Maria Deti (ke tujuh dari kiri) berpose bersama Nur Laily dan peserta didik Madrasah Aliyah Muhammadiyah Nangahure

Maumere, Ekorantt.com – Maria Deti, 33 tahun, satu-satunya guru beragama Katolik yang mengajar di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Nangahure, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka. Sejak November 2010, Ibu Deti, begitu ia disapa, mengabdikan diri di sekolah yang 100 persen peserta didiknya beragama Islam.

Guru Bahasa Indonesia ini memberi warna tersendiri di tengah anak-anak yang menimba ilmu di Madrasah. Ibu dua anak ini juga memberikan pemahaman secara langsung tentang arti perbedaan kepada anak Madrasah sedini mungkin.

Ditemui Ekora NTT di Madrasah Nangahure saat merayakan Hari Guru Nasional Senin 25 November 2019, Ibu Deti didampingi ibu Nur Laily mengungkapkan, jatuh cintanya kepada sekolah Madrasah berawal dari kegiatan PPL saat masa kuliah dulu.

“Ketika saya PPL di Madrasah ada sesuatu yang sungguh menarik yang saya tidak dapatkan di tempat lain. Saya jujur mengatakan di lembaga pendidikan MTs dan MA ini ada cinta,” ujar jebolan FKIP Universitas Muhammadiyah Kupang tahun 2010 ini.

Baik para peserta didik dan guru tidak melihatnya dari sisi perbedaan agama. Mereka menerimanya sepenuh hati. Ini yang membuat Ibu Deti memilih lembaga pendidikan Islam ini sebagai ladang kerjanya hingga sekarang.

Keinginan kuat untuk mengabdi di lembaga ini terjawab ketika selesai kuliah, ia ditawari kepala sekolah untuk mengajar Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Nangahure.

“Saya terima dengan hati berbunga-bunga,” kenangnya.

Pada saat PPL anak-anak sudah tertarik dengan cara mengajarnya. “Saya tidak pernah canggung untuk beradaptasi dengan kultur dan budaya sekolah,” ujarnya.

Bukti keakraban dan kedekatan dengan peserta didik, kata Deti, secara sederhana dibuktikan melalui hidup saling kunjung. Baik Ibu Deti maupun peserta didik berusaha mengenal satu sama lain dalam komunikasi yang akrab.

“Mereka selalu mengunjungi keluarga saya di Urun Pigang. Hajatan apa saja mereka selalu undang dan saya hadir. Demikian hajatan dari guru dan peserta didik juga saya tidak pernah absen,” katanya.

Guru Matematika Madrasah  Aliyah Muhammadiyah Nangahure, Nur Laily mengatakan, Ibu Deti adalah sosok guru yang luar biasa, mampu bergaul dalam perbedaan. Nuansa persaudaraan menjadi hal yang ia rasakan selama menjadi sahabat Ibu Deti.

“Alhamdulilah kami berkumpul, bergaul dan saling menyayangi. Jatuh bangun selalu bersama-sama,” ujarnya.

“Hal luar biasa yang dimiliki adalah pelatih tarian Hegong. Peserta didik banyak yang menari Hegong bahkan ikut lomba karena sekolah ini memiliki pelatih andal yakni Bu Deti,” tutup Ibu Nur yang juga pelatih Drumband di sekolah yang berada di bibir pantai utara Flores ini.

Yuven Fernandez

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here