Sejarah Pemerintahan Kabupaten Sikka Versi Bupati Robby Idong

Maumere, Ekorantt.com – Pada Jumat, 20 September 2019, duet kepemimpinan Bupati Robby Idong dan Wakil Bupati Romanus Wogha memasuki usia ke – 1.

Dalam acara temu media di Aula Kantor Bupati Sikka, Jumat (20/9/2019), Bupati Robby Idong antara lain menegaskan bahwa dirinya akan membangun Sikka berdasarkan ingatan akan sejarah Kabupaten Sikka.

Berikut adalah penangkapan EKORA NTT terkait sejarah pemerintahan Kabupaten Sikka versi Bupati Robby Idong.

Kabupaten Sikka sejatinya berdiri sejak tahun 900-an oleh para Ama Gete, sebutan untuk pemimpin masyarakat saat itu.

Ama gete yang pertama adalah Rae Raja yang beristri Rubang Sina, sedangkan Ama Gete yang terakhir adalah Baga Ngang.

iklan

Rae Raja adalah adik dari Kapa Raja.

Mereka berasal dari Bangladesh.

Saat itu, dalam perjalanan dua kapal melintasi laut Flores keduanya berpisah arah dari Labuan Bajo, satu kapal ke kiri dan satu kapal ke kanan.

Alhasil, kapal Rae Raja terdampar di kampung Sikka.

Sementara itu, Kapa Raja dan kapalnya terdampar di Palue.

Setelah beberapa waktu, kedua kakak beradik kandung ini barulah dipertemukan.

Sejak saat itu, terbentuklah kampung-kampung di wilayah Kabupaten Sikka sampai sekarang.

Mereka membentuk Kabupaten Sikka ini dengan 30 kepala kampung. Mo’ang Baga Ngang menguasai seluruh wilayah Kabupaten Sikka bahkan sampai ke Ndori dan Wolowaru.

Ini adalah alasan hingga saat ini sebagian wilayah Lio masuk ke dalam pemerintahan Kabupaten Sikka, termasuk wilayah Pulau Palue yang seharusnya secara tata letak masuk ke wilayah Kabupaten Ende.

Mo’ang Baga Ngang melahirkan banyak putra yang kemudian menjadi Raja Sikka.

Raja Sikka pertama saat pemerintahan Portugis adalah Raja Don Alesu Ximenes da Silva.

Alesu menjadi raja dengan cara yang sangat unik.

Di kampung itu, pada tahun 1600, semua orang meninggal terserang wabah penyakit kolera.

Namun, Alesu sendiri selamat.

Ia lari ke Teluk Maumere, tepatnya di Waidoko dan bertemu kapal Agustino Rosario Da Gama.

Kepada Agustino, ia meminta untuk pergi ke tempat yang aman.

Sebab, di Sikka, semua orang meninggal.

Dia ingin pergi ke tempat di mana orang tidak akan mati. Agustino Rosario Da Gama mengiyakannya.

Alesu akan ikut dengan kapal itu untuk sampai ke tanah kehidupan yang ia janjikan.

Tibalah Alesu di tanah Malaka.

Di sana, ia dipertemukan dengan Jogo Worilla, ayah dari Agustino Rosario Da Gama, yang juga Kepala Perwakilan Portugis di Malaka.

“Engkau akan menemukan tanah di mana orang tidak bisa mati. Asalkan kau harus belajar selama tiga tahun di sini,” tawar Jogo Worilla.

Alesu kemudian mempelajari Agama Katolik hingga menemukan dan percaya bahwa tanah di mana orang tidak akan mati adalah surga.

Berkat jiwa kepemimpinan dan ilmu Agama Katolik yang dia punya, ia dia dikembalikan ke Sikka dan diangkat menjadi raja Sikka yang pertama, lengkap dengan atribut yang ia kenakan seperti topi kerajaan, rantai, tongkat dari emas, beserta patung Bunda Maria dan salib yang hingga saat ini masih ada.

Untuk menjalankan misi penyebaran Agama Katolik di tanah Flores, Agustino Rosario Da Gama yang berkebangsaan Portugis itu lalu diangkat menjadi Wakil Raja Sikka yang pertama.

Pada masa pemerintahan Don Kosmo, Raja Sikka yang kedua, hubungan antara raja dan wakil raja mulai tak akur.

Sebab, raja beristri banyak waktu itu.

Thomas Da Gama, putra Agustino Rosario Da Gama, tidak setuju dengan itu.

Ia lalu hijrah dari Kampung Sikka menuju Teluk Maumere.

Tempat tinggalnya persis di Monumen Tsunami saat ini.

Kerajaan Sikka terus mahsyur hingga kepemimpinan raja ke-16 dan beberapa perubahan pada tahun 1875 karena peralihan kekuasaan dari Portugis ke Belanda.

Belanda menjalankan politik devide et impera sehingga memecahkan Kerajaan Sikka menjadi tiga, yakni Kerajaan Sikka (Kerajaan Sikka Mayor) dan Kerajaan Nita dan Kangae (Kerajaan Sikka Minor).

Pemecahan ini tidak berjalan lama karena terjadi pemberontakan Teka pada tahun 1908 yang mengembalikan Kerajaan Sikka menjadi tunggal.

Para raja Sikka menjadi raja-raja tersohor di daratan Flores. Pada tahun 1950, Raja Thomas ditunjuk menjadi kepala daerah Flores yang pertama. Sebab, ia dianggap paling cakap di antara semua raja.

Pada tahun 1958, barulah Kabupaten Sikka melaksanakan penyelenggaraan pemerintah daerah dengan pejabat bupati adalah Raja Centis.

Tahun 1960, dengan menjalankan prinsip demokrasi, dipilihlah Bupati Sikka yang pertama. Berdasarkan perolehan suara, Paulus Samador da Cunha memperoleh hanya 5 suara, lebih kecil dari lawannya V.B. Da Costa yang memperoleh 9 suara.

DPRD saat itu melaksanakan sidang untuk membahas hal ini. Mereka bertanya, bagaimana mungkin Pemerintahan Daerah Sikka dipimpin oleh V.B. Da Costa yang adalah orang Lio?

Akhirnya, disepakati untuk melantik Paulus Samador da Cunha sebagai Bupati dan V.B. Da Costa dikirim menjadi wakil di DPR pusat.

Di tangan Samador, dibukalah wilayah-wilayah pertanian baru di Waigete, Talibura, Magepanda, dan Nebe. Sebab, saat itu, terjadi kekurangan pangan di Kabupaten Sikka.

Hal serupa juga terjadi pada pemilihan bupati selanjutnya. Dalam kontestasi politik yang mengikutsertakan tiga calon, Laurensius Say, yang menempati posisi suara terbanyak kedua, akhirnya ditetapkan menjadi Bupati Sikka.

Sebab, menurut mereka, sudah menjadi tradisi di Kabupaten Sikka bahwa yang dilantik adalah calon yang memperoleh suara terbanyak kedua.

Namun, di masa kepemimpinannya, banyak keberhasilan yang ia torehkan, termasuk mengembangkan tanaman perdagangan bersama Pater Bolen, SVD.

Bupati kedua ini menjalankan politik balas jasa. Karena Orang Lio sudah mengangkat orang Bola menjadi bupati, maka Beliau mengkaderkan Daniel Woda Pale. Dalam usia 30 tahun, Woda Pale menjadi Sekda Sikka, yang kemudian menjadi Bupati Sikka selama dua periode.

Sudah selama setahun, Robby Idong dan Romanus Woga telah ikut mengariskan sejarah panjang pemerintahan di Kabupaten Sikka.

Sebagai penerus estafet kepemimpinan yang ke-10, Robby – Romanus adalah yang pertama lolos terpilih dari jalur independen dengan mengumpulkan dukungan 38.000 KTP masyarakat Kabupaten Sikka.

Sejarah apalagi yang akan mereka catat untuk anak cucu Nian Sikka?

Mari kita kawal!

Aty Kartikawati

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA