Maumere, Ekorantt.com – Pemilik Sanggar Doka Tawa Tana, Cletus Beru menembus lima besar nominasi Wonderful Indonesia Award 2026 untuk kategori Local Hero in Tourism atau Pejuang Pariwisata dari total 198 kandidat yang mengikuti proses open recruitment.
Penghargaan ini diberikan atas dedikasi dalam menggerakkan pariwisata berbasis masyarakat di Kabupaten Sikka.
Proses pemilihan melewati kurasi ketat dari tim dewan juri Kementerian Pariwisata RI. Sebagai tindak lanjut, tim juri dijadwalkan akan melakukan visitasi ke Kabupaten Sikka pada 25 Juli 2026 untuk memverifikasi kondisi faktual di lapangan.
“Visitasi mencakup observasi dan wawancara saya bersama tokoh masyarakat, komunitas, dan mitra kerja,” ujar Cletus kepada Ekora NTT pada Kamis, 9 Juli 2026.
Baginya, capaian ini bukanlah sekadar nominasi, melainkan motivasi untuk terus menjaga kelestarian budaya agar terus diwariskan kepada generasi penerus.
“Keberhasilan masuk lima besar bukan prestasi pribadi, melainkan hasil kerja bersama seluruh masyarakat yang selama ini menjadi warisan budaya para leluhur. Saya hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan besar ini,” kata Cletus.
Pariwisata budaya, kata dia, mampu menggerakkan ekonomi masyarakat luas. Melalui sanggarnya, wisatawan diajak untuk mengenal kearifan lokal seperti, bercocok tanam, mengolah makanan lokal hingga menenun tenun ikat.
Pengabdian Cletus bersama masyarakat setempat sebelumnya juga telah membuahkan berbagai pengakuan, di antaranya penghargaan Community Based Tourism pada 2014 dan pencapaian sebagai 50 besar Desa Wisata Terbaik Nasional pada 2022.
Cletus menitipkan harapan kepada pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah untuk segera memperbaiki akses jalan menuju destinasi wisata.
“Kerusakan jalan tidak hanya mengganggu kenyamanan wisatawan domestik dan mancanegara, tetapi juga menghambat kelancaran ekonomi warga lokal yang hendak menjual hasil bumi ke pasar,” ujarnya.
Cletus bilang, keberhasilan tersebut juga bagian dari upaya dan kerja keras para pendahulu asal Desa Umauta, Kecamatan Bola. Mereka adalah mantan Bupati Sikka almarhum Laurentius Say, mantan Kepala Desa Umauta almarhum Agustinus Mekat Say, tokoh Sikka di Jakarta almarhum Ben Mang Reng Say serta sang pendiri sanggar, almarhum Karolus Jawa yang juga merupakan orang tua Kletus.
Ia juga mengapresiasi keluarga besar sanggar, pemerintah, leluhur Kampung Dokar serta para tokoh pariwisata perintis seperti Frans Seda dan Pater Bolen.
Selain para penggagas awal, keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan pelaku pariwisata yang memiliki ide membawa wisatawan mancanegara ke Kampung Dokar.
“Berkat mereka, sanggar ini kini menjadi salah satu destinasi wisata unggulan berbasis kearifan lokal yang kerap menyambut wisatawan domestik maupun mancanegara,” kata dia.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Mauritius Minggo mengapresiasi pencapaian Cletus Beru di kancah pariwisata nasional.
“Harapannya, ini bisa mendorong pelaku pariwisata lain untuk konsisten menjadi pejuang pariwisata lokal,” ujar Mauritius.
Menurutnya, potensi pariwisata di Kabupaten Sikka sangat luas mencakup wisata budaya, alam, rohani, bahari, dan buatan.
Ia berharap generasi muda dapat mengambil peran aktif dalam upaya pelestarian budaya. Sebab, kemajuan kebudayaan tidak sekadar melestarikan, tetapi juga mencakup unsur perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.
Pihaknya berkomitmen terus melakukan pembinaan terhadap sanggar seni dalam bentuk workshop, pelatihan, serta pemberian bantuan.













