Larantuka, Ekorantt.com – Desa Pantai Oa di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur sedang dilanda krisis air bersih. Warga desa berpenduduk 644 jiwa ini terpaksa hemat dalam menggunakan air.
Kamis pagi, 17 September 2026, ibu-ibu desa berbondong-bondong mengantre air di keran air yang terletak di tengah kampung. Tak sampai satu jam, air berhenti keluar.
“Tadi pagi antre, keluar paling lama satu jam. Jadi banyak orang tidak kebagian air,” ujar Maria Petronela Soge, warga desa setempat saat ditemui Ekora NTT pada Kamis siang.
Mereka yang datang lebih dahulu membagi sebagian air kepada tetangga agar bisa memasak. Tak jarang, warga kerap berkonflik memperebutkan air.
Demi kebutuhan air, warga desa terpaksa merogoh kocek hingga Rp50 ribu sehari untuk membeli dua drum air atau setara Rp1,5 juta kebutuhan sebulan.
“Dua drum untuk satu hari punya, dari masak sampai mandi. Kadang kami tidak bisa beli, uang dari mana kalau tidak ada hasil tangkapan ikan,” kata Maria.
Yoseph Ribu Soge, warga lainnya, berkata banyak dari mereka yang hanya mandi sekali dalam tiga hari demi menghemat air. Ada yang memilih mandi air laut.
Yoseph menuturkan, warga memprioritaskan air untuk anak sekolah, ibu hamil, bayi, dan balita. Anak-anak juga diberi tugas membawa satu jeriken air ke sekolah lalu ditampung ke bak dekat MCK. Saat kekurangan air, siswa terpaksa buang air di toilet warga.
Kepala Desa (Kades) Pantai Oa, Damiamus Migu Muda, mengatakan pihaknya telah membangun satu sumur bor pada tahun 2019 dengan anggaran Rp130 juta.
“Tetapi kondisi airnya tidak higienis atau tidak layak, airnya asin kemudian kurang bagus untuk dikonsumsi,” ucapnya.
Pada 2021, kata Damianus, Kementerian PUPR membangun jaringan air langsung dari mata air di wilayah Desa Pantai Oa. Distribusi air belum terbagi merata hingga mengalami krisis setelah peralatan dinamo penyedot rusak.
“Kipas dinamonya rusak, kami sudah belanja alat baru yang dipesan secara online, tetapi alatnya itu tidak sesuai,” kata Damianus.
Paul Kabelen













