Maumere Ekorantt.com – Pembina rohani Kopdit Pintu Air, RD. Moses Kuremas meminta pengelola Kopdit Pintu Air memiliki hati yang terbuka dalam pelayanan kepada anggota.
“Kita diberikan kepercayaan untuk menjaga, menghidupi dan menghadirkan kebenaran dalam kehidupan kita sehari hari,” kata Romo Moses dalam kotbah misa Jumat pertama di Gereja Santo Stefanus Stasi Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Jumat, 4 September 2026.
Romo Moses mengatakan, pertanyaan penting yang perlu direnungkan adalah apakah umat sungguh membiarkan Kristus mengubah hidup mereka atau hanya membawa nama sebagai orang Kristen, sementara hati mereka tetap sama.
Ia mendorong pembaruan hidup bagi pengelola Kopdit Pintu Air. Kehadiran Yesus dalam hidup manusia sungguh membawa sesuatu yang baru. Ia tidak datang untuk sekedar menambahkan sesuatu aturan baru dalam hidup manusia.
“Yesus datang untuk memperbaharui hati, cara berpikir, cara bertindak dan cara manusia memandang sesama.”
Romo Moses mengatakan, kadang manusia mau mengikuti Yesus tetapi tetap mempertahankan pola hidup lama. “Kita ingin menjadi manusia baru tetapi masih memelihara kebencian.”
Manusia ingin hidup dalam kasih, tetapi masih mudah menghakimi orang lain. Manusia ingin dekat dengan Tuhan tetapi enggan meninggalkan kebiasaan lama yang buruk.
“Bila anggur baru membutuhkan kantung yang baru demikian juga rahmat Tuhan membutuhkan hati yang terbuka,” kata Romo Moses.
Menurut dia, menjadi murid Kristus mesti berani berkata kepada Tuhan “ubalah aku.” Bukan hanya mengubah keadaan di luar diri manusia, tetapi terutama mengubah hati. Perubahan sejati bukan dimulai dari orang lain melainkan dari diri sendiri.
Ketua Pengurus Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano dalam sambutannya berpesan kepada semua yang bekerja di Kopdit Pintu Air di Pulau Flores agar tidak perlu takut dengan gempa susulan yang masih terjadi.
Ia berharap agar tetap bekerja dengan baik melayani anggota, namun tetap waspada.
Jano mengajak pengelola Kopdit Pintu Air memanfaatkan September sebagai Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) dalam kalender liturgi Katolik dengan menyediakan waktu secara rutin untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci.
“Kitab Suci adalah nafas iman kita. Kalau kita tidak membaca dan merenungkan Sabda Tuhan itu iman kita menjadi kering,” pungkas Jano.
