Emilianus Yakob Sese Tolo

Tentang “Logos”

Soal logos, Elton mulai mengutip sumber-sumber asing dalam bahasa Inggris untuk menjustifikasi hoax-nya.

Bagi pembaca yang otaknya tak terlatih mudah percaya terhadap hoax, mereka akan mudah terkesima pada apa yang ditulis seorang sarjana, apalagi sarjana bersangkutan, seperti Elton, merujuk pada sumber berbahasa asing, seperti bahasa Inggris, yang menyilaukan mata pembaca.

Namun, bagi pembaca yang otaknya sudah terlatih, apapun hoax yang ingin ditebarkan Elton tidak mempan membuat mereka tercengang.

Namun, sebelum menguliti hoax Elton dalam merujuk sumber-sumber asing berkaitan dengan logos, mungkin saya, sekali lagi, perlu meluruskan logika formal yang cacat cukup fatal karena terus direproduksi di hampir semua tulisannya sejak di Flores Pos hingga di Ekora NTT.

Dalam tulisannya, Elton menulis demikian: “[b]enar, walau harus diakui logos itu berasal dari Yunani.”

Pernyataan ini sesat.

Logos bisa berasal dari beberapa sumber, jika mengikuti James P.  Werner (2006), yang dikutip Elton sendiri dalam tulisannya, tergantung pada mazhab pemikiran mana yang ada dalam sejarah yang dikutip James P. Werner dari dictionary.com.

Jadi, logos bisa berasal dari sumber tertentu, bergantung pada Mazhab pemikiran tertentu pula; hanya saja kata logos itu berasal dari Yunani.

Lagi-lagi, Elton masih tersesat dalam logika formal yang paling elementer, suatu kekurangan yang harusnya tidak boleh dilakukan oleh mahasiswa sarjana muda Filsafat tingkat akhir.

Setelah melucuti kecatatan Elton dalam menggunakan logika formal dalam kaitan dengan penjelasan tentang logos, saya ingin menunjukkan bagaimana Elton memanipulasi teks bahasa Inggris yang dibacanya.

Dalam tulisannya, Elton menulis demikian: “[m]enurut James P. Werner, logos is defined in a number off different ways. Ia bisa berarti kata, ucapan, pikiran, akal budi, kebenaran, pengetahuan, kebijaksanaan dan sebagainya.”

Tentang kutipan ini, Elton pertama-tama memperkosa teks itu dengan melakukan kesalahan pengutipan.

Kutipan yang benar adalah “logos is defined in a number of ways,” bukan “logos is defined in a number off ways.”

Elton secara kreatif menambah satu “f” pada kata “of” dengan sewenang-wenang yang bisa memberi makna lain atau tak ada makna sama sekali dalam tulisan itu.

Selain itu, Elton menggunting kutipan itu sesuka hati agar sesuai dengan keinginannya agar cocok dengan kalimat yang ditulisnya dengan semena-mena yang mengikutinya setelah kutipan itu.

Jika Elton jujur, harusnya Elton mengutip secara jujur dengan menulis lengkap kalimat yang ditulis James P. Werner demikian: “logos is defined in a number of ways, depending on which school of thought it stems from.”

Setelah kalimat ini, James P. Wener mengutip dictionary.com yang menegaskan bahwa that in pre-Socratic philosophy, it was the principle governing human reasoning about the cosmos. It has also been described as the topics of rational argument or the arguments themselves. In Judaism the logos pertains to divine wisdom, and in Christianity too the word of God is it self captured in translation through human reason. In the Stoic sense of the word it is the source of all activity and generation and is the power of reason residing in the human soul. When we question the logos of phenomenology, are we asking if phenomenology can construct a definitive wisdom, as religions suggest they have done? Or are we suggesting that logos and reason are synonymous and reason is inherent within the human soul as in the Stoic definition? Taking all this into consideration, Logos seems to be a form of understanding that is presentable within the confines of human reason. Yet the definitions also suggest that the nature of the logos always escapes a definitive human rationale”(Dalam kutipan ini, kata dan frase yang di-bold dilakukan oleh saya).

Berdasarkan kutipan ini, logos tidak semena-mena langsung berarti juga kata dan ucapan seperti yang ditulis Elton.

Kata atau ucapan, dalam konteks logos, terutama menurut Kristianitas, seperti sumber yang dirujuk Elton di sini hanya benar jika kata dan ucapan itu berasal dari Tuhan, bukan kata dan ucapan Elton yang lebih banyak menggandung hoax, misalnya.

Selain itu, Elton menulis, “[t]eologi Kristen menyebut divine wisdom of God untuk logos, Yesus.”

Namun, jika merujuk pada sumber yang dikutip James P. Wener, maka yang menyebut divine wisdom itu adalah tradisi Judaism, dan dalam Kristianistas disebut the word of God.

Ketidaktelitian membaca teks membuat Elton lebih cocok menjadi seorang pengarang yang menulis sesuka hati berdasarkan khayalannya, yang jauh dari teks yang dirujuk.

Jika demikian, maka, apa gunanya Elton membaca literatur?

Apakah hanya untuk sekedar memamerkan kepandaian semu?

Hanya Elton sendiri yang bisa menjawabnya dengan jujur, jika Elton mau melakukan itu di hadapan sidang pembaca.

Selain itu, Elton juga mengutip bukunya Ermanno Bencivenga yang berjudul Theories of the Logos (2017), khususnya di halaman satu buku itu.

Dalam tulisannya, dengan mengutip Ermanno Bencivenga, Elton menulis demikian “ketika ilmu berkembang dan semakin otonom, logos ini disebut sebagai diskursus.”

Dalam kutipan ini, Elton sama sekali gagal total memahami teks, yang adalah abstrak untuk buku Ermanno Bencivenga, yang saya yakin Elton hanya membaca abstrak buku ini di halaman satu, bukan isi dari semua buku itu.

Sialnya, hanya membaca abstrak yang hanya beberapa kalimat, Elton masih tersesat, sebuah kekurangan sangat besar bagi seorang yang hampir menyelesaikan sarjana Filsafat.

Saya tunjukan abstract itu secara keseluruhan sebagai berikut: “[l]ogic is typically characterized as a (or the) theory of inference; but that characterization is a biased and restrictive one. Once we understand a logic, instead, as a theory of the logos-that is, of meaningful discourse: of what makes discourse the vehicle of meaning- we open up a field of possible ways of reasoning and arguing that do not reduce to inference. It is within this field that the present book moves.”

Dalam abstrak ini, Ermanno Bencivenga, sama sekali tidak menjelaskan seperti yang ditulis Elton: “ketika ilmu berkembang dan semakin otonom, logos ini disebut sebagai diskursus.”

Sebaliknya, Ermanno Bencivenga ingin memberikan tawaran penjelasan yang baru soal logika yang sejauh ini hanya sebatas teori tentang pengambilan kesimpulan.

Karena tidak puas dengan logika yang demikian, Ermanno Bencivenga ingin memahami logika sebagai teori tentang logos, yakni teori tentang diskurus yang berarti (meaningful), yang membuat diskursus sebagai kendaraan makna.

Jadi, yang dijelaskan oleh Ermanno Bencivenga yang dikutip Elton di halaman satu bukunya itu adalah tentang logika sebagai teori tentang logos, bukan logos yang disebut sebagai diskursus seperti yang ditulis Elton dalam tulisannya.

Namun, saya harus amini bahwa kemampuan Elton membaca masih sangat lemah, bukan saja untuk sumber-sumber dalam bahasa Inggris.

Membaca tulisan saya saja dalam perdebatan ini, Elton banyak kali tidak memahami apa yang saya tulis, lalu mengambil kesimpulan seenak perutnya sendiri dan kadang-kadang kesimpulan yang dibuatnya adalah yang telah disimpulkan oleh saya dalam tulisan-tulisan saya yang didebatnya.

Oleh karena itu, berdebat dengan Elton jadinya seperti berdebat dengan seorang yang kurang waras otaknya, yang tidak bisa memosisikan dirinya secara terang benderang dan konsisten dalam sebuah perdebatan.

Akhirnya, perdebatan itu menjadi debat kusir yang tidak produktif dan membuang-buang waktu saja.

Selanjutnya, menurut Elton, setelah membaca berbagai literatur yang ada tentang logos, Elton menyimpulkan demikian: “logos yang saya pahami adalah logos yang menyatukan Filsafat dan Teologi, ilmu-ilmu lain, dan juga Marxisme.”

Logos jenis ini berasal dari Mazhab pemikiran mana?

Jika lagi-lagi merujuk pada apa yang dikutip Elton, dari tulisan James P. Wener, maka saya tidak menemukan kesinambungan.

Selain itu, kesimpulan Elton ini diletakkan dalam sejarah pemikiran tentang logos seperti apa?

Sebagai seorang akademik, Elton tidak bisa serta merta menarik kesimpulan dari khayalan, sebab Elton tidak sedang menulis puisi.

Elton menulis tentang logos, yang sudah diperdebatkan secara ilmiah dalam sejarah pemikiran.

Elton tidak asal datang dengan kesimpulan yang semena-mena seperti seorang yang menulis sebuah puisi picisan.

Tentang Plekhanov

Ketika membaca bukunya Georgi Plekhanov, Elton membaca versi terjemahan yang berjudul “Masalah-Masalah Dasar Marxisme”(2007).

Tulisan ini bisa diakses secara bebas dan gratis di sini.

Dari sana, Elton dengan sangat percaya diri mengambil kesimpulan-kesimpulan yang membabi buta seolah-olah sudah membaca seluruh karyanya Plekhanov, sebuah kesombongan intektual yang dangkal.

Namun, kesimpulan ini tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada Elton karena dia membaca sebuah karya terjemahan yang dilakukan oleh Ira Iramanto, yang adalah nama samaran dari Oey Hay Djoen, teman akrabnya Njoto, salah satu pemimpin PKI.

Orang-orang seperti Oey Hay Djoen mungkin memandang Marxisme sebagai dogma.

Oey Hay Djoen hanya belajar secara formal sampai umur 15 tahun, dan setelahnya dia belajar secara otodidak dan mengikuti beberapa kursus tentang Marxisme.

Di umur 25 tahun, Oey Hay Djoen pernah menjadi anggota DPRI dari PKI yang kala itu menempati urutan 4 dengan dukungan politik 16,4 persen dari masyarakat Indonesia.

Beliau jugalah yang dikirim ke Pulau Buru bersama Pramoedya Ananta Toer dan dipenjara 14 tahun di bawah Orde Baru.

Dengan latar belakang seperti ini, Oey Hay Djoe memiliki kemungkinan besar untuk melebih-lebihkan dalam terjemahannya untuk teks-teks Marxis yang diyakininya sebagai ideologi.

Hal inilah yang tidak disadari oleh Elton, yang cenderung congkak dalam menulis.

Dengan mengutip karya terjemahan itu, Elton menulis demikian: “Emil sepertinya mengamini Plekhanov dalam bukunya “Masalah-Masalah Dasar Marxisme”(2007), yang mengatakan bahwa “Marxisme adalah suatu pandangan dunia yang lengkap dan menyeluruh.””

Saya tentunya kaget jika seorang Marxis sekelas Georgi Plekhanov menulis kesimpulan demikian brutal yang bertentangan dengan logika dialektika materialis Marxis.

Saya akhirnya mencoba memeriksa sumber dalam bahasa Inggrisnya, yang berjudul Fundamental Problems of Marxism, yang ditulis pada tahun 1907 dan diterbitkan pertama kali dalam bentuk pamphlet di tahun 1908. Di Fundamental Problems of Marxism ditulis demikian: “Marxism is an integral world-outlook.”

Berdasarkan versi Inggris ini, Plekhanov tidak sama sekali menyatakan Marxisme adalah pandangan dunia yang lengkap dan menyeluruh.

Menurut saya, kata integral tidak bisa dibahasaIndonesiakan dalam dua kata, yakni lengkap dan menyeluruh, seperti yang diterjemahkan oleh  Oey Hay Djoen.

Kata integral, sebagai ditunjukkan oleh Oxford Learner’s Dictioneries, memiliki kurang lebih tiga arti, yakni (1) being an essential part of something, (2) included as part of something, rather than supplied separately, dan (3) having all the parts that are necessary for something to be complete.

Dengan demikian, kata integral merupakan sebuah homonim karena kata ini memiliki penulisan dan pengejaan yang sama tetapi memiliki multi arti. Bagi penerjemah yang melihat Marxisme sebagai dogma akan dengan mudah menggunakan arti yang paling menguntungkannya.

Sedangkan bagi yang membenci Marxisme, seperti Elton, akan dengan mudah menggunakannya untuk menuduh Marxisme sebagai orthodoksi yang kaku dan angkuh.

Padahal, menurut pembacaan saya terhadap ilmu Marxisme, Marxisme adalah ilmu yang terbuka sebagai konsekwensi atas logika dialektika materialis Marxis yang menjadi dasar utama dari Marxisme itu sendiri.

Dengan demikian, menurut saya, kata integral harus tetap dipertahankan dan, karena itu, tidak perlu harus diganti dengan dua kata –lengkap dan menyeluruh– yang bisa ditafsir bisa ditafsir secara keliru, apalagi jika penulis yang menafisir itu tidak menulis kalimat setelahnya, seperti yang dilakukan Elton.

Karena itu, menurut saya, kalimat dimaksud, dapat diterjemahkan “Marxisme adalah pandangang dunia yang integral.” Kata integral di sini tidak berarti lengkap dan menyeluruh. Apalagi, jika pembaca membaca kalimat selanjutnya, yakni kalimat yang langsung mengikuti kalimat yang dikutip Elton itu, Plekhanov ingin menjelaskan secara ringkas pernyataannya di kalimat pertama dalam bukunya itu dengan menulis demikian: “Expressed in a nutshell, it is contemporary materialism, at present the highest stage in the development of that view upon the world whose foundations were laid down in ancient Greece by Democritus, and in part by the Ionian thinkers who preceded that philosopher.”

Jadi, dalam kalimat ini, Plekhanov secara sadar menandaskan bahwa materialisme kontemporer ini, yakni Marxisme, pada saat ini, yakni pada saat Plekhanov menulis tulisan itu, merupakan periode tertinggi  dalam pekembangan pandangan tentang dunia yang dasar-dasarnya sudah diletakkan pada masa Yunani Kuno seperti Demokritus dan para Ionian thinkers (pemikir dari Ionia).

Karena Marxisme mencapai periode tertinggi pada masa di mana Plekhanov menulis buku ini di tahun 1907, tidak berarti bahwa Marxisme akan mencapai puncak tertinggi selama-lama-nya (abadi) dalam kaitannya dengan pandangannya tentang dunia, seperti yang dipahami Elton. Logika dialektika materialis Marxis, seperti yang telah saya singgung dalam tulisan saya terdahulu, menegaskan tidak ada sesuatu pun di bumi ini yang abadi, sebab semuanya selalu ada dalam proses perubahan, baik secara gradual dalam hukum evolusi maupun secara revolusioner seperti yang diyakini oleh logika dialektika. 

Dalam keseluruhan buku itu, karena memiliki keinginan untuk menentang para penantang yang mengklaim Marxisme tidak memiliki Filsafatnya sendiri, Plekhanov memberikan porsi penjelasan yang besar soal landasan Filsafat materialis Marxis yang diadopsi dari Feuerbach dan dikembangkan lebih jauh oleh Marx.

Selain itu, dalam buku yang dibaca Elton itu, saya tidak menemukan pernyataan Plekhanov yang menegaskan Marxisme adalah yang paling benar dari seluruh ilmu di bumi ini. Dengan demikian, tidak benar bila Elton, menuduh bahwa Plekhanov mengklaim bahwa Marxisme adalah yang paling benar dari seluruh ilmu yang ada di bumi ini.

Dengan demikian, sekali lagi, menurut saya, terjemahan itu harusnya menjadi demikian: “Marxisme adalah suatu padangan dunia yang integral.”

Terjemahan ini lebih masuk akal.

Sebab, Integral dan paling lengkap-menyeluruh berbeda maknanya.

Kata integral, karena itu, diterjemahkan dengan dua kata –lengkap dan menyeluruh– adalah sebuah terjemahan yang berlebihan dan mengaburkan makna asali dari teks itu.

Namun, lagi-lagi tentang terjemahan itu bukan kesalahan Elton.

Jadi, tidak perlu terlalu mempersalahkannya atas kesalahan orang lain, yang dikutip Elton.

Namun, sebagai seorang intelektual, Elton tetap dipersalahkan karena tidak sadar akan konteks.

Yang menjadi kesalahan penuh Elton adalah ketidaksadarannya atas perkembangan sejarah pemikiran Marxisme itu sendiri dalam pembahasannya tentang buku Plekhanov yang dibacanya.

Dengan ketidaksadaran itu, Elton menulis demikian: “Bagi para pembaca yang teliti, dalam buku itu, Plekhanov membela Marx secara habis-habisan atas kritik yang dituduhkan kepadanya, tetapi nama para anggota Mazhab Frankfurt itu tidak disebutkan sama sekali namanya. Tak ada kritik dari Plekhanov bagi mereka secara terang-benderang. Demikian pun ketika mengkritik saya, Emil tidak memunculkan nama-nama itu. Pertanyaan saya, apakah Emil sudah membaca Teori Kritis para pemikir ini?”

Apa yang ditulis Elton ini adalah sebuah pameran keterbatasan intelektualnya sendiri, jika tak pantas disebut sebagai pameran kebodohan.

Mengapa saya mencap Elton demikian?

Saya akan tunjukkan satu demi satu.

Plekhanov adalah seorang pemikir Marxis Rusia yang lahir pada 29 November 1856 dan meninggal pada 30 May 1918.

Akan tetapi,Mazhab Frankfurt yang dituduh tidak dibaca atau disinggung Plekhanov sama sekali dalam buku yang dibaca Elton baru lahir di tahun 1930.

Jadi, 12 tahun setelah Plekhanov meninggal, karya-karya Mazhab Frankfurt yang “dipaksa” Elton mesti dibaca Plekhanov baru dimulai, dan tentu pada permulaan ini mereka belum menulis banyak hal.

Jurgen Habermas, salah satu yang berpengaruh dalam Mazhab Frankfurt belum bisa membaca dan menulis dan hanya sibuk menyusu pada ibunya, sebab dia lahir di 18 Juni 1929. 

Elton mungkin pernah membaca buku novel Eka Kurniawan (2004), Cantik Itu Luka, yang di dalamnya tertuliskan tentang kisah seorang ibu yang bangkit dari kuburannya setelah 21 tahun kematiannya.

Seperti perempuan tua di novel Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan (2004), Elton berharap atau bermimpi agar Plekhanov bangkit dari kuburannya setelah 12 tahun kematiannya untuk membaca karya-karya awal Mazhab Frankfurt yang baru berdiri tahun 1930.

Tuduhan Elton terhadap Plekhanov adalah sebuah tunduhan yang konyol dan semena-mena, tanpa dasar, dan hanya datang dari sebuah khayalan murahan.

Lalu, Elton menyinggung dan serentak meremehkan, mengapa saya tidak membahas Mazhab Frankfurt sama sekali dalam tulisan saya?

Saya tidak ingin memberikan kuliah tambahan untuk Elton –yang memiliki kecongkakan intelektual yang barbar– di tulisan ini soal Mazhab Frankfurt.

Apalagi, saya bukanlah sebuah “perpustakaan” untuk seorang Elton, yang dalam tulisannya kelihatannya sudah mengetahui segala hal di dunia ini hanya dari kemampuannya menghayal.

Sebaiknya, saran saya, Elton berhenti menulis dari khayalan saja dan mulai menulis dari apa yang dibaca.

Jika Elton ingin mengetahui alasan mengapa saya tidak menyinggung Mazhab Frankfurt dalam tulisan saya, saya sarankan untuk mulai sekarang bacalah tulisan-tulisan dari Mazhab yang dimaksud dan pasti akan mengetahui mengapa Emil tidak mengutip sedikit pun soal Mazhab Frankfurt dalam tulisannya dalam penjelasannya tentang logika dialektika materialis Marxis secara khusus dan Marxisme secara umum.

Sejatinya, saya ingin memperpanjang komentar saya terhadap beberapa kekeliruan Elton yang lain.

Namun, karena tulisan ini sudah terlalu panjang, saya cukupkan sampai di sini saja.

Apalagi, saya yakin, semua yang saya tulis di sini pasti akan dibantah oleh Elton dengan logika yang dia ciptakan sendiri dari dunia khayalannya.

Oleh karena itu, tulisan ini mungkin akan bermanfaat bagi pembaca yang lain, tetapi bukan bagi Elton, yang watak dan karakter intelektualnya sudah cukup saya pahami dengan membaca dua tulisannya terdahulu di Flores Pos dan Ekora NTT.

Kata Akhir

Tulisan ini menjadi jawaban terakhir saya atas Elton dan Toni dalam perdebatan ini.

Pada titik ini, saya harus mengapresiasi mereka berdua. Saya sangat senang dan bangga atas kepercayaan diri Toni dan Elton.

Namun, sebuah debat ilmiah atau semi-ilmiah, sependek pengetahuan saya, yang mengandalkan kepercayaan diri semata tidaklah cukup.

Anda –para aktor yang terlibat dalam sebuah debat– juga harus menjadi pembaca yang baik dan serius.

Pembaca yang baik adalah pembaca yang tidak seenak perut memanipulasi tulisan lawan debat dan juga tulisan-tulisan orang lain yang dikutip, apalagi sumber dalam bahasa asing yang tidak dengan mudah diverifikasi oleh pembaca Indonesia dan Flores yang masih miskin.

Pembaca serius adalah pembaca yang selain rajin membaca juga secara kritis dan teliti menulis dan meringkas apa yang dibaca agar tidak semena-mena menafsir sebuah bacaan.

Jika orang lebih mengandalkan kepercayaan diri dalam sebuah debat ilmiah dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) seperti yang dilakukan Elton, maka yang diproduksi pasti hanyalah hoax, jauh dari kebenaran dan merugikan perkembangan ilmu pengetahuan yang ingin dibangun dalam debat itu sendiri.

Daripada perkembangan ilmu pengetahuan dipenuhi oleh hoax-nya Toni dan Elton, saya ingin menarik diri dari perdebatan ini.

Jika Toni dan Elton ingin melanjutkan perdebatan ini, itu  menjadi hak mereka berdua.

Saya tidak melarang mereka berdua melakukan itu.

Namun, saya pastikan, saya tidak akan membaca lagi balasan dari tulisan-tulisan mereka itu.

Sebab, setelah membaca tulisan-tulisan mereka yang dipenuhi hoax dan demagogi, saya lebih memilih untuk menepikan diri untuk membaca karya-karya yang lebih berbobot dan jujur.

Meskipun demikian, menurut saya, dalam perdebatan ini, tidak ada yang kalah dan yang menang.

Jika pun ada yang menang, maka pemenang itu adalah Toni dan Elton.

Keberanian dan kepercayaan diri mereka –walau kerap disusup dan disisip hoax– patut diberi apresiasi dan sekaligus memenangi mereka, menurut pandangan saya, dalam perdebatan ini.

Setelah ini, saya tetap menjadi orang yang biasa-biasa saja, yang masih banyak kekurangan dalam banyak hal, termasuk dalam hal menulis, penguasaan ilmu dan teori.

Dengan demikian, tidak menutup ruang kemungkinan bahwa saya –satu saat– akan (terus) belajar dan berguru dari Elton dan Toni serta semua civitas academica STFK Ledalero di tengah kesibukan saya sebagai pembelajar yang masih banyak kekurangan.

*Pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here