendapatannya bisa mencapai Rp100 ribu. Tetapi apabila cuaca hujan, ia hanya memperoleh penghasilan Rp30 ribu sehari.
“Itu di luar beli bensin, tapi saya tetap sisihkan untuk kebutuhan lain,” ujarnya.
Anggota Kopkardios
Elfrida merupakan anggota KSP Kopdit Kopkardios sejak 2019. Pertama kali mengetahui tentang Kopkardios, tutur dia, diberitahu oleh adik kandungnya.
Merasa tertarik, wanita kelahiran 1986 itu memutuskan mendaftar sebagai anggota. “Akhirnya saya melakukan pinjaman awal sejak 2022,” katanya.
Ida bilang, dirinya sudah melakukan lima kali pinjaman. Pinjaman terakhir digunakannya untuk membeli sepeda motor untuk ojek.
Selain itu, berkat Kopkardios, Ida bisa membelikan sebidang tanah dan kini sedang membangun rumah. Untuk membayar angsuran, Ida gunakan pendapatan hasil kerjanya. “Saya sisihkan itu untuk sebagiannya kebutuhan di rumah dan membayar angsuran setiap bulan,” ucapnya.
Ia berharap, Kopkardios semakin maju dan bisa melayani masyarakat-masyarakat menengah ke bawah, terutama yang membutuhkan modal usaha.
Menjadi Teladan
Kisah Wilfrida yang tangguh hendak menjadi teladan bagi anggota lain, kata Ketua Pengurus Kopdit Kopkardios, Pastor Ardus Noveri. “Membanggakan. Dia tidak menyerah dalam keadaan,” ujarnya.
Pastor Ardus pun mendorong anggota lain untuk menabung, sebagai bagian dari persiapan kebutuhan masa depan. “Saya memang punya ide. Bagi ojek yang anggota Kopkardios akan mendapat rompi khusus.”
Dukungan lainnya juga, kata Pastor Ardus, semua anggota Kopkardios yang berada di Ruteng bisa menghubungi Wilfrida apabila membutuhkan jasa transportasi ojek. “Utamanya yang perempuan bisa manfaatkan ini. Sekalian mendukung usahanya.”
Ia menuturkan, “perempuan setara dengan laki-laki.” Sebab itu, perempuan lain juga bisa mengambil posisi seperti ini ketimbang berpasrah pada keadaan. “Kenapa dia bisa?”
Manajer KSP Kopkardios, Marlina Linung mengaku Ida sangat aktif usaha simpan pinjam. Ia juga sangat taat dalam mengangsur pinjaman setiap bulan. “Dia memiliki kemampuan mengembalikan secara baik,” terangnya.












