Beda Pendapat tentang Marxisme, Mahasiswa dan Dosen di STFK Ledalero Berdebat di Koran

Maumere, Ekorantt.com – Di tengah kesibukan dan kegenitan Negara Pancasila menyusun aturan kontroversial bahwa “Setiap Orang yang menyebarkan atau mengembangkan ajaran komunisme/marxisme-leninisme di muka umum dengan lisan atau tulisan termasuk menyebarkan atau mengembangkan melalui media apapun dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun,” para mahasiswa dan dosen di STFK Ledalero, Maumere, Flores, NTT, justru sibuk “baku pukul” ide alias berdebat di koran juncto media online tentang marxisme.

Perdebatan antara mahasiswa dan dosen di kampus Katolik ternama di Flores itu cukup menyita perhatian publik, yang dibuktikan dengan ribuan views saat berita ini dirilis, karena para Penulis punya perbedaan pandangan yang cukup tajam tentang Marxisme.

Perdebatan dipantik oleh Dosen STFK Ledalero Emilianus Yakob Sese Tolo melalui artikel berjudul “Upaya Menggapai Kebijaksanaan” di koran cetak dan online Flores Pos, 14 September 2019.

Gagasan Emil kemudian didebat oleh Toni Mbukut, Mahasiswa Pascasarjana STFK Ledalero, melalui artikel berjudul “Sabda sebagai Sumber Spiritual dan Pusat Intelektual” di koran yang sama pada 24 September 2019.

Artikel Emil dan Toni lantas didebat lagi oleh Elton Wada, Mahasiswa Sarajana Filsafat STFK Ledalero melalui artikel berjudul “Yang Absen dalam Filsafat Kemapanan dan Teologi Kemapanan”, juga di koran yang sama, pada 26 September 2019.

iklan

Dalam sebuah artikel tanggapan yang lumayan panjang berjudul “Logos, Ledalogos, dan Ledalodima”, Emil “hantam” lagi dua mahasiswa didikannya di atas pada 8 Oktober 2019.

Kali ini, karena alasan teknis, lokus perdebatan dipindahkan ke media Ekorantt.com.

Sampai berita ini diturunkan, artikel Emil didebat lagi oleh Toni Mbukut melalui artikel berjudul “Yesus Kristus, Sang Sabda yang Menjelma” di media yang sama pada 10 Oktober 2019.

Karena perdebatan antara dosen dan mahasiswa di kampus-kampus di Indonesia pada umumnya dan di Flores pada khususnya melalui media koran sangat jarang terjadi, maka Ekora NTT berinisiatif meminta pendapat beberapa pihak terkait perdebatan antara dosen dan mahasiswa STFK Ledalero di atas.   

Perbedaan sebagai Hal yang Lumrah

Ketua STFK Ledalero Pater Dr. Otto Gusti Nd. Madung

Ketua STFK Ledalero Pater Otto Gusti Nd. Madung, SVD saat dihubungi Ekora NTT, Selasa (8/10) malam berpendapat, perbedaan pendapat adalah fenomen yang lumrah dalam sebuah masyarakat demokratis.

Perbedaan itu konsekuensi logis dari pengakuan akan dua ciri kodrati manusia, yakni kebebasan dan kesetaraan.

Menurut Pater Otto,bukti bahwa manusia bebas ialah dia berpikir otonom.

Sementara itu, kesetaraan terungkap dalam peluang yang sama bagi setiap orang dalam mengartikulasikan pandangannya.

“Itu pada tataran masyarakat umum. Dalam dunia akademik, kebebasan tentu mendapat ruang lebih luas lagi. Tanpa kebebasan akademik, tak ada perkembangan ilmu pengetahuan,” katanya.

Lebih jauh, demikian Pater Otto, dalam ilmu pengetahuan, tidak dikenal dogma atau jawaban final.

Setiap pandangan atau teori tertentu dapat saja dilihat dan dikritik dari sisi lain.

“Dan ilmu pengetahuan hidup dan berkembang lewat proses dialektis seperti itu. Metode yang dipakai untuk mencari kebenaran ilmiah adalah perdebatan atau diskursus, entah yg berlangsung dalam seminar seminar ilmiah, simposium, tulisan di jurnal ilmiah, atau juga koran,” katanya.

Menurut Pater Otto, perdebatan ide yang ditampilkan oleh Emilianus Yakob Sese Tolo dan mahasiswa STFK Ledalero adalah bagian dari jalan mencari kebenaran.

Dengan demikian, masyarakat juga boleh menikmati apa yang diperbincangkan di scientific community atau komunitas ilmiah.

“Pesan pedagogisnya, dosen boleh digugat oleh mahasiswa secara publik. Dengan itu, budaya demokratis yang egalitarian mulai memecah kebekuan feodalisme patriarki yang masih mewarnai dunia pendidikan kita. Tentu, diharapkan perdebatan itu didasarkan pada kemauan untuk mencari kebenaran dan belajar satu dari yang lain,” pungkas dosen filsafat politik yang sedang studi di Australia ini.

Fenomena Baru yang Mesti Dirawat

Calon Pastor Katolik Rio Nanto, SVD

Ketua SEMA STFK Ledalero Frater Rio Nanto, SVD saat dihubungi Ekora NTT, Rabu (9/10) berpendapat, perdebatan antara dosen dan mahasiswa STFK Ledalero tentang marxisme di koran merupakan suatu fenomena baru yang perlu dirawat dalam sistem pendidikan di STFK Ledalero.

Setiap dosen dan mahasiswa ditantang berpikir kritis dalam menyikapi sebuah persoalan.

“Sebagai intelektual progresif, dosen dan mahasiswa idealnya selalu belajar dan tetap terbuka dengan aneka kritikan. Tentunya entah dosen atau mahasiswa yang terlibat dalam polemik intelektual itu diharapkan untuk memfokuskan perdebatan pada substansi persoalan dan bukan pada karakter Penulis,” kata calon imam Katolik ini.

Soal Marxisme, Rio Nanto mendukung gagasan Emil bahwa Marxisme menjadi suatu kemendesakan dalam proses perkuliahan di STFK Ledalero.

Menurut dia, Marx dalam perspektif filosofis memang gagal membuktikan gagasan bernasnya.

Akan tetapi, sebagai sosiolog, dia membantu kita menganalisis situasi sosial dan bersikap kritis terhadap pelbagai ketimpangan ekonomi yang diproduksi oleh sistem ekonomi yang tidak adil.

Membongkar Habitus Intelektual

Calon Pastor Katolik Anno Susabun

Mahasiswa STFK Ledalero Semester VII Anno Susabun berpendapat, perdebatan antara dosen dan mahasiswa STFK Ledalero di koran pertama-tama adalah upaya membongkar habitus intelektual di Indonesia dan di Flores, khususnya di Ledalero, yang selama ini lelap dalam glorifikasi terhadap intelektual dan Penulis, taken for granted terhadap gagasan tanpa sikap kritis.

Selain itu, menurut Anno, perdebatan ini menjadi upaya membangun tradisi intelektual yang baru, yaitu dialektika pengetahuan kritis.

Menurut dia, tradisi baru ini mengonfirmasi hakikat filsafat sebagai keterbukaan terhadap seluruh realitas, terbuka terhadap pluralitas ide dan gagasan tanpa perlu alergi terhadap kritik.

“Kampus akhirnya memiliki warna ilmiah, lepas dari era pra-ilmiah yang mendewakan kebenaran tunggal (dalam diri dosen). Hal ini penting di tengah maraknya cerita tentang absolutisme kebenaran dosen di kampus-kampus. Kita akhirnya sadar bahwa siapa saja boleh mengusung kebenaran yang dianutnya tanpa merasa takut pada rezim kepastian yang diturunkan dari atas (dosen),” terang Anno.

“Trend” Positif dan Persoalan yang Jauh Lebih Akut  

Doni Koli

Sementara itu, Doni Koli, Mahasiswa sekaligus Ketua Lembaga Pers Mahasiswa STFK Ledalero, merespons perdebatan di atas dalam sebuah tanggapan yang lumayan panjang sebagai berikut.

Pertama, beda pendapat soal Marxisme atau dialektika Marxis dalam perdebatan di antara dosen dan mahasiswa STFK Ledalero kembali mendudukan keberadaannya sebagai aeropagus bagi bersemainya diskursus, dialektika, dan antagonisme.

Filsafat sebagai sebuah pencarian akan kebijaksanaan selalu menuntut manusia untuk senantiasa berpikir dan tidak terjebak dalam doxa dan kepatuhan prudensial atas hukum dan otoritas (dalam konteks ini dogma, pemimpin, dosen, atau mahasiswa/i senior).

Pertarungan gagasan yang juga dikertaskan di media online tersebut juga menjadi semacam pemakluman bahwa STFK Ledalero juga terbuka terhadap pendapat dan penilaian publik.

“Selain itu, yang jauh lebih penting menurut saya adalah bahwa polemik dosen-mahasiswa seputar Marxisme adalah pemantik bagi usaha-usaha kontinual pembelajaran literatur ekonomi-politik Marxis secara proporsional dan terbuka di STFK Ledalero yang perlu kita akui, masih jauh panggang dari api. Dalam konteks yang pertama ini, saya boleh menyebut bahwa gelombang demokratisasi sesungguhnya sedang dihidupi di STFK Ledalero,” kata dia.

Kedua, tanpa menganggap remeh trend positif di atas, beda pendapat soal Marxisme sebenarnya sedang menggiring kita menuju lingkup persoalan yang jauh lebih akut.

Pada level ini, Doni menyebutnya sebagai wilayah objektif, polemik dosen-mahasiswa soal Marxisme sedang mendudukkan kendala-kendala tertentu.

Doni menyebut kendala-kendala itu kronis dan parah dengan beberapa argumen berikut.

Pertama, adanya kesenjangan atau gap pemahaman yang cukup besar terkait dialektika Marxis atau pengetahuan ekonomi politik politik Marxis.

Menurut pembacaan Doni, perdebatan tripolar di antara Emilianus Yakob Sese Tolo (dosen STFK Ledalaero), Antonius Mbukut (mahasiswa pasca-sarjana STFK Ledalero), dan Elton Wada (mahasiswa STFK Ledalero) sebagai dialektika berwatak hierarkis, di mana subjek-subjek yang terlibat di dalamnya mengakomodasi tingkat pemahaman serta akumulasi pengetahuan yang berbeda-beda.

Di satu sisi, demikian Doni, kita membaca tulisan Emilianus Yakob Sese Tolo, seorang intelektual yang secara serius menekuni literatur Marxis dan proliferasinya.

Emil juga pernah dibimbing oleh pakar-pakar ekonomi politik Marxis dan memiliki partner diskusi yang banyak melahap bacaan-bacaan seputar ekonomi politik Marxis.

Tak hanya itu, kecakapan teoretis Emil ini juga didukung oleh keterlibatannya dalam pelbagai jenis penelitian sosial berwawasan ekonomi politik.

Hal ini dibuktikan lewat beberapa riset sosialnya yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia Timur.

Demikian, reputasi intelektual Emil seputar ekonomi politik Marxis bisa dibilang sangat mendalam.

Di sisi lain, lanjut Doni, kita juga berhadapan dengan tulisan Toni dan Elton, dua mahasiswa STFK Ledalero yang secara terbuka menanggapi tulisan Emil, dosennya.

Tanpa meremeh-temehkan keduanya, Doni cukup yakin bahwa dapur epistemologi keduanya atau juga saya dan banyak mahasiswa STFK Ledalero lainnya tentang ekonomi politik Marxis belum terlampau berisi.

Patut diakui bahwa resources tentang Marxisme di Ledalero masih dipelajari secara fragmentaris oleh mahasiswa/i STFK Ledalero.

Para mahasiswa/i masih secara sporadis menjumpai bacaan-bacaan Marxisme yang tersebar secara acak di beberapa diktat kuliah, prasaran diskusi, atau seminar.

Sebagian lainnya mungkin mempelajari buku-buku Marx secara otodidak tanpa pendampingan yang baik dari dosen atau pakar Marxis.

Doni berpendapat, bahaya dari perdebatan atau dialektika berwatak hierarkis seperti ini adalah terformulasinya momentum dialektika penuh simulakrum, domestikatif, dan bahkan anti-diskursus.

Simulakrum, demikian Doni menjelaskan, merujuk pada sebuah konteks pemahaman Marxisme yang mengawang, hyperrealitas, asal-asalan, sempit, dan secara inhheren sedang membunuh ruh dialektis Marxisme yang progresif dan selaras zaman.

Domestikatif merujuk pada mekanisme penjinakan terhadapan dialektika atau antagonisme di mana mahasiswa beranggapan bahwa dosen (Emil) adalah patron atau ahlidalam pembicaraan seputar Marxis.

Sebagai akibatnya, ada anggapan yang muncul bahwa ekonomi politik Marxis adalah kecakapan Emil semata-mata yang muskil dimiliki mahasiswa.

Anti-diskursus merujuk pada mekanisme pemaksaan konsensus dan apatisme dialogis yang mana perdebatan itu secara tidak langsung menciptakan deadlock atau kematian sebuah diskursus.

“Sejauh penelusuran saya, tentu tanpa menggeneralisasi, banyak mahasiswa STFK yang menyanjung reputasi intelektual Emil dan menyimpulkan bahwa tulisan tanggapan atas tanggapan Emilianus Yakob Sese Tolo (baca Logos, Ledalogos, dan Ledalodima) atas Toni dan Elton sebagai pertanggungjawaban ilmiah seorang intelektual yang sudah lengkap, matang, final, dan tidak terbuka untuk diperdebatkan lagi,” terang Doni. 

Menurut Doni, kendala-kendala di atas secara genealogis sebenarnya tak bisa dibenturkan hanya pada minimnya pengetahuan mahasiswa tentang Marxis.

Di STFK Ledalero, kendala-kendala objektif itu juga berkelindan erat dengan minusnya perhatian lembaga ini untuk membumikan literatur ekonomi-politik Marxis (dialektika, ekonomi-politik, proliferasinya dalam bentuk Neomarxis, post-marxis dan kritik atasnya) secara proporsional dan terbuka.

Hal ini umpamanya dapat dirujuk lewat beberapa indikator seperti kurangnya atau bahkan tidak adanya mata kuliah, dosen, dan pakar yang secara khusus mewadahi pembelajaran Marxisme di STFK Ledalero.

“Selain itu, STFK Ledalero hingga kini setahu saya, belum sempat mengutus alumninya untuk mempelajari Marxisme,” sentil Doni.

Dengan demikian, menurut Doni, akibatnya, Marxisme dipelajari secara setengah-setengah, fragmentaris, dan terbebaskan dari pandu atau skope yang jelas.

Bahaya dari model pembelajaran seperti ini adalah bahwa mahasiswa dapat menerima dan memahami Marxisme secara sempit, ortodoks, dan syarat akan prasangka negatif.

Marxisme kemudian berpeluang untuk direduksi ke dalam kerangkeng ortodoksi dengan bumbu-bumbu teror seperti ilmu yang mengajarkan revolusi berdarah-berdarah, anti pancasilais, anarkis, frontal, anti kitab suci, dan sebagainya.  

Dalam konteks yang lebih luas, demikian Doni, di mana kita menyaksikkan gelombang kapitalisme dan anak kandungnya neoliberalisme banyak menguasai hajat hidup manusia, kendala-kendala objektif di atas sebenarnya turut berkontribusi bagi lenyapnya pertarungan ideologi atau narasi konfliktual sebagaimana diramalkan penganut paham liberal konservatif, Francis Fukuyama.

“Di sini, alih-alih memproposalkan perlawanan, kampus, hemat saya, dapat menjadi tempat strategis bagi mekanisme ontologisasi kapitalisme,” tegas Doni.

Akhirnya, Doni berpendapat, STFK Ledalero adalah lembaga yang mendidik calon-calon imam dan awam yang diharapkan mampu membawa pembebasan dengan mewartakan dan memperjuangkan kebenaran-kebenaran hakiki.

Sebab, menyitir Aquinas, manusia hanya akan menjadi bebas karena kebenaran.

Demikian, di tengah multitude krisis ekonomi politik yang dapat kita saksikan secara gamblang di depan mata kita lewat kasus-kasus seperti korupsi, akumulasi kepemilikan tanah pada institusi atau pihak tertentu, besaran angka stunting, dan kemiskinan, kita tentu membutuhkan sebuah kerangka acuan dan perangkat analisis sosial yang dapat membantu kita untuk menangkap kendala-kendala objektif secara lebih tepat.

Dalam konteks ini, lanjut Doni, pendekatan ekonomi politik Marxis dapat didialogkan untuk melengkapi pendekatan legal formal, identetarian, atau moral religius yang selama ini banyak dipakai di STFK Ledalero.

Menurut Doni, di STFK Ledalero, hal ini dapat dicapai pertama-tama dengan memurnikan pemahaman yang cenderung reduktif terhadap Marxisme.

Usaha ini kemudian dilanjutkan dengan keterbukaan STFK Ledalero untuk mengirim alumninya untuk mempelajari Marxisme secara khusus, membuka mata kuliah bertema Marxisme, menggalakkan penelitian sosial interdisipliner yang juga memakai pendekatan ekonomi politik Marxis.

TERKINI
BACA JUGA