Menggali Makna Teologis Kenduri Kematian di Manggarai, Flores

Maumere, Ekorantt.com – Pesta Kenduri kematian di wilayah Kabupaten Manggarai, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, masih dipraktikkan secara populer oleh warga masyarakat yang sudah menganut agama Kristen Katolik.

Pesta ini hampir dilakukan setiap tahun seiring dengan adanya anggota keluarga yang meninggal. Otoritas Gereja Katolik tampaknya tidak melarang umat Katolik untuk melakukan upacara pesta kenduri kematian ini.

Pada saat yang sama, Gereja Katolik juga tidak merestuinya secara resmi. Kalau ditanya tentang hakikat dari upacara ini, otoritas Agama Kristen Katolik seperti pastor atau uskup pasti akan kelabakan dalam menguraikannya dan sulit untuk mempertanggungjawabkannya secara memadai.

Sebab utamanya adalah karena Gereja Katolik sendiri belum meneliti kandungan nilai religius dari pesta upacara kenduri kematian ini.

Dr. Aleks Jebadu, SVD menyampaikan hal ini dalam seminar publik bertema “Menggali Makna Teologis Pesta Kenduri Kematian di Manggarai dan Flores Umumnya” di Ruang Yosep Suban, Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Kamis, 5 Desember 2019.

iklan

Di awal seminar, Pater Aleks menguraikan, sekurang-kurangnya, tiga tujuan penting penelitian ini adalah pertama, mendokumentasikan fakta masalah pastoral yang berkaitan dengan kesemarakan pesta upacara kenduri kematian yang cenderung ditunda untuk dilakukan pada liburan panas bulan Juni-Juli setiap tahun, kedua, mendokumentasikan data tentang kesulitan pastoral Gereja dalam melayani Pesta Kenduri Kematian dan ketiga, menggali dan mendokumentasikan makna teologis dari Pesta Upacara Kenduri Kematian seturut kepercayaan agama asli orang Manggarai.

Data di dalam penelitian ini diambil dengan mendatangi tiga wilayah yang dipilih khusus sebagai lokasi penelitian yaitu Paroki Gereja Kristen Katolik Rego di Kecamatan Macang Pacar, Paroki Gereja Kristen Katolik Wajur di Kecamatan Kuwus, dan Paroki Gereja Kristen Katolik Golowelu di Kecamatan Ndoso. Peneliti menghadiri, mengamati, dan berpartisipasi dalam beberapa upacara pesta kenduri kematian di tiga wilayah penelitian yang telah dipilih ini.

Untuk memperoleh informasi, peneliti juga mewawancarai beberapa informan kunci di masing-masing wilayah yang telah ditentukan ini,  membuat diskusi mendalam dengan beberapa orang yang dipilih secara khusus (Focussed Group Discussion, FGD), dan mewawancarai pastor paroki di tiap paroki tentang suka-duka mereka dalam melayani perayaan misa kudus dalam rangka upacara Pesta Kenduri Kematian di paroki mereka masing-masing.

Sumber data terakhir diperoleh melalui pengisian kuesioner oleh warga masyarakat untuk mengetahui seluk-beluk pesta upacara kenduri secara keseluruhan. Pengumpulan data melalui kuisioner ini dibantu oleh tiga orang mahasiswa STFK Ledalero.

Untuk menyukseskan penelitian, tiga orang mahasiswa memfasilitasi pengisian kuesioner penelitian oleh warga masyarakat di setiap paroki yang telah dipilih sebagai lokasi penelitian.

Makna Teologis Upacara Kenduri Kematian

Menurut Pater Aleks, upacara kenduri kematian masih dipraktikkan oleh hampir semua suku di NTT. Akan tetapi, tidak seperti yang dilakukan oleh warga suku Manggarai, praktik upacara kenduri kematian di kalangan suku-suku lain di NTT tampaknya kurang semarak.

Selain itu, ada sejumlah suku di NTT yang mengaku sudah tidak mempraktikkannya lagi dan sebagai gantinya mereka mempersembahkan apa yang disebut Perayaan Misa Kudus  40 Malam oleh Gereja Kristen Katolik bagi keselamatan arwah dari orang yang barusan meninggal.

Lebih lanjut, khusus di wilayah Manggarai, Penulis buku Bukan Berhala: Penghormatan kepada para Leluhur” ini menguraikan bahwa Pesta Kenduri kematian pada dasarnya dibuat sepanjang tahun, beberapa hari setelah hari penguburan dari seorang anggota keluarga yang meninggal. Pesta ini persis dibuat setelah masa jaga malam atau masa berkabung selesai, yang dalam bahasa setempat disebut taung wie d’ata mata atau mete wela mata.

Lamanya masa antara hari sejak penguburan dari seorang anggota keluarga yang meninggal ini dan pesta kenduri kematiannya bervariasi dari satu wilayah ke wilayah yang lain di Manggarai.

Masa jaga malam orang Satar Mese di Manggarai bagian selatan, misalnya, berlangsung selama 3 malam, yaitu sebuah jangka waktu yang didasarkan pada kepercayaan akan lamanya masa peralihan dari hari kelahiran seseorang hingga ia diterima dan dihitung sebagai anggota penuh komunitas suku, yaitu ceki telu.

Ceki secara harafiah berarti jiwa atau bisa juga manusia seutuhanya yang terdiri atas jiwa dan badan, sedangkan telu berarti tiga. Orang Manggarai bagian selatan yang menganut kepercayaan masa peralihan hidup manusia selama tiga hari dan tiga malam sejak kelahiran ini menyebutnya dalam bahasa setempat dengan istilah ceki telu dan karena itu pesta kenduri kematiannya juga dibuat pada hari ketiga.

Suku Manggarai yang lain, misalnya orang Ngalo di Kecamatan Kuwus, masa jaga malam berlangsung selama 5 hari. Hal ini didasarkan atas kepercayaan mereka bahwa masa peralihan hidup seorang manusia sejak lahir hingga ia diterima secara penuh menjadi anggota keluarga suku yang hidup di dunia berlangsung selama lima hari (ceki lima) dan karena itu pesta kenduri kematian untuk setiap anggota suku yang meningggal dunia juga harus dibuat pada hari kelima yang dihitung sejak hari penguburannya.

Sedangkan suku Manggarai yang lain lagi, seperti orang Rego di Kecamatan Macang Pacar atau Orang Pacar di Kecaman Pacar, masa jaga malam ini berlangsung selama 8 hari yang didasarkan atas kepercayaan bahwa masa peralihan hidup seorang manusia sejak lahir hingga ia diterima secara penuh menjadi anggoa keluarga suku yang hidup di dunia berlangsung selama 8 hari (ceki alo) dan karena itu pesta kenduri kematian dari setiap anggota keluarga yang meninggal  juga dibuat pada hari kedelapan yang dihitung sejak hari penguburan dari anggota keluarga yang meninggal.

Kalau pada hari ketiga untuk ceki telu, pada kelima untuk ceki lima atau pada hari kedelapan itu untuk ceki alo, keluarga yang menyelenggarakan pesta kenduri kematian bagi anggota anggota keluarga mereka yang meninggal belum siap baik secara mental maupun secara material, maka pesta kenduri kematian bisa ditunda selama jangka waktu tertentu.

Penundaan itu dibuatkan dalam satu upacara pada hari ketiga, kelima atau kedelapan yang disebut upacara saung ta’a. Lalu, pesta kenduri kematian ini bisa ditunda satu tahun, lima tahun atau bahkan lebih. Alasan penundaan bisa bermacam-macam dan beberapa alasan yang cukup dominan adalah sebagai berikut.

Pertama, pembayaran belis, atau paca dalam bahasa setempat, yang belum lunas. Kalau pesta kenduri kematian itu dibuat untuk seorang bapak yang sudah berkeluarga dan ia belum melunasi secara 100% belis dari istrinya, maka pesta kenduri kematiannya juga merupakan kesempatan bagi wife givers atau anak rona dalam bahasa setempat untuk menuntut pelunasan belis dari istri almarhum.

Pelunasan belis ini dibuat oleh anak-anak dan sanak keluarga dari pria dewasa yang sudah meninggal pada saat pesta kenduri kematian dari sang bapak yang meninggal. Pelunasan belis ata paca pada kesempatan upacara kenduri kematian ini disebut dalam adat-istiadat setempat di Manggarai sebagai paca mata yang artinya belis yang dipaksa lunas atau dibayar seadanya pada saat orang bersangkutan meninggal dunia dan umumnya dibereskan pada upacara kenduri kematian.

Pelunasan ini bertujuaan agar keberangkatan jiwa dari dia yang meninggal ke alam baka tidak dirintangi oleh beban utang selama hidup di dunia termasuk hutang belis. 

Kedua, ketaksiapan secara material dan finansial. Pesta kenduri kematian cukup mahal secara ekonomis. Selain harus melunaskan belis – kalau belis dari seorang almarhumah atau belis istri dari almarmum belum dibayar lunas – keluarga yang mengadakan pesta kenduri kematian mengeluarkan biaya cukup besar.

Selain karena dua alasan dominan di atas, Alumnus Doktoral Universitas Urbaniana Roma-Italia di bidang Misiologi ini menambahkan bahwa pesta kenduri kematian di Manggarai, di wilayah Paroki Rego misalnya, cenderung ditunda karena alasan kenyamanan waktu dan musim.

Akhir-akhir ini, orang Manggarai berkecenderungan untuk mengadakan pesta kenduri kematian, yang telah ditunda itu, pada musim liburan panas bulan Juni-Juli. Alasannya jelas. Pada saat ini, cuaca baik dan umumnya tak ada hujan. Kesibukan kerja di ladang sebagai petani telah selesai yang ditandai musim panen padi sawah pada bulan April atau Mei.

Selain itu, semua anak sekolah dan sanak keluarga lain yang sekolah atau tinggal jauh di kota bisa pulang kampung untuk menghadiri pesta kenduri kematian karena mereka sedang libur sekolah atau libur kerja. Namun, hal ini menimbulkan masalah tersendiri.

Dalam bagian refleksi teologis, Dosen Misiologi di STFK ini menguraikan bahwa upacara pesta kenduri kematian berkaitan erat dengan pandangan manusia tentang kematian badan dan kepercayaan akan hidup baru sesudah kematian badan.

Menurut agama asli orang Manggarai dan suku-suku lain di Flores maupun di dunia pada umumnya, manusia terdiri atas badan dan jiwa. Selama manusia masih hidup di dunia, badan dan jiwa begitu menyatu sehingga sulit dibedakan atau diidentifikasi mana badan dan mana jiwa.

Karena kesatuan badan dan jiwa begitu erat, maka antropologi Kristen mendefinisikan manusia sebagai jiwa yang membadan atau jiwa yang dibadani (embodied spirit) atau badan yang menjiwa atau badan yang dijiwai (enspirited body). Hanya kematian yang memisahkan jiwa dari badan. Pada saat kematian, badan akan mati dan membusuk, tetapi jiwa akan hidup terus.

Sebelum berangkat dan tinggal di alam baka, yakni tempat kediaman roh para leluhur menurut agama asli masyarakat tradisional atau di surga menurut kepercayaan agama-agama besar seperti Agama Kristen, Agama Islam, Agama Hindu dan Agama Buddha, roh orang meninggal masih tinggal selama beberapa waktu (lazim dikenal dengan banyak gambaran seperti masa perkabungan atau masa jaga malam) dengan sanak keluarganya yang masih hidup di dunia dan dihitung sebagai anggota keluarga orang-orang yang masih hidup di dunia.

Setelah itu, roh orang meninggal perlahan-lahan meninggalkan dunia orang hidup dan pergi ke alam baka. Pada saat itulah, sanak-saudaranya yang masih hidup di dunia melepaskan dia dan mengucapkan selamat jalan kepadanya. Upacara pelepasan roh orang meninggal untuk berangkat secara definitif ke alam baka ini yang kemudian disebut upacara Pesta Kenduri kematian.

Tanggapan Mahasiswa

Di akhir seminar, Fr, Iwan Agung, SVD merasa bangga dan berterima kasih kepada Pater Aleks yang telah melakukan penelitian tentang makna teologis upacara kenduri kematian di Flores dan Manggarai pada khususnya. Menurut dia, sebagai mahasiswa yang belajar teologi dengan pendekatan sosial, penelitian relasi antara agama dan simbol kultural adalah suatu keniscayaan.  

Bahwasanya, agama dan budaya adalah dua entitas yang berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan seperti kedua sisi koin mata uang. Budaya mengandung nilai spiritualitas dan agama membutuhkan budaya sebagai ruang aktualisasi.

Lebih lanjut, Calon Misionaris Argentina Timur ini menambahkan bahwa setiap upacara budaya perlu digali dan dilihat makna teologisnya sehingga memungkinkan inkulturasi agama dan budaya dalam pelayanan pastoral.  

“Sebagai agen pastoral, studi komprehensif terhadap relasi agama dan budaya ini menambah wawasan pengetahuan budaya yang kemudian mencerahkan umat akan kekayaan teologis budaya yang dihidupi secara turun temurun. Kekayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun sesungguhnya memiliki kandungan nilai didaktis dan teologis yang mendalam dan tentunya memiliki keterkaitan dengan kebajikan nilai-nilai kristiani,” jelasnya.

Frater Gusti Hadun, Calon Imam Keuskupan Ruteng mengaku terinspirasi dengan penelitian ini.

“Menurut saya, seminar ini sangat membantu saya sebagai agen Pastoral. Bahwasanya budaya tradisional yang sudah lama dihidupi oleh masyarakat khususnya berkaitan dengan pesta kenduri masyarakat Manggarai memiliki nilai-nilai teologis. Saat ini, saya sedang belajar teologi kontekstual. Bahan seminar yang diperkaya melalui diskusi membuka horizon pemikiran saya akan kekayaan makna dan nilai teologis dari kebudayaan Manggarai yang diwariskan secara turun temurun,” jelasnya.

Berbeda dengan kedua mahasiswa di atas, Frater Pank Nudan, Mahasiswa Pasca Sarjana STFK Ledalero mengkritisi penjelasan Pater dalam penelitian tersebut. Menurutnya, Pater Aleks menyamakan upacara saung ta’a yang dilakukan dengan tiga atau lima hari setelah penguburan dengan upacara kenduri (kelas, dalam bahasa Manggarai).

“Di daerah Mano, Manggarai Timur, misalnya, upacara kelas dipahami sebagai upacara pelepasan secara resmi orang yang meninggal dengan orang-orang yang masih hidup. Ada doa-doa adat khusus (yang berisi pelepasan secara resmi orang yang telah meninggal. Dalam upacara kenduri itu, mereka mendoakan, menyerahkan atau menghantar arwah orang yang meninggal itu menuju pa’ang. Dan sampai di pa’ang arwah bersangkutan akan diterima oleh mereka yg sudah ada di dunia seberang (lee pa’ang be le/dunia kehidupan baru). Pa’ang itu seperti terminal, tempat antar jemput untuk orang yang sudah meninggal. Pa’ang be ini yang kemudian di kenal sebagai surga dalam perspektif kristiani,” jelasnya.

Pank Nudan menambahkan bahwa kalau mengikuti penjelasannya Pater Aleks, upacara kenduri itu dibuat pada hari ketiga (ceki telu), kelima (ceki lima), atau kedelapan (ceki alo), dan seterusnya. Kalau ada alasan khusus, kenduri bisa ditunda ke hari berikutnya, bulan berikut atau tahun berkutnya.

 “Sejauh yang saya tahu, upacara kelas berbeda dengan upacara saung ta’a. Hal ini bisa kita perhatikan melalui doa-doa dalam kedua upacara tersebut. Dalam upacara Saung ta’a, ada keyakinan bahwa orang yang telah meninggal masih ada di antara orang-orang yang masih hidup. Singkatnya, upacara saung ta’a berbeda dengan kenduri (kelas). Tetapi, saya berterima kasih kepada Pater Aleks yang telah membantu saya dan umat lain untuk menemukan makna teologis upacara kenduri. Di tengah kemiskinan penelitian budaya, kreativitas dan kerja keras Pater Aleks Jebadu patut diberi apresiasi tinggi. Saat ini, Pater Aleks adalah salah satu dosen yang rajin dan tekun melakukan penelitian sosial,” jelasnya.

Rio Nanto

TERKINI
BACA JUGA