Sumber: pixababy.com

Bajawa, Ekorantt.com – Meskipun memiliki sumber air, masyarakat desa Beiwali, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada harus tetap mengandalkan mobil tangki untuk mendapatkan air bersih demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut sudah dialami masyarakat setempat selama bertahun-tahun. Namun, hingga sekarang hal itu tetap saja luput dari perhatian pemerintah Kabupaten Ngada.

Salah satu warga, Leonardus Lagho ketika ditemui media ini di rumahnya, Jumat (2/09/2019) mengatakan, untuk mendapatkan air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia dan warga lainnya harus mengandalkan mobil tangki yang biasa berjualan air di desa tersebut.

“Kondisi seperti ini sudah kami alami sejak dulu. Untuk bisa dapat air bersih, kami terpaksa beli di tangki yang biasa jual air di kampung ini,” ungkapnya.

Menurutnya, untuk mendapatkan air satu tangki berukuran 1100 liter, minimal ia harus mengeluarkan uang seharga Rp.120.000 per tangki.

“Dalam kondisi terdesak, misalnya untuk acara resepsi keluarga atau hajatan lainya, kami terpaksa membeli dengan harga yang cukup tinggi yaitu mencapai Rp.150.000/tangki,” ujar Lagho.

Lagho menceritakan, jika musim hujan ia dan warga sekitar akan mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari cuci, mandi, dan lain-lain. Hal tersebut terpaksa ialakukan demi mengurangi ongkos untuk membeli air.

Ia berharap pemerintah daerah kabupaten ngada bisa mencari jalan keluar dengan cara menghadirkan mobil tangki yang menjual air dengan harga yang cukup terjangkau.

Kepala Desa Beiwali, Nikolaus Raga ketika diwawancarai di ruang kerjanya membenarkan kondisi yang dialami warga desa tersebut. Menurutnya, pengeluaran terbesar masyarakat di desanya adalah untuk membeli air bersih.

“Pengeluaran terbesar masyarakat di sini adalah untuk beli air. Saya coba hitung. Misalkan saja harga air Rp.120.000 per tangki. 390 kepala keluarga di sini, dikali satu bulan saja sudah mencapai Rp.46.800.000. Uang sebanyak itu dikeluarkan oleh semua kepala keluarga di Beiwali untuk membeli air per bulan. Semua kepala keluarga hanya berharap dari tangki,” jelasnya.

Menurut Nikolaus, pihaknya pernah melakukan survei bersama pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada, berkaitan dengan mata air yang ada di balik bukit di desa tersebut.

Namun, dari hari hasil survei, pihaknya menyimpulkan bahwa mata air itu berada di bawah atau  67 m lebih rendah dari pada pemukiman masyarakat Desa Beiwali. Dengan demikian sulit bagi warga untuk mengalirkan air dari mata air tersebut ke wilayah pemukiman penduduk. 

Menurutnya, pemerintah kabupaten Ngada pernah berjanji untuk memberi sumbangan berupa dua buah sumur bor untuk mengatasi masalah tersebut, tetapi sampai saat ini janji tersebut belum ditepati oleh pihak Pemda.

“Alternatif lain yang kita buat adalah dengan membangun bak penampung dari anggaran dana desa untuk setiap rumah sehingga ketika masyarakat beli air bisa ditampung disitu,” ungkap Nikolaus.

Berni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here