Kupang, Ekorantt.com – Misa Jumat Pertama yang digelar pada awal Agustus 2026 di Kantor Kopdit Pintu Air Cabang Kupang menjadi momen refleksi bagi komite dan seluruh manajemen.
Dalam kotbahnya, Romo Yohanes Subani mengajak seluruh insan koperasi menempatkan pelayanan dan kepercayaan sebagai fondasi utama dalam menjalankan lembaga keuangan berbasis anggota.
Romo Yohanes menegaskan, hakikat pelayanan adalah menghadirkan kasih yang mampu menyelamatkan kehidupan.
“Pelayanan membuat dicintai. Kasih menyelamatkan kehidupan. Semoga koperasi ini menjadi saluran berkat bagi orang lain. Keuntungan terbesar adalah menyelamatkan kehidupan,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan koperasi tidak cukup diukur dari besarnya aset, banyaknya anggota, maupun kemegahan kantor. Yang jauh lebih bernilai adalah kepercayaan yang diberikan anggota kepada lembaga.
Ia mengajak seluruh pengurus dan manajemen Kopdit Pintu Air merenungkan makna bekerja di dunia keuangan dengan memberikan lima pesan refleksi.
Pertama, setiap kekuatan harus dijalankan dengan hati nurani. Menurut Romo Yohanes, semakin besar sebuah koperasi, semakin besar pula tanggung jawab untuk mengelolanya secara jujur, transparan, dan adil.
“Modal terbesar koperasi bukan hanya uang, tetapi kepercayaan anggota,” tegasnya.
Kedua, ia mengajak seluruh pengurus dan karyawan belajar menyangkal diri dalam pekerjaan sehari-hari. Sikap itu diwujudkan dengan tidak memanfaatkan jabatan demi kepentingan pribadi, melainkan melayani anggota dengan penuh kejujuran, kesabaran, dan kerendahan hati.
“Integritas adalah memilih melakukan yang benar meskipun tidak ada seorang pun yang melihat,” ujarnya.
Ketiga, Romo Yohanes mengingatkan bahwa di balik setiap pinjaman terdapat cerita perjuangan hidup anggota. Tidak sedikit anggota yang terlambat membayar angsuran karena gagal panen, kehilangan anggota keluarga, atau mengalami kesulitan ekonomi.
Karena itu, koperasi diminta tetap menegakkan aturan dengan kebijaksanaan dan hati nurani, sehingga mampu membedakan anggota yang tidak bertanggung jawab dengan mereka yang benar-benar membutuhkan pertolongan.
Keempat, ia mengingatkan agar koperasi tidak kehilangan semangat pelayanan. Keberhasilan tidak boleh membuat lembaga lebih mengejar target daripada memperhatikan manusia.
“Ukuran keberhasilan koperasi bukan hanya besarnya aset, tetapi berapa banyak kehidupan yang dipulihkan, berapa banyak anak yang bisa melanjutkan sekolah, dan berapa banyak anggota yang bangkit dari kesulitan,” katanya.
Kelima, Romo Yohanes mengajak seluruh keluarga besar Koperasi Pintu Air menjadi saluran berkat bagi sesama. Ia memaknai nama “Pintu Air” sebagai simbol yang mengalirkan kehidupan, bukan menahan berkat hanya untuk diri sendiri.
Menurutnya, pelayanan akan tetap membawa manfaat apabila dijalankan dengan kerendahan hati dan dibersihkan dari kesombongan, egoisme, diskriminasi, maupun penyalahgunaan wewenang.
Romo Yohanes kembali mengingatkan bahwa pekerjaan di koperasi bukan sekadar mengejar target dan keuntungan, melainkan merupakan bagian dari panggilan untuk melayani sesama.
“Bekerjalah bukan hanya mencari target, tetapi sebagai orang-orang yang menjalankan tugas perutusan dari Tuhan,” pungkasnya.

