Menanti ‘Bumdes Ubi Nuabosi’

Ende, Ekorantt.com – Setelah 20 menit perjalanan dengan sepeda motor, kami sampai di mulut Kampung Nuabosi. Perkampungan di sisi utara Kota Ende ini terletak di ketinggian. Suhu udaranya sedang, berbeda dengan Kota Ende yang panas.

Kampung Nuabosi merupakan dataran yang dikelilingi perbukitan rimbun sehingga menyerupai kuali. Nuabosi sendiri merupakan nama umum dari empat wilayah administrasi desa yakni Ntetundora I, Ntetundora II, Ntetundora III dan Randotonda.

Tanahnya sangat subur. Sejumlah komoditas seperti cengkeh, sayur, dan komoditas lainnya mampu menyokong kehidupan ekonomi warga yang rata-rata hidup dari bertani. Lebih dari itu, Nuabosi memiliki ikon kuliner yang sudah terkenal di mana-mana yakni Ubi Nuabosi.

Ketika bicara Kampung Nuabosi, secara otomatis orang menyebut ubi endemik yang satu ini. Ubi Nuabosi punya rasa khas dan unik dengan tekstur yang renyah di lidah. Tentu saja berbeda dengan ubi di daerah lain.

“Ada yang pernah ambil bibitnya untuk ditanam di tempat lain. Pas makan, rasanya sudah lain. Mungkin beda tanahnya,” ungkap salah seorang petani di Nuabosi, Yosafat Da yang ditemui akhir Desember 2020 lalu.

iklan

Sayangnya, nama besar Ubi Nuabosi belum bisa bikin petani sejahtera. Para petani, kata Yosafat, sulit menentukan harga pasar. Yang bisa menentukan harga hanya para tengkulak. Mereka menentukan harga sesuka hati.

Yosafat juga menuturkan, ada beberapa petani yang menjual ubi dengan sistem ijon. Mereka menjual ubi sebelum waktunya dengan harga yang jauh lebih murah.

“Banyak yang beli sistem ijon. Ubi baru enam bulan mereka (pedagang) sudah kasih uang. Padahal belum tahu hasilnya berapa. Kasian para petani,” ujar Yosafat.

Petani lainnya, Falentinus juga mengeluhkan hal yang sama. Ditambahkannya, beberapa pedagang yang merupakan tangan kedua memiliki intrik buruk saat menjual kembali Ubi Nuabosi di pasaran.

“Kita dengar ada komplain dari pembeli di pasar kalau ubi Nuabosi dicampur dengan ubi lain. Ini kan merugikan kami petani. Jadi kalau ada pihak desa yang mengatur pemasaran maka kami yakin kualitas dan harga pasti lebih baik,” ungkap Falen.

Sejumlah masalah ini benar-benar mengendurkan semangat para petani. Mereka pun lebih memilih mengembangkan komoditas pertanian lain ketimbang ubi. Akibatnya produktivitas ubi semakin tahun semakin turun.

Valen menanti langkah baik pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten dapat membentuk badan usaha di desa yang fokus mengurus kelompok tani Ubi Nuabosi. Tujuannya, mengatur sistem tanam maupun distribusi dan pemasarannya agar petani tidak dirugikan.

Kepala Desa Ndetundora II, Ardian Renga

Bentuk Bumdes

Kepala Desa Ndetundora II, Ardian Renga mengakui bahwa persoalan yang dihadapi petani belum ditangani dengan baik oleh pemerintah desa maupun Pemkab Ende. Menurutnya, untuk menjaga keberlangsungan produksi Ubi Nuabosi, Pemerintah Desa Ndetundora II akan mengintervensi kelompok tani, permodalan, dan sistem pemasaran.

“Ini ada dalam visi misi saya saat mau jadi kepala desa. Saya ini baru 10 bulan menjabat. Nah, untuk Bumdes tahun ini kita bentuk. Pendampingan kelompok dan distribusi serta permodalan untuk pengembangan Ubi Nuabosi akan kita intervensi melalui dana desa,” terang Ardian.

Konsep Badan Usaha Milik Desa Ndetundora II, kata Ardian, juga mangatur pengembangan lahan tanam, pemberdayaan kuliner Ubi Nuabosi serta mengatur alur distribusi pemasaran.

“Jadi tidak ada lagi yang ijon. Petani butuh uang, ambil di Bumdes. Apa lagi sekarang dana desa fokus pada pemulihan ekonomi dan optimalisasi Bumdes. Ini yang kita minta masyarakat dukung. Sebagai kepala desa, saya punya komitmen dan semua sudah terekam dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa. Jadi tinggal teknisnya ya kita minta pada saat asistensi di daerah jangan ditolak,” sebut Ardian.

Sekelumit Tentang Ubi Nuabosi

Uwi Ai Nuabosi atau Ubi Nuabosi merupakan sejenis umbian yang tumbuh di Nuabosi, Kabupaten Ende. Dapat dikatakan Ubi Nuabosi merupakan tanaman endemik dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Uniknya, meskipun berasal dari Nusa Tenggara Timur, tetapi tidak semua tempat di provinsi tersebut bisa ditanami Ubi Nuabosi.

Meskipun dianggap sebagai endemik, tetapi Ubi yang dikembangkan sejak 1954 ini sebenarnya berasal dari Brasil. Ubi tersebut bisa sampai ke Nusa Tenggara Timur karena kolonial Portugal yang menjajah Brasik membawa benih ubi itu ke wilayah Nusa Tenggara Timur pada abad 16.

Varietas

Ubi Nuabosi memiliki ukuran yang lebih besar dan panjang daripada ubi pada umumnya. Ubi nuabosi juga memiliki 5 varietas, yaitu waitero (ubi kayu kuning), waibara (ubi kayu putih), toko rheko, tana ai, dan terigu (berbeda dengan terigu gandum). Di antara 5 varietas tersebut, toko rheko, tana ai, dan terigu adalah varietas yang paling banyak dibudidayakan masyarakat Flores, karena tiga varietas inilah yang asli dikembangkan masyarakat Flores.

Ubi Nuabosi sangat khas, karena bila dikembangkan di daerah lain (termasuk masih di wilayah Nusa Tenggara Timur) maka produksi dan cita rasanya tidak sebaik di tempat asalnya di Flores. Menurut tim peneliti dari Undana Kupang, struktur tanah dan kandungan unsur hara mempengaruhi pertumbuhan ubi nuabosi, sehingga berdampak pada kandungan dan teksturnya.

Tekstur

Kulit luarnya berwarna merah muda agak kecoklatan, umbinya berwarna putih bersih tanpa serat, rasa umbinya manis dan empuk serta tahan jika disimpan. Sehingga wajar jika harga ubi nuabosi lebih mahal.(Dari berbagai sumber)

TERKINI
BACA JUGA