Larantuka, Ekorantt.com – Di tengah suasana kampung berhawa sejuk, Robertus Wujo Lewoirak, 56 tahun, merapikan mesin peralatan mebel di bengkelnya pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Pagi itu, Robertus tak beraktivitas lantaran mematuhi aturan adat. Ia dan warga Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, NTT, akan menggelar ritual adat meminta hujan menjelang musim tanam.
Robertus memiliki usaha mebel yang dirintis sejak tahun 1993. Keterampilannya membuat beragam perabot atau furnitur itu terkendala modal. Ia akhirnya bergabung bersama Kopdit Pintu Air Cabang Boru pada tahun 2020.
Robertus mendapatkan pinjaman Rp20 juta dari Kopdit Pintu Air. Modal itu digunakan untuk membeli sejumlah pohon mahoni yang menghasilkan tujuh kubik kayu berkelas.
“Waktu itu pesanan banyak sekali sehingga saya butuh modal. Lewat Kopdit Pintu Air, saya diberikan pinjaman dengan kewajiban angsuran yang terjangkau,” katanya.
Usahanya mendatangkan keuntungan yang cukup menjanjikan. Pesanan pelanggan dalam jumlah besar seperti kursi, meja, dan lemari juga datang dari lembaga pendidikan formal.
“Sekolah-sekolah pesan kursi, meja, lemari. Ada juga warga di sini dan desa tetangga,” katanya.
Bengkel Robertus juga terdampak letusan Gunung Lewotobi Laki-laki pada November 2024. Usahanya mati suri berbulan-bulan. Ia dan keluarga mengungsi ke perbatasan Flores Timur-Sikka, kemudian dipindahkan ke Desa Kobasoma, Kecamatan Titehena.
Ia mengaku Kopdit Pintu Air tidak datang menagih angsuran kepada setiap anggota terdampak. Sementara dirinya telah selesai mengangsur dan lunas sejak tahun 2023.
Robertus berkata, Kopdit Pintu Air memberi keringanan dan terus mendampingi anggota. Empat bulan setelan mengungsi, Robertus kembali ke kampung untuk menghidupkan kembali bengkelnya.
Sejak 2024 sampai 2026, pesanan pelanggan berkurang. Sebagaian desa di kecamatan itu masih mengungsi dan akan direlokasi.
Menurut Robertus, meski sumber pendapatan tidak semanis seperti dulu, setidaknya usaha meubel memberikan penghidupan di tengah lesunya perputaran ekonomi dampak bencana erupsi.
Ayah tiga anak itu masih berdaya dengan meubel. Ia sedang berusaha menutup atap bengkelnya yang rusak termakan material vulkanik.
Sedikit dari hasil usaha juga ditabung di Kopdit Pintu Air untuk investasi hidup jangka panjang. Robertus berterima kasih kepada Kopdit Pintu Air yang setia membantu semua anggota.
Robertus juga menaruh kepercayaan penuh terhadap Kopdit Pintu Air yang berdiri sejak tahun 1995 tersebut.
“Koperasi ini memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemajuan bagi anggotanya,” kata Robertus.
Kopdit Pintu Air Cabang Boru direlokasi sementara dari Dusun Kampung Baru, Desa Boru ke Desa Konga, Kecamatan Titehena akibat bencana erupsi.
Meski terdampak bencana, koperasi berjumlah 4.144 anggota itu tetap kuat serta eksis berdiri. Banyak pihak tertarik dengan salah satu koperasi terbesar di Indonesia tersebut.
Manajer Kopdit Pintu Air Cabang Boru, Yohanes Fransiskus, mengatakan pihaknya memberikan dukungan dan pelayanan kualitas terbaik bagi anggota.
Pihaknya bersama Ketua Komite Kopdit Pintu Air Cabang Boru, Martina Lewuk, juga terus memberikan motivasi bagi anggota dalam setiap kesempatan pertemuan.
Penulis: Paul Kebelen
