Atambua, Ekorantt.com – Agustinus Bere bersama istrinya, Yosanti Erabeka Gaspers mulai merintis usaha makanan Sei Babi Nekmataus pada Maret 2019. Saat itu, usaha mereka masih sederhana dan berlokasi di depan Bandara Haliwen, Kabupaten Belu.
Yosanti mengaku, keputusan membuka usaha berawal dari kondisi ekonomi keluarga yang cukup sulit setelah dirinya memutuskan berhenti dari pekerjaan swasta. Kemudian, suaminya memutuskan untuk pensiun dini dari ASN Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
“Awalnya cuma mau coba-coba. Waktu itu baru buat sate babi, kemudian berkembang. Kami juga membuat nasi kotak dan menjualnya ke kantor-kantor,” ujar Yosanti kepada Ekora NTT di tempat jualannya pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Dalam kondisi keterbatasan modal, mereka bahkan hanya mampu membeli kepala babi dengan nilai sekitar Rp250 ribu hingga Rp350 ribu untuk diolah menjadi produk makanan.
Situasi mulai berubah setelah mereka berkenalan dengan Kopdit Pintu Air. Sebelumnya, Yosanti mengaku hanya mengandalkan pinjaman koperasi mingguan dengan nilai sekitar Rp2 juta.
“Saat itu keadaan ekonomi kami sangat terpuruk. Untuk membeli susu anak saja bapa sampai harus ojek. Modal juga tidak ada,” katanya.
Perkenalan dengan Kopdit Pintu Air terjadi ketika sejumlah petugas koperasi mulai datang dan makan di tempat usahanya. Dari komunikasi tersebut, Yosanti kemudian mendapatkan penjelasan mengenai sistem dan manfaat menjadi anggota koperasi.
Ia mulai menyimpan uang sedikit demi sedikit hingga akhirnya mendapat kepercayaan memperoleh pinjaman.
Seiring perjalanan usaha, plafon pinjaman yang diterima terus meningkat. Pada 2025, ia mendapatkan akses modal yang digunakan untuk memperkuat usaha, terutama pembelian bahan baku dalam jumlah lebih besar. Jika sebelumnya hanya mampu membeli kepala babi atau daging dalam jumlah terbatas, setelah memperoleh modal, mereka dapat membeli daging hingga puluhan kilogram sekaligus.
“Setelah ada modal, kami sudah bisa membeli daging dalam jumlah besar. Karena pelanggan juga semakin banyak, stok untuk hari ini harus disiapkan untuk kebutuhan besok,” jelasnya.
Ia kemudian memperluas skala bisnis. Dari satu tempat usaha di depan Bandara Haliwen, kini mereka memiliki tiga cabang, termasuk di sekitar Kantor Cabang BRI Atambua dan Desa Silawaan yang berada di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste.
Usaha tersebut kini memperkerjakan 44 karyawan di tiga cabang. Sebagian di antaranya merupakan mahasiswa.
Dari sisi produksi, kebutuhan bahan baku juga meningkat signifikan. Dalam satu bulan, usaha tersebut membutuhkan sekitar 7.000 kilogram bahan baku yang sebagian dipasok dari peternak rumahan.
Pendapatan dari tiga cabang lumayan, kata Yosanti. Hal itu membuatnya lebih mudah membayar angsuran koperasi.
“Kalau untuk angsuran, sejauh ini aman. Karena usaha juga sudah berkembang,” ujarnya.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Salah satu kendala yang kini dihadapi adalah ketersediaan stok bahan baku, terutama ketika permintaan meningkat.
Ke depan, Yosanti dan Agustinus menargetkan membuka cabang baru di Kabupaten Malaka. Mereka mau mengembangkan tempat usaha yang tidak hanya menjadi rumah makan, tetapi dapat menjadi salah satu destinasi bagi wisatawan.
Usaha kuliner Yosanti berhasil menggaet perhatian sejumlah pejabat dari Timor-Leste. Beberapa menteri dan anggota parlemen Timor-Leste pernah berkunjung dan menikmati makanan di tempat usahanya.
“Yang paling berkesan adalah mantan Presiden dan Perdana Menteri Taur Matan Ruak. Kunjungan ini jadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” ungkapnya.
Bagi Yosanti, perjalanan usahanya menjadi bukti bahwa keberanian memulai usaha, ditambah akses permodalan yang tepat, dapat membuka peluang untuk berkembang.
Ia berharap anggota Kopdit Pintu Air memanfaatkan akses permodalan secara bertanggung jawab untuk mengembangkan bisnis.
“Yang penting pinjaman digunakan untuk usaha dan dikelola dengan baik. Kalau usaha berkembang, kewajiban juga bisa kita penuhi,” pungkasnya.

