Para pelajar di Tuanio, pikul 5 liter air setiap hari ke sekolah. Foto: Belmin Radho/Ekorantt.com.

Pagomogo, Ekorantt.com – Puluhan pelajar Sekolah Dasar Inpres (SDI) Tuanio, Desa Pagomogo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo terpaksa membawa jerigen air bersih lima liter ke sekolahnya setiap hari. 

Hal itu terpaksa dilakukan puluhan siswa sekolah dasar tersebut lantaran sekolah mereka tidak mempunyai jaringan air bersih.

Kepada awak media, Sabtu (12/10/2019)  Maria Nasrin Ayu, siswa kelas IV Sekolah Dasar Inpres (SDI) Tuanio menceritakan, ia harus menempuh perjalanan dari rumah ke sekolah setiap hari dengan berjalan kaki. Jarak yang ia tempuh kurang lebih 5 km. Tiap hari ia harus berjalan  sambil memikul 1 jerigen air bersih.

Ayu bercerita, setiap pagi ia harus bangun jam 04.00 WITA untuk mengambil air dari sumber mata air. Sumber mata air terletak jauh dari rumah.

Tak hanya itu, ia dan kawan-kawan  harus memikul satu jerigen air lima liter setiap hari dari rumah ke sekolah untuk kebutuhan kamar WC. Sisa air yang mereka bawa dipakai untuk menyiram bunga. 

Perjalanan dari rumah ke sekolah mereka tempuh dalam waktu satu jam. Itu dilakukan sambil terus membawa jerigen air 5 liter.

“Setiap hari saya harus jalan dari rumah ke sekolah, sekitar 5 km. Semua itu saya lakukan dengan senang hati. Semua demi cita-cita saya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Maria Maksima Alsin Tay siswa kelas IV. Menurutnya, setiap hari ia harus menempuh jarak 3 km menuju sekolah sambil membawa jerigen air berukuran 5 liter.

“Kondisi ini sudah biasa untuk kami kakak. Yang paling penting kami bisa sekolah,” katanya ketika diwawancarai.

Ia berharap pemerintah Kabupaten Nagekeo bisa memperhatikan kondisi desa tersebut, sehingga ke depan tidak ada lagi krisis air bersih di desanya.

Kepala Sekolah SDI Tuanio Ferdinandus Koba menjelaskan kepada para wartawan, sumber air minum yang ada di Tuanio saat ini merupakan kubangan dari resapan Air Kali Tuanio. Untuk bisa mendapatkan air bersih, masyarakat harus berjalan kaki dengan jarak kurang lebih 20 km dari desa tersebut.

Desa tersebut juga tidak mempunyai  sarana air bersih seperti pipa maupun bak penampung.

Betriks Bunga warga RT. 013, desa Pagomogo mengatakan, untuk bisa mendapatkan air bersih, ia dan warga lainya harus bersaing dengan puluhan ternak yang di desa tersebut.

“Masyarakat harus antri untuk mendapatkan air bersih, menunggu berjam-jam.  Itu pun kami juga harus berebutan air dengan binatang kecil sampe besar yang berkeliaran,” ujarnya.

Belmin Radho

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here