Maumere, Ekorantt.com – Kopdit Pintu Air mengadakan rekoleksi prapaskah di Aula Sumur Yakob di Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT pada Jumat, 20 Maret 2026.
Rekoleksi ini dipimpin Pembina Rohani Kopdit Pintu Air, Pater Paskalis Patus O. Carm. Ia berpesan kepada segenap pengelola baik pengurus, pengawas, serta manajemen Kopdit Pintu Air untuk tidak bermain-main dengan uang anggota.
Pater Paskalis bilang, bekerja di lembaga keuangan berbasis pemberdayaan seperti Kopdit Pintu Air bukan sekadar urusan angka, bunga atau administrasi, namun bersentuhan langsung dengan martabat manusia.
Setiap hari tentu saja berhadapan dengan anggota yang ingin menyekolahkan anak, membangun rumah atau sekadar bertahan hidup dari usaha kecil.
”Jangan main-main dengan uang koperasi karena kalau kita main-main dengan uang koperasi dosanya dua kali lipat. Hidup kita tidak akan tenang, karena uang koperasi merupakan kumpulan uang untuk harapan hidup dari orang-orang kecil,” kata Pater Paskalis.
Menurutnya, anggota Kopdit Pintu Air sudah sangat banyak. Kopdit Pintu Air juga memiliki kantor cabang dan cabang pembantu hampir menyebar pada semua provinsi di Indonesia.
Di balik perkembangan yang kian pesat, tersimpan tantangan besar, terutama arogansi diri serta keletihan mental akibat tekanan menghadapi kredit macet dan keluhan anggota yang seolah bertumpu di pundaknya.
Tema rekoleksi kali ini adalah ”sesungguhnya anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri jikalau ia tidak melihat bapak mengerjakannya”. Dari tema itu, Pater Paskalis kemudian menekankan Injil Yohanes, Bab 5 ayat 19 tentang meneladani ketaatan anak: bekerja dalam tuntunan bapak.
Pater Paskalis meminta agar dalam diri setiap pengelola perlu ditanamkan tiga pilar penting yang menjadi landasan dalam bekerja melayani anggota.
Ketiganya antara lain; kepekaan untuk melihat atau kepekaan secara rohani. “Melihat di balik angka saat kita memeriksa berkas pinjaman. Apakah kita hanya melihat angka saldo atau ada peristiwa di balik itu yang membutuhkan perhatian dan empati.”
Selanjutnya, kata dia, tradisi pegawai Kopdit Pintu Air seperti doa pagi dan misa Jumat Pertama (Jumper) bukan sekadar formalitas, melainkan cara menyetel frekuensi agar mata batin selaras dengan “apa yang Tuhan ingin kerjakan hari itu.”
Menurut Pater Paskalis, tanpa visi rohani kantor hanyalah tempat untuk mencari nafkah. Sebaliknya, dengan visi rohani maka kantor tentu saja menjadi ladang pengabdian.
”Pegawai sebelum membuka komputer atau sebelum turun ke lapangan diam selama 30 detik, katakan Tuhan izinkan aku melihat apa yang ingin Engkau lakukan bagi anggota hari ini melalui tanganku,” ajak Pater Paskalis sembari menambahkan tugas kita adalah berdoa dan bekerja atau ora et labora.
Pilar berikutnya adalah penyangkalan diri. Hal ini lebih berhubungan dengan integritas. Di lembaga Kopdit Pintu Air, penyangkalan diri adalah fondasi utama integritas. Tanpa pilar ini profesinalisme akan runtuh oleh keserakahan.
Pesan penting dari penyangkalan diri adalah melawan ego. Di Pintu Air godaan terbesar adalah merasa memiliki kuasa atas uang atau posisi.
Penyangkalan diri berarti menolak menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi atau memanipulasi data demi dinilai baik oleh atasan.
“Pesan untuk kita, pekerjaan yang didorong oleh ego akan melemahkan, tetapi pekerjaan yang didorong oleh penyangkalan diri akan menyemangati.”
“Bagi kita integritas adalah apa yang kita kerjakan saat tidak ada pimpinan yang melihat namun kita tahu bahwa pimpinan sedang melihat,” terang Pater Paskalis.
Menurutnya, keselarasan tindakan sebagai bagian dari perofesionalisme kristiani.

Refleksi Personal
Ia mengatakan, setiap anggota yang datang ke Kopdit Pintu Air adalah citra Allah yang sedang berjuang. Tugasnya bukan sekadar mengelola uang, tetapi sedang menjaga martabat manusia.
“Pertanyaannya pernahkah saya merasa lebih tinggi dari anggota sehingga saya merasa berhak menghakimi, membentak atau menghakimi atau merendahkan mereka saat mereka gagal bayar,” ujar Pater Paskalis.
Ia mengatakan, masa prapaskah merupakan waktu untuk “kembali ke rumah”, sekaligus menjadi momen refleksi apakah para pegawai masih bangga menjadi bagian dari Kopdit Pintu Air karena misi pelayanannya, atau sekadar bertahan karena tidak memiliki pilihan lain.
Para pegawai, lanjut Pater Paskalis, juga memohon agar Tuhan memurnikan motivasinya, sehingga bekerja bukan sebagai “buruh” yang mengejar upah, melainkan sebagai “anak” yang melanjutkan karya kasih Bapa.
Tanpa ketaatan pada prinsip pemberdayaan bersama, kemandirian ekonomi sulit dicapai. Pater Paskalis bilang, dalam konteks ini berarti melek literasi keuangan dan disiplin dalam pengelolaan aset menjadi faktor penting.
“Koperasi bukan sekadar lembaga keuangan, melainkan komunitas yang memastikan anggotanya tidak “dihukum” kemiskinan yang berkepanjangan,” ujarnya.
