Para pemuda kampanyekan wisata berdampak di Pantai Koka-Maumere

Maumere, Ekorantt.com –Eugenia Sartini, Emanuel Samora, Andrian Petrio, dan Yulius Richard. Kempatnya adalah pemuda Maumere. Mereka terpanggil untuk berkreasi dan menyebarluaskan aksi wisata berdampak.

Begini mulanya, sebagai mahasiswi manajemen perhotelan yang sedang magang di salah satu hotel di Maumere, Sarti bertugas mengantarkan tamu hotel ke berbagai destinasi wisata di Kabupaten Sikka. Tentu ingatannya tertuju pada indahnya Pantai Koka, sebuah bentang pantai di Wolowiro, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka.

Sayang sekali sebagai obyek wisata yang digadang-gadang sebagai destinasi andalan di Kabupaten Sikka, kondisi Pantai Koka masih jauh dari harapan.

Menurut pantauan Sarti, banyak sampah plastik kemasan makanan yang dibuang begitu saja, seperti botol air mineral, kemasan biskuit, permen, dan lainnya.  Tidak hanya itu, fasilitas pembuangan sampah juga tidak terlihat di lokasi wisata. Rata-rata sampah ditumpuk di dekat pohon kemudian dibakar.

Melihat pemandangan tak elok ini, Sarti mengajak ketiga temannya untuk bersama memikirkan cara menyelamatkan Koka dari timbunan sampah.

Mereka sepakat untuk mengajak lebih banyak anak muda terlibat dalam aksi wisata berdampak itu. Terkumpul 30 anak muda yang mayoritas mahasiswa di Maumere. Mereka juga secara mandiri mengumpulkan dana dari uang saku mereka untuk membeli alat dan perlengkapan seperti plastik sampah berukuran besar, papan, cat, dan kuas.

Sehabis berwisata, mereka bersama membersihkan sampah di sepanjang Pantai Koka. Alhasil 11 plastik terisi sampah sampah peninggalan wisatawan. Mereka juga membuat himbauan untuk menjaga kebersihan dengan tulisan kreatif.

Sarti sangat menyayangkan kesadaran masyarakat yang sangat minim soal kebersihan lingkungan. Kesadaran yang kecil itu memastikan inisiatif untuk peduli terhadap masalah lingkungan yang sangat dekat dengan kita.

Banyak wisatawan luar daerah datang untuk menikmati indahnya bentang Pantai Selatan Flores ini. Sebagai tujuan wisata, Pantai Koka mesti mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Sarti meminta Pemkab Sikka untuk tidak setengah hati soal Sikka menyelesaikan masalah sampah. Seringkali sumber sampah plastik berasal dari pertemuan dan kegiatan yang dilakukan di lingkungan pemerintah. Tentu ini sangat berbanding terbalik dengan impian besar Sikka bebas sampah.

Seharusnya, tandas Sarti, pemerintah harus menjadi role model. Masyarakat juga perlu sadar bahwa lingkungan yang bersih bukan untuk siapa-siapa, untuk kita sendiri.

Sarti dan teman-teman sadar bahwa kegiatannya ini mungkin tak berarti apa-apa. Tapi ada harapan bahwa memberantas sampah harus menjadi kesadaran bersama.

Aty Kartikawati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here