Kupang, Ekorantt.com – Vinsentis Kono, 43 tahun, mengembangkan usaha jahit dengan nama Akiles Tailor. Usaha ini telah menopang ekonomi keluarga bertahun-tahun.
Komitmen dan ketekunannya bermula saat ia menamatkan pendidikan dasar di kampung halamannya di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Saat kecil, pria yang akrab disapa Vinsen itu, mengikuti jejak orangtuanya sebagai petani.
Keadaan orang tua dengan penghasilan yang pas-pasan membuat Vinsen tak bernasib sama seperti teman sebayanya. Saat yang lain merantau ke kota untuk melanjutkan pendidikan, ia justru tetap tinggal di kampung dan membantu orangtua berkebun.
Tidak sedikit pula teman-temannya yang merantau ke kota untuk mencari pekerjaan atau sekadar mengadu nasib. Suatu ketika, hati Vinsen tergerak untuk mengikuti jejak teman-temannya. Ia melihat ketika liburan, mereka membawa oleh-oleh dari kota untuk sanak keluarga di kampung.
“Hati saya tergerak saat saya menyaksikan teman-teman seangkatan di sekolah datang libur di kampung mereka bawa gula, kopi, beras, kue-kue, dan pakaian untuk mereka punya keluarga. Saya iri melihat mereka. Timbul niat untuk ikut merantau supaya bisa perbaiki nasip,” kisah Vinsen kepada Ekora NTT di tempat usahanya di Kampung Ende, Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang pada Senin, 13 Juli 2026.
Niat Vinsen merantau ke kota ditantang sang ayah, sebab ia ingin menjadi kondektur. “Di kota semua sesuatu butuh uang. Kalau mau ke kota, kamu harus ada pekerjaan yang dapat menghasilkan uang,” ujar Vinsen menirukan perkataan ayahnya.
Sang ayah tak mau Vinsen menjadi seorang kondektur karena trauma sudah ada keluarga yang meninggal akibat kecelakaan. Meski demikian, Vinsen tetap mengotot untuk merantau ke kota.
Pada pertengahan 1998, Vinsen nekat berangkat ke Kota Atambua setelah dibujuk temannya. Di sana, ia mengikuti kursus menjahit.
Ia semula belajar cara menjahit hingga mengukur desain baju dan celana. Sejak saat itu, Vinsen mulai merasakan nikmat “bagaimana mendapat upah meski tidak terlalu besar.”
Vinsen kemudian pergi ke Kota Kupang untuk mendalami keterampilan menjahit. Sejak 2004, dia melamar pekerjaan sebagai penjahit yang berlokasi di Pasar Solor.
Di tempat ini, Vinsen mulai belajar menjahit bukan hanya seragam, tetapi juga pakaian nikah semi-jas dan full-jas.
Usaha Mandiri
Vinsen membuka lembaran baru. Ia memutuskan untuk membuka usaha sendiri setelah lama bekerja di tempat usaha orang lain. Di awal, ia langsung menerima pesanan 12 pasang busana pernikahan dari sebuah keluarga.
Pesanan itu datang melalui rekomendasi orang yang telah mengetahui keterampilan Vinsen. Ini menjadi titik awal perkembangan usaha yang kini ia tekuni.
Ia menyelesaikan pesanan awal dengan cepat berkat dukungan istrinya, Yohana Merlinda Fobia. Dari situ, pesanan dari pelanggan mulai datang satu per satu.
Dalam perjalanan waktu, ia membutuhkan peralatan kerja yang lebih lengkap. Pasalnya, ia hanya punya satu mesin jahit dan belum memiliki mesin obras.
Vinsen membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha tersebut. Bak gayung bersambut, ia dipertemukan dengan Manajer Kopdit Pintu Air Cabang Kupang kala itu, Maria Margaretha D. Mite yang menawarkannya untuk menjadi anggota.
Vinsen pun bergabung menjadi anggota Kopdit Pintu Air. Setelah sekian bulan, ia mengajukan akses pembiayaan untuk belanja mesin jahit dan mengontak tempat yang lebih luas.
“Puji Tuhan pak berkat pinjaman dari Kopdit Pintu Air usaha saya dapat berkembang, bagi kami Pintu Air adalah pemberi hidup kami. Kami betul-betul merasakannya,” ujar Vinsen.
Ia mengakui telah mendapat beberapa kali mengakses modal dari Kopdit Pintu Air.
Berkat usaha jahit, Vinsen mampu membiayai pendidikan tiga orang anak. Ia juga bisa membeli dua unit sepeda motor.
“Saya juga bisa beli rumah tinggal serta tempat kontrakan untuk dijadikan tempat menjahit. Saya punya tiga orang tenaga kerja untuk bantu usaha,” ujarnya.
