Ketua Majelis Jemaat GMIT Kalvari Maumere Pendeta Paulina Koy Adu, S.Th

Kontroversi ceramah Ustadz Abdul Somad memancing tanggapan dari berbagai kalangan, termasuk para tokoh agama kristiani. Pendeta di Flores, NTT, mengimbau umat kristiani dan para pihak yang terlibat dalam kontroversi itu saling memaafkan.

Maumere, Ekorantt.com – Ketua Majelis Jemaat GMIT Kalvari Maumere Pendeta Paulina Koy Adu, S.Th ketika disambangi EKORA NTT di Kediamannya di Kota Baru Maumere, Rabu (21/82019) mengatakan, dakwah Ustadz Abdul Somad (UAS) dilaksanakan di Masjid di kalangan umat Islam. Dakwah tersebut tidak ditujukan ke dan dilaksanakan di muka umum.

Oleh karena itu, menurutnya, yang harus dibina adalah pengunggah video tersebut. Sebab, dia telah menyebarkan hal-hal yang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.

Jebolan Universitas Kristen Artha Wacana Kupang ini mengimbau umat GMIT Kalvari Maumere tetap tenang menyikapi situasi ini. Menurut dia, kalau ada orang yang berniat menyampaikan hal yang tidak benar, ia akan berhadapan dengan Tuhan.

Menurut Pendeta Paulina, Tuhan mengajarkan kita mendoakan orang lain yang bersalah terhadap kita. Kita harus betul-betul mendengar suara Tuhan.

“Apalah artinya kita selalu berdoa Bapak Kami, tetapi pintu pengampunan tidak dibuka? Dan apa yang kita dapatkan dari tuntutan kita kalau UAS dipenjarakan?” katanya.

Pendeta Gereja Pentekosta Pusat Surabaya (GPPS) Maranatha Maumere Paulus Gowa Mithe

Sementara itu, Pendeta Gereja Pentekosta Pusat Surabaya (GPPS) Maranatha Maumere Paulus Gowa Mithe kepada EKORA NTT di kediamannya di Kampung Beru Maumere, Rabu (21/8/2019) menyayangkan ceramah UAS yang dinilainya dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Menurut dia, sebagai orang yang berpendidikan dan figur publik, UAS seharusnya tidak menjawab pertanyaan tentang doktrin iman dengan cara seperti itu.

“Salib bukan miliknya. Milik orang Kristen. Jawabannya harus bijak dan santun. Kalau tidak mengetahui nilai sakral dari agama lain tidak perlu menjawab pertanyaan yang ujung-ujungnya mencederai hati umat Kristen,” tandas Paulus.

Pendeta Paulus mengatakan, di era keterbukaan ini, segala sesuatu yang disampaikan, baik perkataan santun maupun perkataan buruk, akan dengan mudah diketahui publik. Mau atau tidak mau, sadar atau tidak sadar, kitab suci suatu agama terbuka untuk diselidiki dan dibaca oleh umat agama lain.

“Sehingga pemahaman mereka terpenggal dan tidak utuh. Dengan peristiwa ini, iman kita sedang diuji. Namun, umat Kristen harus berpikir panjang bahwa demi keutuhan NKRI dan hubungan persaudaraan yang selama ini terjalin baik tidak tercabik-cabik, saya harapkan umat Kristen tidak terprovokasi. Mari kita saling memaafkan,” pinta Paulus.

Paulus menegaskan, pemimpin umat harus mengetahui nilai-nilai sakral agama lain. Dengan demikian, ketika berdakwah, dia mempunyai pemahaman yang utuh tentang agama lain.

“Tetapi Tuhan mengajarkan kepada umat manusia untuk saling mengampuni. Dosanya kita benci, tetapi manusianya kita ampuni,” ujar Pendeta Paulus.

Paulus menganjurkan, Kementerian Agama dan para pemuka agama di Kabupaten Sikka selalu turun ke kecamatan-kecamatan untuk mensosialisasikan nilai sakral agama masing-masing. Dengan demikian, para pemuka agama dan umatnya tahu tentang isi ajaran masing-masing.

“Jelas ada perbedaan. Dan kita tidak bisa menterjemahkan nilai-nilai sakral agama lain menurut pendapat sendiri. Ketika kita menghargai perbedaan itu, berarti kita telah menjaga kesatuan NKRI,” kata Paulus.

Paulus menjelaskan, dalam tradisi Kristen, salib Kristus merupakan lambang pengorbanan dan wujud cinta kasih Allah. Bentuk vertikal salib menandakan hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan bentuk horizontal salib menandakan hubungan antarsesama manusia.

“Sila pertama Pancasila menyebutkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Tujuan yang satu dengan cara berbeda. Paling indah kita saling menghargai. Mari kita junjung tinggi Kebhinekaan,” beber Paulus.

Paulus minta umat kristiani menanggapi ceramah UAS dalam terang iman Kristiani. Yesus Kristus tidak pernah mengajarkan umat-Nya untuk menghina dan menjelekkan orang atau agama lain.

“Kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Kita perlu membangun positive thinking. Kalau setiap kita punya pandangan negatif terhadap kasus ini, berarti akan mengancam persaudaraan yang telah terjalin selama ini. Alangkah eloknya kalau peristiwa ini kita ambil hikmahnya. Lebih mendalami iman kita akan salib,” ungkap Paulus.

Yuven Fernandez

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here