Kepala Sekolah SMAK St. Gregorius Reo, Romo Louis Jawa menjadi inspektur upacara pada apel bersama civitas akademika SMAK St. Gregorius Reo

Ruteng, Ekorantt.com – Salah satu sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Sukma milik Keuskupan Ruteng adalah SMAK St. Gregorius Reo. Sekolah ini kini berkembang menjadi sekolah yang unggul dalam mutu berkat sentuhan tangan dingin sang kepala sekolah.

Romo Louis Jawa, demikian nama lengkap sang kepala sekolah. Memulai tugas di sekolah pada tahun 2014, Romo Louis mengaku was-was. Ada rasa cemas dan gelisah.

“Bisa tidak mengangkat derajat sekolah yang sebelumnya  selalu tak dianggap, diremehkan menjadi sebuah sekolah yang  para peserta didik dan para guru dan pegawainya punya karakter unggul dan berkualitas,” begitu kata hati kecilnya.

24 Januari 2014 memulai masa tugas sebagai kepala sekolah, Romo Louis mengakui bahwa sekolah ini memang belum terurus dengan baik. Lingkungan  sekolah tampak gersang dan nampak tua sekali.

Etos kerja para guru di bawah standar. Murid-murid sesuka hati datang ke sekolah. Bolos dan tawuran sudah jadi hal yang biasa. Ditambah lagi belum ada tradisi ilmiah dan wajah khas sebagai sebuah sekolah katolik.

Darah muda sebagai imam berdesir. “Ada hal yang harus saya benahi demi membangun sekolah ini,” ujar Romo Louis.

Pengalaman sebelumnya sebagai frater TOP, sebagai pembina bagi para frater yang menjalankan tahun rohani (TOR),  pembina bagi kelompok Centro Jhon Paul II Ritapiret 2010-2012 dan sebagai pastor rekan dan staf Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng mematangkan tekadnya untuk bekerja dengan pemberian diri yang total.

Langkah berani yang dikerjakannya adalah menata sistem pendidikan di sekolah dengan jumlah siswa mencapai 1000-an ini ala Seminari. Kebijakan yang juga diambil adalah  membongkar ruang kelas dan menjadikannya sebagai asrama putri.

Romo Louis Jawa

Langkah ini banyak yang mendukung tapi banyak pula yang tidak setuju. Selaku kepala sekolah Romo Louis tetap bersihkuku untuk jalan terus. Namanya perubahan pasti ada yang terima dan ada yang menolak.

Perjuangan yang tegar pun membuahkan hasil, SMAGER Reo tumbuh menjadi sekolah yang kini banyak dikenal karena capaian-capaian besar yang ditoreh.

Salah satu capaiannya adalah menjadikan sekolah dengan jumlah siswa yang banyak ini dengan karakter sebagai sekolah Katolik yang khas. Para peserta didiknya berkarakter.

Sekolah ini juga menjadi unggul karena dengan biaya yang standar toh sekolah tetap tumbuh dan semakin berkualitas. Sekolah ini memang banyak menampung siswa dengan pekerjaan pokok orang tua adalah petani. Biaya pertahunnya  Rp1.510.000 pun bisa dijangkau.

Kini SMAGER menjadi maju dan unggul. Para siswa dan gurunya pelan-pelan berbenah. Romo Louis mengaku ada banyak makna pelajaran dari hidup sebagai seorang imam yang diperolehnya.

Antara lain, tetap menjadi pribadi yang sabar dan tabah. Apa lagi dalam menangani konflik. Ada keteguhan hati untuk terus berkorban dalam memajukan sekolah sekalipun itu harus menggunakan uang pribadi.

Menempatkan diri sebagai sahabat bagi para peserta didik dan tetap berjuang menumbuhkembangkan mutu meski banyak sekali jumlah siswa miskin secara ekonomi.

Prinsip pemberian diri dan gigih merawat visi untuk terus berjuang menjadi spirit yang terus dihidupi Romo Louis demi memajukan SMAGER. Sekolah yang dulu diremehkan itu pun kini diperhitungkan.

Romo Louis sesungguhnya telah menjadi sahabat sekaligus guru. Bisa jadi benar, apa yang dikemukakan oleh seorang penulis dan guru, Elaine McEwan bahwa, kepala sekolah yang sangat efektif memahami adanya komunitas para pemimpin.

Ketika anggota staf, orang tua, serta murid merupakan bagian dari suatu komunitas para pemimpin, maka setiap orang menerima tanggung jawab untuk belajar, mengetahui alasan di balik apa yang sedang mereka lakukan, dan memiliki komitmen terhadap misi sekolah. Maju terus SMAGER, salut Romo Louis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here